Jutaan Pasukan Iran Sudah Menunggu, Donald Trump Justru Bakal Ngacir
Presiden Donald Trump telah mengumumkan bahwa akhir perang dengan Iran sudah dekat, dengan menekankan bahwa tujuan utama adalah untuk mencegah Iran membuat senjata nuklir.
JAKARTA – Ditunggu jutaan pejuang perlawanan Iran, perkembangan terbaru Amerika Serikat malah akan segera meninggalkan Iran dalam dua atau tiga minggu mendatang.
Presiden Donald Trump, Rabu (1/4/2026) telah mengumumkan bahwa akhir perang dengan Iran sudah dekat, dengan menekankan bahwa tujuan utama adalah untuk mencegah Iran membuat senjata nuklir.
Berkali-kali Iran telah membantah membuat senjata nuklir itu. Program nuklir yang dibuat Iran adalah untuk kepentingan damai, kebutuhan sipil dan sebagainya. Hingga saat ini belum pernah terbukti bahwa Iran sedang membuat senjata nuklir.
Nanti malam, Trump akan berpidato di depan bangsanya yang akan mencakup 'pembaruan penting' tentang Iran.
"Kita akan meninggalkan Iran dalam dua atau tiga minggu. Tidak ada alasan bagi kita untuk tetap tinggal," kata Trump menjawab pertanyaan dari seorang reporter setelah menandatangani perintah eksekutif di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, kemarin.
Iran telah memobilisasi satu Juta rakyatnya untuk menghadapi potensi serangan darat Amerika Serikat. Langkah ini disebut sebagai upaya persiapan untuk "perang total".
Mobilisasi itu dilakukan sebagai respons atas rencana serangan darat oleh AS ke wilayah Iran.
Namun di AS, rencana Trump itu didemo besar-besaran sekitar sembilan juta rakyat AS, dan mereka mengecam potensi perang dengab tudingan mendanai perang dengan Iran itu menggunakan dana pajak.
Dalam sebuah pesan, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf pun telah mengatakan, Iran sedang menunggu tentara Amerika Serikat memasuki wilayah tersebut agar mereka bisa membakarnya.
"Kejutan baru dari Pasukan Perlawanan akan terungkap dalam beberapa hari mendatang," kata sebuah sumber yang mengetahui informasi tersebut, seraya menggarisbawahi persatuan pasukan perlawanan di medan perang.
Tak Ada Negosiasi, Tapi Trump Klaim Menang
Sementara itu Donald Trump masih terus percaya diri dan mengklaim bahwa AS telah memenangkan pertempuran itu.
Alasannya perang yang dipaksakan terhadap Iran itu telah menyebabkan perubahan rezim di Iran. "Kami sekarang berurusan dengan kelompok baru yang lebih rasional," merujuk pada pembunuhan yang mengakibatkan pengangkatan pejabat baru.
Terkait negosiasi, Trump menyatakan bahwa kembalinya Iran ke meja perundingan adalah hal yang baik "tetapi tidak perlu".
Dalih Trump, bahwa Iran telah kehilangan segalanya dan memohon untuk membuat kesepakatan. "Tetapi media tidak memberitakan hal itu," katanya.
Namun Iran telah berulangkali menuduh Trump telah berbohong tentang adanya atau apalagi permintaan untuk negosiasi itu.
Secara terbuka, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei juga menegaskan, bahwa Iran sampai detik ini tidak pernah melakukan negosiasi apapun bentuknya dengan Amerika Serikat.
Esmaeil Baqaei juga membantah klaim bahwa Republik Islam telah menyetujui proposal AS. Ia menyebut pernyataan tersebut tidak berdasar, bohong.
Ia juga menegaskan kembali bahwa posisi Iran konsisten sejak awal, menolak tuntutan yang berlebihan dan tidak masuk akal yang disampaikan melalui perantara.
Selasa kemarin, Trump masih saja menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang terlibat dalam pembicaraan serius dengan rezim Iran ya g baru yang lebih rasional untuk mengakhiri operasi militernya di Iran,". Trump menegaskan bahwa kemajuan sedang dicapai.
Namun pada saat yang sama, Trump mengancam, jika kesepakatan itu tidak tercapai dengan cepat dengan alasan apa pun.
Dan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka, ia akan mengakhiri 'masa tinggalnya yang menyenangkan' di Iran dengan meledakkan dan menghancurkan semua pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg dan mungkin semua pabrik desalinasi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


