Peristiwa Internasional

Perundingan Gencatan Senjata Israel dan Hamas di Mesir Tanpa Terobosan

Selasa, 05 Maret 2024 - 20:21 | 20.62k
Wakil Presiden AS, Kamala Harris saat berbicara di Jembatan Edmund Pettus dalam acara memperingati 59 tahun 'Minggu Berdarah' di Selma, Alabama. (FOTO: Mint)
Wakil Presiden AS, Kamala Harris saat berbicara di Jembatan Edmund Pettus dalam acara memperingati 59 tahun 'Minggu Berdarah' di Selma, Alabama. (FOTO: Mint)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Perundingan putaran terakhir di Kairo, Mesir sejak Minggu hingga Selasa (5/3/2024) hari ini soal gencatan senjata di Gaza buntu, karena berakhir tanpa konspirasi.

Dilaporkan Sky News, pihak Hamas telah bertemu dengan mediator di Kairo. Mediator itu terdiri dari AS, Mesir dan Qatar. Namun Israel tidak mengirimkan perwakilannya sejak awal, karena Hamas tidak menunjukkan daftar semua sandera yang masih hidup.

Pejabat senior Hamas Bassem Naim mengatakan, hal itu tidak mungkin terjadi tanpa gencatan senjata karena para sandera disebarkan di zona perang.

“Netanyahu tidak ingin mencapai kesepakatan dan keputusan yang sekarang ada di tangan Amerika,” ujarnya. 

AS sendiri mengatakan, perjanjian yang disetujui Israel sudah dibahas dan terserah pada Hamas untuk menerimanya. Namun Hamas membantahnya. 

Perundingan di Kairo menjadi rintangan terakhir untuk mencapai gencatan senjata selama 40 hari, ketidakseimbangan dengan puluhan sandera dibebaskan dan bantuan kemanusiaan diterima.

Dari AS, pemerintahan Joe Biden telah mendatangkan lebih banyak bantuan kemanusiaan untuk memasuki Gaza. Namun mereka juga menegaskan, akan terus membantu militer Israel.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller, Senin menegaskan kembali, bahwa pihaknya akan terus memberikan bantuan militer kepada Israel.

Joe Biden mengatakan, dia bertekad untuk terus mengadvokasi perjanjian gencatan senjata yang akan menjamin pelepasan tawanan Israel yang ditahan oleh Hamas dan pembentukan perjanjian gencatan senjata enam minggu untuk memungkinkan gelombang bantuan.

Pemerintahan Joe Biden mendapat kecaman keras karena dukungannya yang tak tergoyahkan terhadap Israel.

Pemerintahannya telah tiga kali memveto resolusi gencatan senjata di Dewan Keamanan PBB, sejak perang di Gaza dimulai.

AS memang memiliki sejarah panjang sebagai sekutu Israel. 

AS adalah negara pertama yang mengakui Israel sebagai negara berdaulat pada tahun 1948, dan telah lama melihatnya sebagai mitra strategis.

Mereka juga telah melakukan upaya signifikan untuk mewujudkan penyelesaian damai antara Palestina dan Israel.

Di sisi lain, Joe Biden memiliki hubungan yang sangat baik dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bahkan sebelum terjadinya perang tersebut.

SEBAGAI Frustasi Dengan Israel

Justru Wakil Presiden AS, Kamala Harris yang terus "berteriak" dengan keras kepada Israel, agar mengizinkan lebih banyak bantuan ke Gaza dan Hamas serta segera menyetujui perjanjian gencatan senjata selama enam minggu.

“Orang-orang di Gaza mengalami kelaparan, dan rasa kemanusiaan kita yang sama memaksa kita untuk mengambil tindakan,” tegasnya.

Inilah pernyataan yang sangat keras yang dilontarkan Wakil Presiden AS soal perang Israel-Hamas ini.

Pernyataan paling keras itu muncul menjelang pertemuan Kamala Harris dengan anggota kabinet perang Israel dan pemimpin oposisi, Benny Gantz di Washington.

Seperti dilansir Al Jazeera, Pembicaraan di Kairo antara Hamas dan pemerintah Israel merupakan perundingan resmi, sedangkan pertemuan antara Wakil Presiden AS Kamala Harris dengan anggota kabinet perang Israel Benny Gantz di Washington juga sama pentingnya namun menuju ke arah yang berbeda.

Pemerintahan AS merasa kecewa terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan ini terlihat dari pernyataan yang dibuat oleh Harris dimana ia menggunakan kata "gencatan senjata segera", yang mewakili posisi paling kritis yang diambil oleh pejabat AS.

Salah satu poin penting dalam perundingan di Mesir itu adalah, bahwa Hamas tersebar di banyak tempat berbeda, dan Hamas tidak bisa memberikan Israel daftar nama tawanan yang dimintanya.

Secara logistik, hal ini menjadi mimpi buruk, karena Hamas membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memastikan apakah para tawanan telah terbunuh atau masih hidup, karena beberapa di antaranya ditahan oleh kelompok lain termasuk Jihad Islam.

Tidak jelas apakah Hamas akan benar-benar mampu memberikan daftar sandera yang masih hidup seperti yang diminta Israel, dan perundingan hari ketiga di Mesir pun tanpa terobosan soal tuntutan gencatan senjata di Gaza. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES