Advertisement
Peristiwa Internasional

AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata selama Dua Pekan

Iran setuju gencatan senjata dua pekan dan buka negosiasi dengan AS, namun ancaman eskalasi tetap tinggi di tengah serangan militer terbaru.

TIMES Indonesia,
AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata selama Dua Pekan
Angkatan Laut Iran berpatroli di Selat Hormuz. Iran dan AS sepakat melakukan gencatan senjata selamadua pekan.
A-AA+

JAKARTA Iran resmi menyetujui gencatan senjata selama dua pekan, diikuti rencana pembukaan negosiasi dengan Amerika Serikat di Islamabad mulai Jumat.

Langkah ini memberi sinyal deeskalasi, tetapi pernyataan resmi Teheran menegaskan bahwa perang belum berakhir.

Advertisement

Gencatan Senjata, Tapi Senjata Tetap Siaga

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa kesepakatan ini bersifat sementara dan tak mengakhiri konflik.

“Ini tidak berarti perang telah berakhir. Tangan kami tetap berada di pelatuk, dan setiap kesalahan sekecil apa pun dari musuh akan dibalas dengan kekuatan penuh,” demikian pernyataan resmi tersebut.

Narasi ini menunjukkan strategi Iran: membuka ruang diplomasi tanpa melepas posisi militer, sekaligus menjaga daya tawar dalam negosiasi.

AS Melunak, Tapi Syarat Tetap Ketat

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai melunakkan retorikanya. Ia menyatakan akan menahan rencana serangan lebih luas terhadap Iran, termasuk target infrastruktur sipil seperti jembatan dan pembangkit listrik.

Namun, pelonggaran itu bersyarat. Iran diminta tidak hanya menyepakati gencatan senjata, tetapi juga membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.

Advertisement

Sebelumnya, Trump sempat mengeluarkan ancaman ekstrem. “Satu peradaban bisa musnah malam ini dan tidak akan pernah kembali,” ujarnya, jika Iran menolak kesepakatan.

Pernyataan tersebut memicu kritik luas, termasuk dari oposisi Demokrat, sebagian pendukungnya sendiri, hingga tokoh agama global.

Serangan Militer Masih Berlanjut

Di tengah wacana damai, realitas di lapangan menunjukkan situasi berbeda. Amerika Serikat dilaporkan menyerang target militer di Pulau Kharg, pusat distribusi minyak utama Iran. Serangan ini menjadi yang kedua dalam periode konflik terbaru.

Sementara itu, Israel juga meningkatkan tekanan dengan menyerang infrastruktur strategis Iran, termasuk jembatan dan jalur kereta api.

Kondisi ini mencerminkan paradoks konflik modern: diplomasi berjalan bersamaan dengan operasi militer.

Dukungan Regional dan Seruan Diplomasi

Di tengah dinamika tersebut, Irak menyuarakan harapan agar gencatan senjata menjadi titik balik meredanya konflik kawasan.

Kementerian Luar Negeri Irak menyatakan bahwa Baghdad berharap langkah ini dapat menurunkan ketegangan sekaligus memperkuat stabilitas regional.

“Sebagaimana kami menegaskan dukungan terhadap upaya regional dan internasional dalam mengendalikan krisis serta mengedepankan dialog dan diplomasi, kami juga menekankan pentingnya komitmen penuh terhadap gencatan senjata dan menahan diri dari segala bentuk eskalasi,” demikian pernyataan resmi tersebut.

Pernyataan ini menegaskan posisi Irak sebagai aktor regional yang mendorong stabilitas, di tengah tekanan geopolitik yang semakin kompleks.

Di tengah eskalasi, muncul sinyal lain dari dinamika kawasan. Seorang jurnalis Amerika, Shelly Kittleson, yang sebelumnya diculik oleh milisi pro-Iran di Irak, akhirnya dibebaskan.

Kelompok tersebut menyebut pembebasan itu sebagai bentuk apresiasi terhadap sikap pemerintah Irak, meski tanpa rincian lebih lanjut. (*)

 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia