Peristiwa Internasional

Warga Lokal Protes Pemberlakuan Biaya Masuk ke Venice

Jumat, 26 April 2024 - 03:02 | 22.05k
Warga Venice berdemo seputar harga tiket masuk ke kota wisata tersebut. (FOTO: Marco Bertorello/AFP/Getty Images)
Warga Venice berdemo seputar harga tiket masuk ke kota wisata tersebut. (FOTO: Marco Bertorello/AFP/Getty Images)

TIMESINDONESIA, JAKARTAVenice, sebuah kota yang dihiasi oleh keajaiban arsitektur kuno dan keindahan lagunanya, kini terperangkap dalam kontroversi yang memuncak seiring dengan pemberlakuan biaya masuk bagi pengunjung harian.

Keputusan otoritas kota untuk menerapkan biaya masuk sebesar €5 yang merupakan pertama kalinya dalam sejarah kota tersebut telah memicu gelombang protes dan perdebatan yang panas di kalangan penduduk setempat dan pengunjung.

Di satu sisi, pemerintah kota berpendapat bahwa langkah tersebut sangat penting untuk melindungi warisan budaya Venice dari dampak pariwisata yang berlebihan. Dengan menjatuhkan biaya masuk, diharapkan jumlah pengunjung harian dapat dikendalikan.

Hal ini diharapkan dapat membantu memperbaiki keadaan kota yang semakin tidak terjangkau bagi penduduk lokal dan semakin terancam oleh efek negatif dari pariwisata massal.

Namun, di sisi lain, banyak penduduk dan kelompok masyarakat menentang keras langkah ini. Mereka menganggapnya sebagai upaya untuk mengkomersialisasi Venice, merubahnya dari sebuah kota heritage menjadi semacam "taman hiburan" yang lebih berfokus pada keuntungan finansial daripada memperhatikan kebutuhan dan keinginan penduduk asli.

"Hampir semua warga tidak setuju dengan keputusan ini. Anda tidak bisa memaksa turis membayar tiket untuk memasuki kota. Keputusan ini akan mengubah kota menjadi taman hiburan, dan hal tersebut akan memberikan kesan buruk terhadap kota wisata ini," ungkap Matteo Secchi, pengelola venesia.com, grup aktivist lokal seperti dilansir dari The Guardian.

Protes dan keluhan mereka menyoroti kekhawatiran akan konsekuensi yang lebih luas dari kebijakan ini, termasuk keberlanjutan lingkungan, keberadaan ekonomi lokal, dan identitas kultural Venice yang unik.

Sejumlah kritik terhadap kebijakan ini meliputi ketidakmampuan biaya masuk €5 untuk benar-benar mencegah gelombang turis harian. Terutama karena jumlah tersebut mungkin masih terjangkau bagi sebagian besar pengunjung.

Di samping itu, ada juga kekhawatiran bahwa langkah ini akan menghasilkan ketidakadilan bagi berbagai kategori pengunjung, dengan beberapa pihak menekankan bahwa hal tersebut dapat membatasi akses ke kota bagi wisatawan dengan anggaran terbatas.

Sementara itu, pendukung kebijakan tersebut berpendapat bahwa ini adalah langkah yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan Venice di tengah tekanan pariwisata yang semakin meningkat.

Mereka percaya bahwa biaya masuk dapat memberikan sumber pendapatan tambahan yang sangat dibutuhkan bagi kota, serta memberikan kesempatan untuk mengatur arus turis dengan lebih baik.

Di tengah perdebatan yang sengit ini, isu yang mendasar tetap menjadi pertanyaan utama: apakah Venice akan terus menjadi kota yang hidup dan bernafas, mempertahankan warisan budayanya yang kaya, atau akan berubah menjadi destinasi wisata yang lebih komersial dan diatur oleh aturan yang mementingkan keuntungan ekonomi semata?.

Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan ini, sambil menunggu, Venice terus berjuang untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara melindungi warisan sejarahnya dan memenuhi tuntutan pariwisata modern. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Khodijah Siti
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES