Peristiwa Internasional

DK PBB Dukung Gencatan Senjata, Pertempuran di Gaza Bisa Berakhir Hari Ini

Selasa, 11 Juni 2024 - 08:22 | 9.81k
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken tiba di bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv, pada Senin, 10 Juni. (FOTO: CNN/Reuters)
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken tiba di bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv, pada Senin, 10 Juni. (FOTO: CNN/Reuters)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Dewan Keamanan (DK) PBB untuk kali pertama mengeluarkan resolusi mendukung proposal gencatan senjata, menghentikan perang Israel-Hamas di Gaza yang digagas Amerika Serikat.

Perwakilan Amerika Serikat di PBB, Linda Thomas-Greenfield, mengatakan, bahwa Israel telah menyetujui kesepakatan tersebut dan pertempuran bisa berhenti hari ini jika Hamas melakukan hal yang sama. "Saya ulangi, pertempuran bisa berhenti hari ini," tegasnya.

Sebanyak 14 suara dari 15 anggotanya yang mendukung, satu abstain yakni Rusia, dan tidak ada suara yang menentang resolusi tersebut.

Kesepakatan tersebut, yang dirancang oleh Presiden AS, Joe Biden pada akhir Mei, akan terbagi dalam tiga fase. Tahap pertama dari perjanjian ini adalah gencatan senjata selama enam minggu.

Tahap kedua adalah kembalinya para sandera yang tersisa dari Gaza. Tahap ketiga, sekaligus terakhir, adalah rencana rekonstruksi Gaza.

Resolusi DK PBB juga menyerukan kepada Hamas untuk menerima rencana tiga fase tersebut dan mendesak Israel dan kelompok militan tersebut untuk "sepenuhnya melaksanakan persyaratannya tanpa penundaan dan tanpa syarat.

Ini adalah resolusi pertama yang diterapkan oleh DK PBB yang mendukung rencana gencatan senjata tertentu setelah pertempuran Israel-Hamas berlangsung selama delapan bulan.

Perang Bisa Berakhir Hari Ini

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield mendesak Hamas untuk menerima usulan gencatan senjata terbaru dan kesepakatan penyanderaan setelah Dewan Keamanan PBB memberikan suara terbanyak pada hari Senin untuk mendukungnya.

Linda Thomas-Greenfield, mengatakan, Israel telah menyetujui kesepakatan tersebut dan pertempuran bisa berhenti hari ini jika Hamas melakukan hal yang sama. "Saya ulangi, pertempuran bisa berhenti hari ini," tegas dia.

 “Delapan bulan terakhir ini merupakan masa yang sangat menyedihkan bagi warga Israel yang kehilangan orang-orang tercinta mereka pada tanggal 7 Oktober ketika Hamas memicu konflik ini dengan melakukan tindakan kekerasan yang tidak terpikirkan,” katanya.

"Rakyat Palestina telah menanggung penderitaan besar dalam perang yang dimulai oleh Hamas ini. Ada peluang untuk melakukan kutukan lain. Hamas harus menerimanya," ujarnya 

Dewan Keamanan mengadopsi resolusi yang dirancang AS dengan 14 suara mendukung, tidak ada yang menentang dan Rusia abstain.

Duta Besar AS itu kemudian menjabarkan kerangka kesepakatan yang dibagi menjadi tiga fase dan awalnya mencakup gencatan senjata, pembebasan sandera Israel, dan pertukaran tahanan Palestina. 

Pada akhirnya kesepakatan tersebut juga akan mengakhiri permusuhan secara permanen dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, distribusi bantuan yang efektif serta rekonstruksi besar-besaran selama bertahun-tahun di jalur tersebut.

Linda Thomas-Greenfield menambahkan, AS akan menjamin Israel menindaklanjuti kewajibannya sementara Mesir dan Qatar akan melakukan hal yang sama terhadap Hamas.

Duta Besar ini juga mengatakan, kesepakatan itu menolak segala perubahan geografis di Gaza dan menegaskan kembali komitmen terhadap solusi dua negara. Pada Maret lalu, DK PBB juga memberikan suara mendukung gencatan senjata segera dalam konflik tersebut.

Hamas menyambut baik gencatan senjata 'permanen', penarikan Israel dari Jalur Gaza, pertukaran tawanan, rencana untuk membangun kembali, kembalinya pengungsi Palestina ke rumah mereka dan penolakan terhadap perubahan atau penyusutan demografi, wilayah enclave serta masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

"Kami menegaskan kesediaan kami untuk bekerja sama dengan saudara-saudara kami sebagai lawan bicara untuk bernegosiasi secara tidak langsung mengenai bagaimana menerapkan prinsip-prinsip ini yang sejalan dengan rakyat kami dan tuntutan perlawanan,” kata Hamas.

Otoritas Palestina juga menyambut baik  resolusi yang disetujui oleh Dewan Keamanan PBB pada hari Senin kemarin.

"Namun implementasinya berada di tangan Israel. Resolusi tersebut merupakan langkah ke arah yang benar dan disambut baik oleh seluruh warga Palestina," kata utusan Palestina untuk PBB Riyad Mansour.

"Kami menginginkan gencatan senjata. Beban ada di pihak Israel untuk menerapkan resolusi ini dan segera menerapkan gencatan senjata serta melakukan pertukaran tahanan Palestina dan menjadikan gencatan senjata ini sebagai gencatan senjata permanen," tambahnya.

Mengenai kemungkinan Hamas menerima atau menolak perjanjian tersebut, pejabat Palestina mengatakan dia tidak mendengar orang Palestina  mengatakan apa pun kecuali menyambut resolusi ini.

Begitu juga Uni Eropa (UE) dalam sebuah pernyataan juga menyerukan implementasi segera resolusi Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata di Gaza.

"UE mengingat kembali dukungan penuhnya terhadap peta jalan komprehensif yang disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Kami mendesak kedua belah pihak untuk menerima dan melaksanakan proposal tiga tahap tersebut," katanya.

"UE siap berkontribusi dalam menghidupkan kembali proses politik menuju perdamaian abadi dan berkelanjutan, berdasarkan solusi dua negara, dan mendukung upaya internasional yang terkoordinasi untuk membangun kembali Gaza," tambahnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES