Advertisement
Peristiwa Internasional

Lalu Lintas Selat Hormuz Pulih, PBB: Masih Jauh dari Normal

Lalu lintas Selat Hormuz mulai meningkat pascakonflik Iran, namun masih turun hingga 95 persen dari kondisi normal sebelum perang.

TIMES Indonesia,
Lalu Lintas Selat Hormuz Pulih, PBB: Masih Jauh dari Normal
Ilustrasi - Negara-negara Teluk dan Selat Hormuz, jalur perlintasan minyak dunia. (FOTO: AI TIMES Indonesia)
A-AA+

JAKARTA Perlahan, denyut nadi perdagangan energi global mulai bergerak kembali di Selat Hormuz. Namun, pemulihan itu masih jauh dari kata normal. Data terbaru menunjukkan bahwa jalur strategis ini masih berada dalam tekanan berat akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang meletus sejak akhir Februari 2026.

Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB, UNCTAD, bersama perusahaan intelijen maritim Windward mencatat adanya peningkatan jumlah kapal yang melintasi selat tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Advertisement

Pada 1 April 2026, sebanyak 16 kapal tercatat melintas, meningkat dari 11 kapal sehari sebelumnya. Ini menjadi tren kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Namun, angka tersebut masih sangat kecil dibandingkan kondisi normal sebelum konflik.

Anjlok 95 Persen: Alarm bagi Perdagangan Global

Data UNCTAD menunjukkan penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Dari sekitar 130 kapal per hari pada Februari, jumlahnya merosot tajam menjadi hanya 6 kapal per hari sepanjang Maret.

Penurunan hingga 95 persen ini menjadi indikator kuat terganggunya rantai pasok energi global. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai “chokepoint” vital, yang dilalui sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui jalur laut, serta distribusi gas alam cair (LNG) dan pupuk.

Sebelum konflik, sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi kawasan ini. Kini, angka tersebut tertekan akibat kebijakan Iran yang memberlakukan kontrol ketat, bahkan blokade terbatas, sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel.

Jalur Alternatif dan Diplomasi Diam-Diam

Menariknya, peningkatan lalu lintas kapal yang terjadi saat ini tidak berlangsung secara bebas. Windward mencatat seluruh kapal yang melintas pada 1 April menggunakan rute khusus melalui Pulau Larak—sebuah koridor berbasis izin yang berada dekat garis pantai Iran.

Advertisement

Fenomena ini menandakan adanya mekanisme kontrol yang lebih ketat sekaligus negosiasi di balik layar. Sebanyak 62 persen kapal yang melintas bahkan disebut berasal dari armada yang terkena sanksi Barat, termasuk tanker bayangan Iran yang bersiap untuk aktivitas pemuatan.

“Pola ini menunjukkan semakin banyak negara yang bernegosiasi dengan Iran untuk mengamankan jalur pelayaran,” demikian analisis Windward.

Artinya, di tengah konflik terbuka, berlangsung diplomasi senyap untuk menjaga aliran energi global tetap berjalan, meski dalam skala terbatas.

Ketidakpastian Masih Membayangi

Kenaikan jumlah kapal dalam beberapa hari terakhir memang memberi sinyal positif. Namun, secara struktural, kondisi Selat Hormuz masih jauh dari stabil.

Selama konflik belum mereda dan kontrol Iran terhadap jalur ini masih berlangsung, pasar energi global akan tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Fluktuasi harga minyak, gangguan logistik, hingga risiko geopolitik yang lebih luas menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

Di titik ini, Selat Hormuz bukan lagi sekadar jalur perdagangan, melainkan barometer krisis global—di mana setiap kapal yang melintas mencerminkan negosiasi, ketegangan, dan kepentingan yang saling bertabrakan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia