Tarique Rahman jadi PM Bangladesh, Ini Profil dan Tantangan Politik yang Harus Dihadapi
Tarique Rahman menghadapi tantangan yang cukup besar. Inflasi, perlambatan sektor garmen (pakaian sebagai andalan ekspor), serta kebutuhan penciptaan lapangan kerja.

JAKARTA – Tarique Rahman resmi dilantik sebagai Perdana Menteri baru Bangladesh di kompleks parlemen Dhaka atau Jatiya Sangsad Bhaban, Dhaka, Bangladesh, pada Selasa (17/02/2026),
Pelantikan ini menandai berakhirnya 18 bulan pemerintahan transisi dan kembalinya pemerintahan terpilih di negara republik parlementer tersebut.
Naiknya Tarique Rahman sekaligus mengukuhkan kebangkitan Partai Nasional Bangladesh (BNP) setelah dua dekade berada di luar kekuasaan setelah memenangkan 212 dari 300 (2/3) di kursi parlemen saat pemilihan, serta menutup masa penuh gejolak dan tantangan pasca kepemimpinan Sheikh Hasina pada 2024.
Upacara pengambilan sumpah dilakukan di South Plaza di gedung parlemen nasional, berbeda dari tradisi sebelumnya yang dilaksanakan di kediaman resmi presiden. Presiden Mohammed Shahbuddin memimpin langsung prosesi pelantikan Rahman bersama 49 anggota dewan yang terdiri dari menteri senior dan wakil menteri.
Dalam pidato perdananya, Rahman menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nasional sesuai dengan hukum yang berlaku. “Saya akan setia menjalankan tugas jabatan sebagai perdana menteri pemerintahan sesuai dengan hukum,: ujarnya.
Pelantikan ini secara resmi menutup babak krisis yang mengguncang Bangladesh sejak dilengserkannya pemerintahan Sheikh Hasina pada 2024 akibat gelombang protes besar yang dipelopori generasi muda.
Setelah pelengseran Hasina, Bangladesh memasuki masa pemerintahan transisi dimana pemerintahan sementara dipimpin oleh peraih Nobel Peace Prize, Muhammad Yunus, selama 18 bulan.
Siapa Tarique Rahman?
Tarique Rahman, yang saat dilantik berusia 60 tahun, bukanlah tokoh yang asing di dalam dunia politik Bangladesh. Ia merupakan putra dari Begum Khaleda Zia, mantan Perdana Menteri perempuan pertama Bangladesh yang menjabat tahun 1991-1996 dan 2001-2006, dan Ziaur Rahman, Presiden Bangladesh yang berkuasa tahun 1977-1981, pendiri BNP, serta tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan Bangladesh tahun 1971, sebelum akhirnya tewas terbunuh saat masih menjadi presiden di 1981.
Selama 17 tahun, Tarique Rahman menjalani pengasingan di London setelah mendapatkan tuduhan-tuduhan hukum oleh pemerintahan di bawah Sheikh Hasina. BNP menegaskan bahwa tuduhan-tuduhan tersebut palsu dan tidak bermotif.
Meski kerap menghadapi tudingan-tudingan politik tersebut, Rahman kembali ke bangladesh di tahun 2025, disambut dengan keamanan ketat dan hangat oleh para petinggi dan pendukung Partai BNP.
Tantangan Ekonomi dan Stabilitas Politik yang Menunggu
Di awal kepemimpinannya, Rahman menghadapi tantangan yang cukup besar. Inflasi, perlambatan sektor garmen (pakaian sebagai andalan ekspor), serta kebutuhan penciptaan lapangan kerja menjadi agenda mendesak di tengah-tengah krisi yang dihadapi Bangladesh saat ini. Selain itu, reformasi institusi atau perbaikan sistem dan lembaga negara, serta pemberantasan korupsi juga menjadi tuntutan publik.
Hal ini dikarenakan politik patronase atau pembagian jabatan kepada pihak pendukung tanpa proses demokrasi semakin mengakar di bangladesh, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara menurun. Hal itulah yang menjadikan pembenahan sistemik sangat dibutuhkan.
Dalam sisi stabilitas politik, rekonsiliasi nasional (upaya perdamaian antar kelompok terbelah) dan polarisasi (keterbelahan ekstrim antar masyarakat) menjadi masalah internal yang harus segera diatasi.
Sedangkan dalam ranah luar negeri, Bangladesh di bawah Rahman diperkirakan akan menjaga keseimbangan hubungan (tidak berpihak pada satu kekuatan saja) dengan China, India, dan negara-negara Barat. Posisi strategis Bangladesh di Asia Selatan membuat arah kebijakan luar negerinya menjadi sorotan.
Kamal Mia, salah satu massa yang bergabung dalam kerumunan yang berada di luar gedung parlemen saat Rahman dilantik, menyebut hari itu sebagai “awal yang baru”.
Dalam wawancaranya dengan The Guardian pres, ia mengatakan bahwa ia tidak berharap semuanya akan berubah dalam waktu yang singkat, namun ia tetap berharap perubahan akan segera dialami Bangladesh.
“Saya tidak mengatakan semuanya akan berubah semalam, tetapi kami ingin mereka bekerja, menurunkan harga, menghentikan korupsi, dan membiarkan orang hidup tanpa rasa takut.,” ujarnya.
Kepemimpinan Rahman kini menjadi penentu masa depan demokrasi dan stabilitas ekonomi Bangladesh. Rakyat Bangladesh bersama-sama berharap bahwa pemerintahan Rahman dan kembalinya Partai BNP ke tampuk kekuasaan dapat menjadi tonggak awal menjadi lebih baiknya Bangladesh sebagai negara secara menyeluruh. (*/The Guardian, Al Jazeera, Reuters)
Pewarta: Annisa Maghzar Vidyantoro
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

