Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Hanya Batasi Kapal Negara Agresor
Iran menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka, namun membatasi kapal negara yang dianggap agresor dalam konflik dengan AS dan Israel.
JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa Iran tidak menutup Selat Hormuz, melainkan hanya memberlakukan pembatasan terhadap kapal-kapal yang terkait dengan negara yang disebutnya sebagai agresor dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam wawancara dengan Kantor Berita Kyodo, Jepang, Jumat (20/3/2026), Araqchi menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Iran, menurut dia, juga menawarkan bantuan pengawalan keamanan bagi kapal-kapal dari negara lain yang melintasi jalur tersebut.
“Kami belum menutup selat itu. Selat itu terbuka,” ujar Araqchi seperti dilansir Tasnim News Agency.
Ia menambahkan, kebijakan pembatasan tersebut merupakan bagian dari respons pertahanan diri Iran. Kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara yang terlibat dalam konflik akan menjadi target pembatasan, sementara negara lain tetap dapat melintas dengan jaminan keamanan.
Araqchi juga menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan gencatan senjata sementara. Ia menyebut penyelesaian konflik harus bersifat menyeluruh, permanen, dan mencakup jaminan tidak terulangnya serangan di masa depan, serta kompensasi atas kerusakan yang terjadi.
Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan bahwa isu pelayaran kapal Jepang melalui Selat Hormuz telah dibahas dengan mitranya dari Jepang, Toshimitsu Motegi. Pembicaraan masih berlangsung, meski rincian tidak disampaikan.
Selain itu, Araqchi menyatakan Iran siap memastikan keamanan jalur pelayaran bagi negara-negara yang menjalin kerja sama, termasuk Jepang.
Ia juga mengecam serangan yang disebutnya sebagai agresi terhadap Iran, yang terjadi di tengah berlangsungnya negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat terkait program nuklir Iran.
“Ini adalah tindakan agresi ilegal dan tanpa provokasi,” katanya.
Menurutnya, respons Iran merupakan bentuk pembelaan diri dan akan terus dilakukan selama diperlukan. Ia juga menyerukan komunitas internasional untuk mengambil sikap terhadap konflik tersebut.
Araqchi menambahkan, sejumlah negara tengah berupaya menengahi konflik. Iran, kata dia, terbuka terhadap berbagai inisiatif diplomatik, namun menilai Amerika Serikat belum menunjukkan keseriusan dalam mencapai penyelesaian.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan militer ke wilayah Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menyasar sejumlah instalasi militer dan sipil serta menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fasilitas.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran melakukan serangan balasan dengan meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah pangkalan Amerika Serikat di kawasan tersebut serta posisi Israel. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


