Peristiwa Internasional

Proposal Baru Israel, Pintu Gencatan Senjata di Gaza Terbuka Lagi

Senin, 29 April 2024 - 07:29 | 17.45k
Seorang pria mencium mayat seorang anak yang tewas dalam pemboman Israel semalaman di depan kamar mayat sebuah rumah sakit di Rafah di Jalur Gaza selatan pada 27 April 2024. (FOTO: Al Jazeera/AFP)
Seorang pria mencium mayat seorang anak yang tewas dalam pemboman Israel semalaman di depan kamar mayat sebuah rumah sakit di Rafah di Jalur Gaza selatan pada 27 April 2024. (FOTO: Al Jazeera/AFP)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Gencatan senjata mulai terbuka lagi antara Israel dan Hamas setelah masing-masing pihak berkonsentrasi dengan proposal baru yang dibuat Israel-Mesir.

Pejabat Hamas, Khalil al-Hayya menyatakan kelompoknya sedang mempelajari proposal tentang gencatan senjata baru Israel.

Namun hingga kini pasukan Israel masih saja melakukan penyerangan tanpa henti di Rafah, Gaza selatan dan telah membunuh sedikitnya tujuh warga Palestina dan total yang dibunuh 27 orang, 10 di antaranya adalah anak-anak.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas mengimbau AS untuk membantu menghentikan rencana invasi Israel ke Rafah, karena Israel menewaskan 66 orang dalam 24 jam terakhir. 

"Invasi Rafah akan menjadi bencana terbesar dalam sejarah rakyat Palestina,"  kata Abbas pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia di ibu kota Saudi, Riyadh.

Dalam sebuah video, bukti kehidupan yang dirilis oleh Hamas, Sabtu, seorang sandera Israel-Amerika, Kieth Siegel mendesak Netanyahu untuk lebih fleksibel dalam negosiasi untuk mencapai kesepakatan pertukaran segera.

Pemerintahan Israel, melalui Menteri Luar Negerinya,  Israel Katz mengatakan invasi Rafah akan ditangguhkan jika kesepakatan pertukaran tahanan itu tercapai.

Para pejabat Israel mengakui proposal baru tersebut untuk menanggapi beberapa tuntutan Hamas yang dirumuskan bersama antara delegasi intelijen Mesir dan tim perundingan Israel.

Dikutip dari TASS atas laporan TV Al-Qahera al-Ekhbariya, proposal mengenai penyelesaian yang diajukan pihak Mesir kepada gerakan radikal Palestina Hamas itu menyebut akan membebaskan 20 hingga 40 sandera yang ditahan oleh kelompok radikal di Jalur Gaza.

Menurut saluran TV tersebut, proposal tersebut, yang dikoordinasikan oleh Mesir dengan pihak Israel itu sebagai imbalan atas gencatan senjata di Gaza.

Sebuah sumber mengatakan kepada outlet berita tersebut, bahwa kesepakatan antara kelompok radikal Gaza dan pihak Israel kemungkinan besar akan tercapai dalam beberapa hari ke depan terlepas dari adanya amandemen tertentu.

Karena itu Israel mungkin menunda serangan terakhir di Gaza dengan imbalan sandera tersebut.

Israel Katz menawarkan penundaan serangan terhadap Rafah jika Hamas menyetujui kesepakatan mengenai tawanan Warga Palestina yang tinggal di kamp sementara di Rafah, Jalur Gaza selatan.

Hamas mengatakan pada akhir pekan bahwa mereka sedang mempelajari proposal baru Mesir dan Israel tersebut yang menurut laporan akan menghentikan pertempuran dan penarikan lebih lanjut pasukan Israel dari Gaza sebagai imbalan atas pembebasan dua hingga tiga lusin warga Israel yang ditangkap.

Israel sendiri telah memulai persiapan untuk evakuasi warga sipil di Rafah, kota paling selatan Gaza dan pusat populasi terakhir yang dikuasai Hamas, menjelang serangan yang diperkirakan akan terjadi dalam beberapa minggu, menurut seorang pejabat Israel. 

Namun seperti dikatakan Menteri Luar Negeri Israel, bahwa pemerintahnya akan setuju untuk menunda ancaman serangan ke Rafah, yang sekarang menjadi rumah bagi lebih dari 1 juta pengungsi Palestina, jika kesepakatan gencatan senjata untuk penyanderaan berhasil dicapai.

"Jika ada kesepakatan, kami akan menghentikan operasi tersebut," tegas Katz, dari partai berkuasa Likud, kepada Channel 12 Israel.

Namun sebagai tanda adanya hambatan politik dalam negeri menjelang kesepakatan apa pun, Katz menambahkan,  bahwa gencatan senjata apa pun tidak boleh merugikan tujuan perang Israel untuk melenyapkan Hamas baik sebagai kekuatan militer maupun pemerintahan di Gaza.

Operasi Rafah, menurut para pejabat dan analis Israel, sangat penting untuk mencapai kedua tujuan tersebut.

"Kami akan melakukan segala kemungkinan untuk memulangkan para sandera tanpa merugikan tujuan perang,"  tambah Katz dalam wawancara tersebut.

Negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas, yang dimediasi oleh AS, Qatar dan Mesir, telah terhenti selama berbulan-bulan karena kesenjangan mendasar antara kedua belah pihak.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu getol untuk melanjutkan kampanye sampai kemenangan total atas Hamas.

Dia juga menolak menyetujui diakhirinya perang sampai tujuan yang sulit dicapai itu tercapai, bahkan dengan mengorbankan para sandera, menurut para pemimpin oposisi dan keluarga warga Israel yang masih ditahan di Gaza.

Para pejabat Hamas telah berupaya untuk mengakhiri sepenuhnya pertempuran dan menarik militer Israel sepenuhnya dari daerah kantong pantai yang hancur tersebut.

Hamas masih menyandera 133 warga Israel sebagai satu-satunya alat tawar-menawar mereka, dimana setidaknya 35 di antaranya diyakini disandera oleh Hamas.

AS Khawatir, Israel Menyadari

Sementara itu pihak Gedung Putih menyatakan, Israel menyadari dan  mendengarkan kekhawatiran AS itu sebelum melancarkan invasi ke Rafah, tempat lebih dari 1,5 juta orang berlindung.

"Mereka (Israel) telah meyakinkan kami bahwa mereka tidak akan pergi ke Rafah sampai kami memiliki kesempatan untuk benar-benar berbagi perspektif dan keprihatinan kami dengan mereka, jadi kita akan lihat ke mana arahnya," kata Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih, John Kirby, dalam wawancara dengan ABC.

Hal ini terjadi setelah presiden Palestina mendesak Joe Biden untuk melakukan intervensi, dengan mengatakan bahwa ia memperkirakan Israel akan menyerang kota di selatan Palestina dalam beberapa hari mendatang.

Israel telah lama mengancam akan menyerang kota tersebut, satu-satunya wilayah Gaza yang belum menjadi tempat pengiriman pasukannya, sehingga menimbulkan tentangan keras dari sekutu Israel yang mengatakan hal itu akan menyebabkan ribuan korban sipil.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan empat brigade pejuang Hamas masih bersembunyi di sana dan harus diatasi.

Sebelumnya pada hari Minggu, kepala staf IDF dan kepala Komando Selatan menyetujui rencana pertempuran untuk kelanjutan perang. Ini menandakan bahwa mereka berencana untuk melanjutkan operasi darat di Rafah.

Abbas telah memperingatkan bahwa serangan terhadap kota tersebut akan menjadi bencana terbesar dalam sejarah rakyat Palestina.

Biden sebelumnya telah memperingatkan bahwa Israel tidak boleh memasuki Rafah tanpa rencana yang kredibel untuk melindungi warga sipil.

Terbaru masing-masing pihak, Hamas dan Israel kini mulai berkonsentrasi untuk mempelajari proposal yang dibuat antara Mesir dan Israel tentang gencatan senjata yang memungkinkan Israel menunda menyerang Rafah tempat jutaan warga Palestina mengungsi di sana. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES