Advertisement
Peristiwa Internasional

Benjamin Netanyahu 'Kompori' Donald Trump untuk Terus Menekan Iran

Benjamin Ntanyahu tampaknya khawatir bahwa Iran memperluas produksi program rudalnya, yang mengalami kerusakan dalam perang 12 hari antara kedua negara itu tahun lalu.

TIMES Indonesia,
Benjamin Netanyahu 'Kompori' Donald Trump untuk Terus Menekan Iran
Seorang anggota Garda Revolusi mengacungkan tanda kemenangan di menara monumen kebebasan selama pawai tahunan yang menandai Revolusi Islam 1979 di Teheran, 11 Februari 2026. (FOTO : Euronews/ AP)
A-AA+

JAKARTA Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, Rabu (11/2/226) kemarin menegaskan bahwa negaranya tidak berupaya memiliki senjata nuklir.

"Kami tidak berupaya untuk memperoleh senjata nuklir. Kami telah menyatakan ini berulang kali dan siap untuk verifikasi apa pun," kata Pezeshkian dalam pidatonya di Lapangan Azadi di Teheran yang menandai peringatan ke-47 Revolusi Islam Iran.

Advertisement

Namun Amerika Serikat masih saja mengintimidasi, di mana Presiden AS Donald Trump menyarankan untuk mengirimkan kelompok kapal induk lain ke Timur Tengah.

Trump menyampaikan saran tersebut dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Selasa malam, setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bersiap untuk datang ke Washington.

Kedatangan Netanyahu untuk 'mengompori' AS agar menerapkan persyaratan seketat mungkin dalam kesepakatan apa pun yang dicapai dengan Teheran dalam perundingan nuklir yang masih baru.

Benjamin Ntanyahu tampaknya khawatir bahwa Iran memperluas produksi program rudalnya, yang mengalami kerusakan dalam perang 12 hari antara kedua negara itu tahun lalu.

"Negara kami, Iran, tidak akan menyerah pada tuntutan mereka yang berlebihan," tegas Presiden Iran setelah Teheran melanjutkan pembicaraan tidak langsung dengan Washington mengenai program nuklirnya.

Advertisement

Para pejabat Iran telah juga menolak untuk membahas kemungkinan memasukkan rudal-rudal mereka, yang merupakan salah satu persenjataan terbesar di Timur Tengah, ke dalam agenda pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Ali Shamkhani, seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada hari Rabu, bahwa kemampuan rudal Iran tidak bisa dinegosiasikan, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita pemerintah IRNA.

AS sempat membombardir situs nuklir Iran pada Juni lalu untuk membela Israel saat konflik Iran-Israel selama 12 hari.

Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum bisa memverifikasi status persediaan uranium Iran yang hampir mencapai tingkat senjata nuklir sejak konflik 12 hari tersebut, ketika Teheran menangguhkan kerja samanya dengan badan pengawas nuklir PBB.

Kepala IAEA Rafael Grossi mencapai kesepakatan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada September 2025 untuk melanjutkan inspeksi.

Tetapi PBB memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran pada bulan yang sama, yang menyebabkan negara tersebut menghentikan pelaksanaan kesepakatan tersebut.

Rabu malam, televisi pemerintah Iran, pihak berwenang menyiarkan gambar orang-orang yang turun ke jalan di seluruh negeri  untuk mendukung rezim teokrasi dan Ayatollah Ali Khamenei yang berusia 86 tahun.

Orang-orang mengibarkan gambar Khamenei dan pendahulunya Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam, bersama bendera Iran dan Palestina.

Beberapa orang meneriakkan 'Matilah Amerika' dan 'Matilah Israel', dan yang lain mengkritik Putra Mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, yang telah menyerukan protes anti-pemerintah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia