Ini 10 Tuntutan Iran dalam Kesepakatan Gencatan Senjata
Iran mengajukan 10 syarat dalam rencana gencatan senjata dengan AS, mulai dari pencabutan sanksi hingga kontrol Selat Hormuz.
JAKARTA – Iran mengajukan 10 syarat utama dalam rencana gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS), menyusul kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan yang diumumkan pada Selasa (8/4/2026).
Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, kesepakatan permanen hanya dapat dicapai jika seluruh poin dalam proposal tersebut disepakati dan difinalisasi oleh kedua pihak.
Berikut 10 tuntutan yang diajukan Iran:
- AS harus berkomitmen untuk menjamin prinsip non-agresi terhadap Iran.
- Iran mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz.
- Hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium harus diakui.
- Seluruh sanksi utama terhadap Iran dicabut.
- Seluruh sanksi sekunder juga harus dihapus.
- Semua resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran diakhiri.
- Resolusi Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dihentikan.
- Iran menuntut kompensasi atas kerusakan akibat serangan militer.
- Pasukan tempur AS harus ditarik dari kawasan Timur Tengah.
- Penghentian konflik di seluruh front, termasuk terhadap sekutu Iran di kawasan.
Dari seluruh poin tersebut, kontrol atas Selat Hormuz menjadi isu paling sensitif. Jalur ini mengalirkan sekitar sepertiga pasokan minyak dunia. Jika Iran benar-benar memperoleh kendali penuh, implikasinya bukan hanya regional, tetapi juga global, terutama terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi dunia.
Iran bahkan disebut berencana memberlakukan biaya transit bagi kapal yang melintas, yang nantinya akan digunakan untuk membiayai rekonstruksi pascakonflik.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya tetap membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata, namun berada di bawah pengelolaan militer Iran.
Sementara itu, kesepakatan gencatan senjata disebut dicapai menjelang batas waktu yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump, untuk meningkatkan serangan terhadap Iran.
Pemerintah Pakistan melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif turut berperan sebagai mediator dan mengundang delegasi Iran serta AS untuk melanjutkan pembicaraan di Islamabad.
Hingga Selasa malam waktu setempat, belum ada konfirmasi resmi dari pihak AS terkait keikutsertaan dalam perundingan lanjutan tersebut maupun respons terhadap 10 tuntutan yang diajukan Iran. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


