Peristiwa Internasional Info Haji 2024

Menag RI: Skema Murur di Muzdalifah Pertimbangkan Keamanan Jemaah

Senin, 10 Juni 2024 - 15:09 | 9.20k
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: MCH 2024 Kemenag RI)
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: MCH 2024 Kemenag RI)
FOKUS

Info Haji 2024

TIMESINDONESIA, MAKKAH – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menjelaskan bahwa penerapan skema murur saat mabit (menginap) di Muzdalifah dilakukan dengan pertimbangan yang matang dari aspek hukum fikih dan keamanan jemaah haji.

Skema murur, di mana jemaah haji Indonesia melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus, kemudian langsung menuju tenda di Mina, diambil untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan jemaah.

"Sudah ada beberapa pilihan skema murur. Karena memang kita tidak hanya boleh bicara sekadar bagaimana murur itu bisa dilaksanakan dengan mudah. Di situ, ada hukum fikih yang saya kira juga perlu didiskusikan," ujar Menag Yaqut di Jeddah, Minggu (9/6/2024).

"Tadi teman-teman sudah berdiskusi dengan Mustasyar Diny, tim para ulama, yang memberikan justifikasi secara hukum dan kesimpulannya diperbolehkan," sambungnya.

Skema murur ini mempertimbangkan banyak faktor, termasuk aspek hukum fikih yang telah didiskusikan dengan para ulama.

 "Skema murur ini menjadi ijtihad dan ikhtiar bersama dalam menjaga keselamatan jiwa jemaah haji Indonesia di tengah keterbatasan area di Muzdalifah," kata Gus Men, sapaan akrab Menag Yaqut. 

Teknis dan Persiapan Pelaksanaan Murur

Sejalan dengan itu, PPIH tengah mengatur skema murur yang paling memungkinkan.

"Insya Allah segera difinalisasi skemanya, termasuk mempertimbangkan animo yang besar sekali dari jemaah haji untuk mengikuti murur ini. Mudah-mudahan hari ini bisa kita rumuskan yang terbaik buat jemaah dan memastikan bahwa murur itu bisa berjalan dengan lancar," harap Gus Men.

Pada tahun 2023, area Muzdalifah yang seluas 82.350 m² ditempati sekitar 183.000 jemaah haji Indonesia yang terbagi dalam 61 maktab. Tahun ini, area tersebut akan menampung 213.320 jemaah dan 2.747 petugas haji, mengingat kawasan Mina Jadid tidak lagi digunakan. 

Adanya pembangunan toilet yang mengambil area seluas 20.000 m², ruang yang tersedia untuk setiap jemaah menjadi lebih sempit, sekitar 0,29 m² per orang.

Prioritas Jemaah untuk Skema Murur

Skema murur diprioritaskan bagi jemaah dengan risiko tinggi (risti) secara medis, lansia, disabilitas, berkursi roda, serta pendamping dari kelompok ini.

 "Skema murur ini penting untuk menjaga keamanan dan keselamatan jemaah di tengah kondisi yang sangat padat di Muzdalifah," tambah Gus Men.

Direktur Bina Haji Arsad Hidayat menambahkan bahwa skema murur telah didiskusikan dengan berbagai pihak di Arab Saudi, termasuk Masyariq, Naqabah, dan Kementerian Haji dan Umrah. Di Indonesia, diskusi juga dilakukan dengan ormas-ormas seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al Wasliyah, dan lainnya. 

"Kami juga mendiskusikan hal ini dengan Mustasyar Diny yang terdiri dari para ulama. Mereka juga mendukung terkait rencana skema murur yang dijalankan pemerintah. Waktu pelaksanaan murur mulai pukul 19.00 dan diharapkan selesai 22.00," sebut Arsad.

Menag Yaqut menegaskan bahwa menjaga keselamatan jiwa jemaah adalah prioritas utama. "Ini bertolak dari pemikiran bahwa menjaga keselamatan jiwa itu menjadi hal yang sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," tandasnya. 

Skema murur diharapkan dapat mengurangi kepadatan di Muzdalifah dan memastikan ibadah haji berjalan dengan lancar dan aman. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES