Peristiwa Internasional

Israel Bakal Serang Rafah Meski Ada Kesepakatan Gencatan Senjata

Rabu, 01 Mei 2024 - 11:33 | 16.73k
Seorang wanita Palestina berjalan melewati puing-puing bangunan yang hancur di Rafah, Gaza selatan, pada hari Selasa. (FOTO: The Washington Post/AFP/Getty Images)
Seorang wanita Palestina berjalan melewati puing-puing bangunan yang hancur di Rafah, Gaza selatan, pada hari Selasa. (FOTO: The Washington Post/AFP/Getty Images)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bersumpah tetap akan melakukan penyerbuan ke Rafah di Gaza Selatan, meski nanti sudah ada kesepakatan gencatan senjata dan penyanderaan dicapai dengan Hamas.

Seperti diketahui, Rafah adalah tempat berkumpulnya sekitar 1,4  pengungsi warga Palestina di Gaza, sejak pecah perang Israel-Hamas, 7 Oktober 2023 lalu 

Benjamin Netanyahu menegaskan kembali posisi Israel, bahwa pasukannya akan melancarkan operasi militer di Rafah meski dunia menentang, bahkan terlepas dari apakah ada kesepakatan gencatan senjata dan penyanderaan dicapai dengan Hamas.

Pernyataannya itu diungkapkan ditengah optimisme baru, bahwa perundingan baru akan bisa menghentikan peperangan itu, dan negosiasi antara Israel dan Hamas itu tampaknya mulai membuahkan hasil.

Benjamin Netanyahu menegaskan ambisinya menyerang Rafah, beberapa jam sebelum Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken tiba di Israel untuk memajukan perundingan gencatan senjata, dan hal itu menjadi salah satu putaran negosiasi paling serius antara Israel dan Hamas sejak perang dimulai.

Kesepakatan yang dihadiri Antony Blinken itu dimaksudkan untuk membebaskan sandera, memberikan bantuan kepada masyarakat dan mencegah serangan Israel ke Rafah serta potensi kerugian bagi warga sipil di sana.

Namun Benjamin Netanyahu masih ngotot Israel akan memasuki Rafah, yang menurut Israel merupakan benteng terakhir Hamas.

Komentarnya itu kemungkinan untuk menenangkan mitra pemerintahannya yang nasionalis, namun tidak diketahui apakah komentarnya itu akan berpengaruh terhadap kesepakatan yang muncul dengan Hamas.

"Gagasan bahwa kita akan menghentikan perang sebelum mencapai semua tujuannya adalah mustahil," kata Netanyahu, menurut pernyataan dari kantornya.

"Kami akan memasuki Rafah dan melenyapkan batalion Hamas di sana, dengan atau tanpa kesepakatan, untuk mencapai kemenangan total," katanya berapi-api.

AS Menentang

AS telah berulang kali menyatakan menentang operasi Rafah sampai Israel memberikan rencana yang kredibel untuk mengevakuasi dan melindungi sekitar 1,4 juta orang yang mencari perlindungan di sana.

Blinken, berbicara di Yordania sebelum terbang ke Israel mengatakan “fokus” saat ini adalah memperbaiki situasi kemanusiaan dan mencapai kesepakatan gencatan senjata yang membawa pulang sandera Israel.

Dia mengatakan, Israel telah menawarkan “proposal yang kuat” dan meminta Hamas untuk menanggapinya.

"Tidak ada penundaan lagi. Tidak ada lagi alasan. Saatnya untuk bertindak sekarang. Kami ingin melihat perjanjian ini tercapai dalam beberapa hari mendatang," katanya.

Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan dari mitra pemerintahannya untuk tidak melanjutkan kesepakatan yang mungkin mencegah Israel menginvasi Rafah.

Pemerintahannya bisa terancam jika dia menyetujui kesepakatan tersebut karena anggota kabinet garis keras menuntut serangan terhadap Rafah.

Menurut kantor menteri, Benjamin Netanyahu bertemu pada hari Selasa dengan salah satu mitranya, Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, menurut kantor menteri.

Disebut-sebut Benjamin Netanyahu berjanji kepada Itamar Ben-Gvir, bahwa Israel akan memasuki Rafah.

Dengan lebih dari separuh dari 2,3 juta penduduk Gaza berlindung di Rafah , komunitas internasional, termasuk sekutu utama Israel, Amerika Serikat, telah memperingatkan Israel terhadap segala serangan yang membahayakan warga sipil.

Benjamin Netanyahu, Selasa kemarin  berpidato di Forum Tikva , sekelompok kecil keluarga sandera yang berbeda dari kelompok utama yang mewakili keluarga tawanan Israel.

Forum tersebut mengindikasikan bahwa mereka lebih suka melihat Hamas dihancurkan demi kebebasan orang-orang yang mereka cintai.

Sebagian besar keluarga dan pendukung mereka melakukan demonstrasi dalam jumlah ribuan setiap minggunya untuk mendukung kesepakatan yang akan memulangkan para sandera, dan mengatakan bahwa hal itu harus didahulukan daripada tindakan militer.

Koalisi Netanyahu terdiri dari partai-partai keagamaan ultranasionalis dan konservatif, dan para pengkritik pemimpin Israel tersebut mengatakan bahwa pengambilan keputusannya selama perang didorong oleh pertimbangan politik dan bukan kepentingan nasional, dan tuduhan itu dibantah oleh Benjamin Netanyahu.

Pemerintahannya bisa runtuh jika salah satu pihak yang menentang kesepakatan itu menarik diri, sebuah skenario yang ingin dihindari Benjamin Netanyahu mengingat dukungan terhadapnya telah anjlok dalam jajak pendapat sejak perang dimulai, meski terlihat sedikit peningkatan secara bertahap.

Pemusnahan Hamas

Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang memimpin partai ultranasionalis Religius Zionis mengatakan, pada hari Senin bahwa ia sedang mengupayakan "pemusnahan total" terhadap musuh-musuh Israel, yang mengarah pada Hamas.

Rekaman pidatonya itu disampaikan pada sebuah acara yang menandai berakhirnya hari raya Paskah yang disiarkan di media Israel. "Anda tidak bisa melakukan setengah pekerjaan," katanya.

Kesepakatan yang sedang dibahas saat ini, yang ditengahi oleh AS, Mesir dan Qatar akan mencakup pembebasan puluhan sandera dengan imbalan penghentian pertempuran selama enam minggu sebagai bagian dari fase awal, menurut seorang pejabat Mesir dan media Israel.

Ratusan tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel juga akan dibebaskan, termasuk beberapa yang menjalani hukuman jangka panjang.

Namun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan, pasukannya tetap akan menyerang kota Rafah di Gaza selatan, terlepas apakah gencatan senjata dengan Hamas atau tidak. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES