Peristiwa Internasional

Shalat Idul Fitri 1445 H di Sydney Australia, Ini Pesan Penting dalam Khutbahnya

Jumat, 12 April 2024 - 12:38 | 22.79k
Komunitas Islam Indonesia di Australia menggelar shalat Idul Fitri 1445H (Foto: KJRI Sydney for TIMES Indonesia)
Komunitas Islam Indonesia di Australia menggelar shalat Idul Fitri 1445H (Foto: KJRI Sydney for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Centre for Islamic Dakwah and Eduction (CIDE) New South Wales Australia, didukung KJRI Sydney dan elemen komunitas Islam Indonesia menggelar shalat Idul Fitri 1445 H.

Shalat digelar di Diamond Venue, Punchbowl, pada hari Rabu (10/04/2024).

Bertindak sebagai Imam, Al Hafiz Ust Al Muzzakir Abdurrahman, Lc, sementara yang bertindak sebagai Khatib adalah Ust Dr Rahmawan Oktavianto, Lc, MA.

Hadir dalam shalat Id tersebut, berbagai organisasi komunitas Islam Indonesia, WNI serta 
masyarakat dan diaspora Indonesia yang bermukim di Sydney.

Shalat-Idul-Fitri-1445-H-di-Sydney-Australia-b.jpg

Hadir pula Vedi Kurnia Buana, Konsul Jenderal RI Sydney beserta keluarga dan jajaran staf KJRI serta Herman Rahman, Presiden CIDE, NSW. Tak kurang dari dua ribu jamaah hadir mengikut shalat Id kali ini.

Dalam sambutannya Konjen Vedi Kurnia Buana menyampaikan bahwa sesungguhnya makna Idul Fitri melampaui dari sekadar kembalinya diri kepada kebersihan spiritual, tapi menandai kemenangan besar yang diperoleh setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

Selama puasa Ramadan, umat Muslim menahan diri dari makan, minum dan aktivitas yang dilarang dari fajar hingga terbenamnya matahari. Karena itu perayaan Idul Fitri bukan hanya tentang kegembiraan, tetapi juga tentang refleksi mendalam akan perjalanan spiritual yang 
telah dilalui.

" Idul Fitri tidak hanya sebatas kemenangan dan kegembiraan, tapi sebuah refleksi 
mendalam perjalanan spritual," ujarnya.

Lebih jauh Vedi mengajak untuk menjadikan Idul Fitri sebagai sebuah momentum untuk  memperkuat tali persaudaraan, solidaritas dan kasih sayang sesama umat manusia.

"Perayaan tersebut tidak hanya diisi dengan doa-doa, shalat dan dzikir, tetapi juga dengan 
berbagi kebahagiaan dan keberkahan kepada yang membutuhkan. Hal ini direfleksikan dalam 
kewajiban zakat fitrah, zakat mal, infaq/shodaqoh dan silaturrahmi serta tolong-menolong, dan 
empati dalam Islam," lanjutnya.

Vedi juga menyampaikan rasa bangganya terhadap komunitas dan diaspora muslim Indonesia di Sydney.

"Saya turut berbangga dengan akhlak dan perilaku yang telah ditunjukkan oleh komunitas dan diaspora muslim Indonesia di Australia khususnya NSW. Semuanya telah memberikan citra dan warna tersendiri bagi komunitas lainnya. Dan ini tentunya dapat terus kita pupuk dalam menjalani kehidupan kita di tengah kehidupan multikultural di Australia," katanya.

Vedi juga memanfaatkan kesempatan tersebut menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri 1445 
H kepada seluruh jamaah dan masyarakat serta diaspora Indonesia.

Ust. Dr. Rahmawan Oktavianto, Lc, MA dalam khutbahnya menyampaikan bahwa kita 
diwajibkan berpuasa oleh Allah SWT dengan tujuan utamanya adalah menjadi manusia yang 
bertaqwa dengan sesungguhnya yaitu ketaqwaan yang tak hanya terlihat kasat mata, namun lebih dari yaitu ketaqwaan dari hati.

"Ketaqwaan yang sesungguhnya adalah ketaqwaan yang tidak hanya terlihat oleh mata, namun juga dari dalam hati dan bathin" ujar 
Ust. Rahmawan.

Lebih jauh Ust. Rahmawan menguraikan bahwa ketaqwaan haruslah dimiliki selama kita hidup di 
dunia. Namun pertanyaan selanjutnya, sudahkah kita berupaya untuk menjadi hamba yang 
taqwa dengan menjalankan perintah Allah dan mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi 
Muhammad SAW dan menjauhi setiap apa yang dilarang. Jika belum, maka jangan-jangan 
ibadah kita tidak diterima oleh Allah SWT.

Lalu, kalau dengan ibadah puasa kita tidak mampu menjadikan kita hamba yang bertaqwa, dengan ibadah apa lagi untuk membangun dan
meningkatkan ketaqwaan. Kalau taqwa itu belum juga melekat, maka jangan-jangan puasa 
kita tidak diterima oleh Allah SWT.

"Banyak orang berpuasa, namun tidak membekas sehingga taqwa tersebut belum dicapainya. 
Tanda-tanda ketidak taqwaan pada diri seseorang dapat terlihat dari lisan yang tidak benar 
(bohong dan dusta), munafik dan ingkar janji," kata Ust Rahmawan.

"Allah menghendaki kita bertaqwa tidaklah karena 
Allah bermaksud mengambil keuntungan dari kita, tapi semata mata karena Allah menyayangi 
kita, Allah ingin memberikan apa yang menjadi permintaan dan keinginan kita," imbuhnya.

Dalam penutup khutbahnya pada shalat Idul Fitri 1445 H di NSW Australia ini, Ust Rahmawan mengajak jamaah untuk dapat melakukan ibadah 
yang terus menerus, jangan menjauh dari komunitas yang seiman dan perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT agar kita diberi petunjuk dan jalan untuk tidak melanggar apa yang dilarang-Nya. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES