Advertisement
Peristiwa Internasional

Serangan AS-Israel di Iran Berlanjut, Korban Jiwa Lampaui 1.000

Korban tewas akibat serangan AS-Israel di Iran melampaui 1.000 orang. Situasi perang memicu krisis kemanusiaan.

TIMES Indonesia,
Serangan AS-Israel di Iran Berlanjut, Korban Jiwa Lampaui 1.000
Sebuah bangunan di Teheran, Iran yang hancur akibat serangan militer AS dan Israel. (foto: aljazeera)
A-AA+

JAKARTA Media pemerintah Iran melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel telah melampaui 1.000 orang sejak operasi militer dimulai pada Sabtu lalu.

Serangan udara dan rudal yang berlangsung di berbagai wilayah Iran disebut menargetkan fasilitas militer hingga gedung yang berkaitan dengan aparat keamanan dalam negeri. Namun di lapangan, warga sipil dilaporkan menjadi kelompok yang paling terdampak.

Advertisement

Laporan terbaru menyebutkan jumlah korban tewas telah mencapai 1.045 orang, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka.

Warga Sipil Jadi Korban Terbesar

Serangan yang terjadi hampir di seluruh wilayah Iran menyebabkan tekanan besar terhadap masyarakat sipil.

Jurnalis yang melaporkan dari Teheran menyebutkan bahwa serangan berlangsung secara terus-menerus dan tidak hanya menyasar satu wilayah tertentu.

“Serangan ini berlangsung secara berkelanjutan di berbagai kota. Hampir tidak ada wilayah yang benar-benar aman,” ungkap laporan dari lapangan.

Data rumah sakit menunjukkan sekitar 300 anak-anak dan remaja harus dirawat, sementara lebih dari 6.000 orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Advertisement

Pemakaman Ayatollah Khamenei Ditunda

Situasi keamanan yang belum stabil membuat pemerintah Iran menunda prosesi pemakaman pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada gelombang awal serangan AS-Israel.

Media Iran menyebut penundaan tersebut disebabkan oleh kendala logistik serta kekhawatiran keamanan.

Prosesi pemakaman diperkirakan akan dihadiri jutaan orang. Sebagai perbandingan, sekitar 10 juta warga Iran menghadiri pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989.

Kerumunan besar tersebut juga dinilai berpotensi menjadi target baru dalam situasi perang yang masih berlangsung. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia