Peristiwa Internasional

Israel "Mengusir" Lebih dari 1 Juta Warga Gaza dari Rafah

Sabtu, 10 Februari 2024 - 20:35 | 11.41k
Para pria berjalan di sepanjang jalan yang dilanda pemboman Israel di Rafah, Gaza, pada 9 Februari. (FOTO: CNN)
Para pria berjalan di sepanjang jalan yang dilanda pemboman Israel di Rafah, Gaza, pada 9 Februari. (FOTO: CNN)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah memerintahkan militernya bersiap mengevakuasi warga Gaza di Rafah yang jumlahnya jutaan orang menjelang serangan daratnya.

Amerika Serikat bersama kelompok bantuan dan pejabat PBB semakin khawatir soal serangan pasukan Israel ke kota paling selatan di wilayah kantong Palestina tersebut, tempat lebih dari satu juta orang yang selama ini berlindung dalam kondisi yang mengerikan.

Perdana Menteri Israel memerintahkan militernya untuk mengembangkan rencana, dalihnya adalah mengevakuasi warga sipil dari Rafah karena mereka sedang melawan Hamas.

Namun pengungkapannya belum berakhir, Sabtu pagi tadi Israel sudah membombardir Rafah, dan menyebabkan 28 warga sipil Palestina meninggal dunia.

Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan dia meminta militer merencanakan evakuasi ratusan ribu orang dari kota Gaza selatan menjelang invasi darat.

Sayangnya, Benjamin Netanyahu tidak memberikan rincian atau batas waktunya, namun pengumuman tersebut memicu kekhawatiran yang meluas. 

Lebih dari separuh dari 2,3 juta penduduk Gaza mengungsi ke Rafah, banyak di antaranya setelah berulang kali mengungsi atas perintah mengirimkan Israel yang kini mencakup dua pertiga wilayah Gaza. Tidak jelas ke mana mereka bisa lari selanjutnya.

Pada saat yang sama, utusan Palestina untuk PBB merekrut kemana lagi warga sipil akan dievakuasi, sementara semua tempat sudah dihancurkan.

Sekjen PBB, Antonio Guterres mengatakan, setengah dari 2,3 juta penduduk Gaza sekarang berjubel di Rafah tanpa mempunyai tempat tujuan, karena mereka sudah tidak punya rumah lagi, bahkan harapan pun tidak ada.

Kepala Inisiatif Nasional Palestina, Mustafa Barghouti mengatakan, setiap serangan terhadap Rafah tidak hanya menyebabkan kematian tetapi juga pembersihan etnis secara luas terhadap penduduk Gaza, yang merupakan bagian dari genosida.

Human Rights Watch telah memperingatkan, bahwa dampak dari keluarnya paksa warga Palestina di Gaza yang terlantar di Rafah akan membawa konsekuensi bencana, dan mereka menegaskan, bahwa militer Israel mempunyai tanggung jawab untuk melindungi warga sipil, baik mereka mengungsi atau tidak.

Warga Palestina, di kota selatan Rafah saat ini sedang menghadapi pertumpahan darah karena pasukan Israel bergerak masuk ke sana.

Warga Palestina mengungkapkan kesedihannya setelah diberitahu bahwa mereka harus meninggalkan kota Rafah di Gaza selatan.

Jihan al Hawajri dari Palestina berpikir, "Apa yang tersisa di sini? Ke mana harus pergi lagi."

Kantor media pemerintah yang dikelola Hamas pada hari Sabtu telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk segera bersidang menyusul ancaman dari Israel atas kemungkinan invasi ke Rafah, sebuah kota di selatan jalur Gaza dekat perbatasan Mesir.

"Kami mengirim pesan kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera bersidang guna mengkonfirmasi tekadnya untuk mewajibkan Israel menghentikan perang genosida yang dilakukan terhadap warga Palestina di Gaza," bunyi pernyataan itu.

Mereka juga diperingatkan akan terjadi “bencana dan perpisahan”, dan hal itu bisa menyebabkan puluhan ribu orang menjadi syahid dan terluka.

Menurut PBB, lebih dari 1,3 juta orang saat ini diyakini berada di Rafah, sebagian besar mereka adalah pengungsi dari wilayah lain di Gaza. Kota ini menjadibpusat populasi besar terakhir di Gaza yang tidak diduduki oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Namun Benjamin Netanyahu, Kamis lalu mengatakan bahwa IDF akan segera pergi ke Rafah, benteng terakhir Hamas. 

Kemudian pada hari Jumat, Baenjamin Netanyahu memerintahkan militernya untuk merencanakan “evakuasi penduduk” dari kota tersebut bersamaan dengan kekalahan Hamas, kata kantornya dalam sebuah pernyataan. 

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menambahkan bahwa tidak mungkin melenyapkan Hamas tetapi masih meninggalkan empat batalion Hamas di Rafah. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Widodo Irianto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES