Peristiwa Internasional Info Haji 2024

Kisah Aura Hermawan, Semangat Tanpa Batas di Tanah Suci

Selasa, 11 Juni 2024 - 11:28 | 7.66k
Jemaah haji Indonesia Aura Hermawan. (Foto: MCH 2024 Kemenag RI)
Jemaah haji Indonesia Aura Hermawan. (Foto: MCH 2024 Kemenag RI)
FOKUS

Info Haji 2024

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Di sebuah kamar di Hotel Romance House, Syisyah, Makkah, duduk seorang gadis muda yang penuh semangat dan keteguhan hati, Putrie Aura Hermawan (21 tahun).

Didampingi oleh ibunya, Elis Hasfriyani (49 tahun), Aura menyambut ramah kedatangan kami, petugas haji dari Media Center Haji (MCH). Dengan senyum hangat, kami memulai percakapan yang segera membawa kami ke dalam kisah inspiratif perjalanan dan perjuangan Aura menuju Tanah Suci.

Sejak 2011, orang tua Aura sudah mendaftarkan dirinya untuk berangkat haji. Rencana awal untuk berangkat pada 2021 batal karena pandemi Covid-19. Namun, tahun ini, keinginan itu akhirnya terwujud, meski tidak lengkap. Sang ayah, Dodi Hermawan, berpulang pada 2020.

"Senang sekali bisa berangkat bersama mama. Sedihnya, kami tidak bisa bertiga karena papa meninggal Februari 2020,” ungkapnya, menatap penuh haru ke arah ibunya.

Aura, yang tunanetra sejak lahir, telah menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa sejak usia dini. Ia menemukan sahabat sejatinya dalam Al-Qur’an. Dari usia tiga tahun, neneknya rutin mengajarinya mengaji setiap pagi setelah salat Subuh.

“Aura sudah suka menghafal sejak usia tiga tahun. Aura memang tunanetra dan ingin dekat dengan Al-Qur’an,” katanya, mengenang masa kecilnya yang penuh kasih sayang dan bimbingan dari sang nenek.

Di usia lima tahun, Aura mulai belajar tilawah dengan seorang guru melalui rekaman. Kemudian, di usia delapan tahun, ia menemukan pengajar Al-Qur’an Braille.

“Setelah selesai Al-Qur’an Braille, Aura minta belajar tilawah sama mama. Namun, baru saat umur 10 tahun, kami menemukan guru tilawahnya," tutur gadis yang bercita-cita menjadi guru dan penghafal Al-Qur’an. 

Usaha dan ketekunan Aura berbuah manis. Pada 2014, ia meraih juara III MTQ tingkat Provinsi Sumut. Pada 2017, ia meraih juara I tingkat provinsi dan dikirim untuk lomba tingkat nasional, di mana ia masuk 13 besar.

Pada 2016, ia menjadi juara I MTQ Nasional kategori disabilitas untuk tingkat SMP dan SMA dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 2021, ia juga meraih juara I nasional dalam lomba yang diadakan oleh lembaga swasta Sam'an Al-Qur’an untuk golongan 1-5 juz.

Saat ini, Aura mengikuti kelas penghafal Al-Qur’an dan berharap suatu hari nanti bisa menghafal 30 juz. Dengan aplikasi di handphone-nya, ia bisa menghapal 3-6 halaman setiap hari.

"Targetnya sekarang 6 halaman sehari. Diulang sampai 5 kali, tapi biasanya sebelum 5 kali Aura sudah hafal," ujar mahasiswi Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Padang ini dengan penuh semangat.

Ibunya, Elis Hasfriyani, menceritakan bagaimana Aura lahir prematur pada 2003 dan dirawat di inkubator selama 39 hari. Sejak usia enam bulan, pengasuhnya menyadari bahwa Aura tidak merespons mainan.

Setelah diperiksa, dokter menemukan bahwa syaraf matanya putus dan tidak bisa dioperasi. Kekecewaan Elis dan suaminya tak menyurutkan semangat mereka.

Ketika melihat anak kecil lain yang kondisinya lebih parah, mereka sadar untuk bersyukur dan menerima keadaan.

"Di situ saya langsung merasa bersyukur. Meski anak saya tunanetra, tapi masih bisa lari-lari. Ternyata masih ada yang lebih susah dari kami. Di situ papanya dan saya bisa menerima keadaan anak saya,” kenang Elis.

Elis dan suaminya bertekad membesarkan Aura dengan baik, tanpa memikirkan pandangan orang lain. Mereka memastikan Aura mendapatkan pendidikan dan dukungan yang layak.

“Kalau mereka bisa, saya juga bisa mendidik Aura,” kata Elis dengan air mata haru.

Aura tumbuh menjadi anak yang ceria dan pintar. Meski memiliki keterbatasan fisik, ia memiliki kemampuan luar biasa dalam menghafal. Saat masih berusia tiga tahun, ia sudah melahap surat-surat pendek Al-Qur’an dari an-Naas hingga al-Fiil.

Di usia lima tahun, ia mulai belajar tilawah dengan seorang guru melalui rekaman. Baru di usia delapan tahun, Aura menemukan pengajar Al-Qur’an Braille.

“Setelah selesai Al-Qur’an Braille, Aura minta belajar tilawah sama mama. Namun, baru saat umur 10 tahun, kami menemukan guru tilawahnya," tutur gadis yang bercita-cita menjadi guru dan penghafal Al-Qur’an.

Prestasi demi prestasi terus diraihnya. Pada 2014, Aura meraih juara III MTQ tingkat Provinsi Sumut. Pada 2017, ia meraih juara I tingkat provinsi dan dikirim untuk lomba tingkat nasional, di mana ia masuk 13 besar.

Pada 2016, ia menjadi juara I MTQ Nasional kategori disabilitas untuk tingkat SMP dan SMA dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 2021, ia juga meraih juara I nasional dalam lomba yang diadakan oleh lembaga swasta Sam'an Al-Qur’an untuk golongan 1-5 juz.

Keberhasilan Aura tidak lepas dari dukungan dan cinta kasih orang tuanya. Elis menceritakan bagaimana ia dan suaminya berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi Aura, meski harus menghadapi berbagai tantangan.

“Saya ingin membesarkan Aura seperti orang tua lainnya,” kata Elis dengan tekad kuat.

Aura Hermawan, dengan segala keterbatasan fisik, menunjukkan kepada dunia bahwa semangat dan keteguhan hati bisa menaklukkan segala rintangan.

Kisahnya mengajarkan kita untuk tidak menyerah pada keadaan dan selalu bersyukur. Di tengah segala kesulitan, Aura terus bersinar, menjadi inspirasi bagi banyak orang.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES