Advertisement
Peristiwa Internasional

Casio dan Seni Bertahan Hidup dari Jepang Pascaperang

Kisah emosional Casio yang lahir dari Jepang pascaperang, berawal dari keterbatasan hingga menjadi simbol ketahanan dan fungsi sejati.

TIMES Indonesia,
Casio dan Seni Bertahan Hidup dari Jepang Pascaperang
Kisah Casio yang dibangun oleh tiga bersaudara di Jepang pascaperang, dari keterbatasan hidup hingga menjadi simbol ketahanan dan fungsi sejati. (casio.com)
A-AA+

JAKARTA Casio tidak lahir dari mimpi menjadi raksasa global. Ia lahir dari rasa lapar, keterbatasan, dan kebutuhan untuk bertahan hidup.

Tahun 1946, Jepang baru saja keluar dari Perang Dunia II. Kota-kota porak-poranda, ekonomi runtuh, dan kehidupan sehari-hari diwarnai kekurangan. Di tengah reruntuhan itu, Tadao Kashio bersama tiga adiknya memulai sebuah usaha kecil—bukan demi ambisi, melainkan demi esok hari.

Advertisement

Produk pertama Casio bahkan tidak menyerupai teknologi canggih. Mereka menciptakan yubiwa, cincin rokok sederhana agar sebatang rokok bisa diisap sampai habis. Di Jepang pascaperang, setiap hisapan berarti bertahan sedikit lebih lama. Inovasi kecil itu menjadi simbol awal filosofi Casio: membuat sesuatu yang benar-benar berguna.

Sebelas tahun kemudian, Casio menemukan arah besarnya. Pada 1957, mereka meluncurkan Casio 14-A, kalkulator elektrik praktis pertama di dunia. Di saat mesin hitung lain besar, mahal, dan rumit, Casio memilih jalur berbeda—ringkas, fungsional, dan terjangkau. Casio bukan menjual kemewahan, tetapi ketepatan dan keandalan.

Tahun 1974, Casio kembali menantang arus dengan memasuki industri jam tangan. Saat dunia memuja jam mekanik Swiss sebagai simbol status, Casio menghadirkan Casiotron, jam digital yang jujur pada fungsinya. Jam tangan, bagi Casio, bukan perhiasan, melainkan alat yang harus bekerja.

Puncak filosofi bertahan hidup itu lahir pada 1983 lewat G-Shock DW-5000C. Jam yang dirancang untuk jatuh, terbentur, dan tetap hidup. Jam yang tidak minta diperlakukan lembut. Ketangguhannya membuat G-Shock dipakai oleh militer Amerika Serikat dan pekerja di berbagai medan ekstrem.

Hingga hari ini, Casio tidak mengejar tren. Ia tidak menjual gaya hidup glamor. Ia menjual ketahanan, kejujuran fungsi, dan umur panjang. Nilai-nilai yang tumbuh dari Jepang pascaperang—hemat, disiplin, dan anti pemborosan—masih berdenyut di setiap produknya.

Advertisement

Di dunia yang sibuk menjual cerita dan citra, Casio mengingatkan kita pada satu hal sederhana: bertahan hidup adalah seni.

Dan terkadang, yang kita butuhkan bukan barang yang terlihat mewah, tetapi alat yang tetap bekerja ketika segalanya runtuh.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia