Iran Tak Mau Ditipu Amerika Serikat Lagi
Iran telah memberitahu mediator Pakistan, tidak berminat menghadiri pembicaraan damai dengan Amerika Serikat sebelum gencatan senjata di Lebanon terlaksana.
JAKARTA – Iran telah memberitahu mediator Pakistan, tidak berminat menghadiri pembicaraan damai dengan Amerika Serikat sebelum gencatan senjata di Lebanon terlaksana. "Kami tidak mau ditipu lagi oleh Amerika," kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Qalibaf.
Meski demikian Iran masih memiliki niat baik untuk kepentingan umat manusia. Iran masih menjunjung tinggi diplomasi untuk menyudahi pertikaian yang disulut Amerika Serikat dan Israel ini.
Jumat pemerintahan Iran telah mengutus delegasi tingkat tingginya untuk melanjutkan pembicaraan gencatan senjata di Islamabad, Pakistan.
Hanya saja kedatangan delegasi Iran tadi malam kali ini ancaman, jika 10 poin yang telah disepakati bersama dengan Amerika Serikat itu tidak penuhi, maka Iran akan menggagalkan proses tersebut. "Kami tidak mau ditipu lagi," kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Qalibaf.
Proposal 10 poin yang diajukan oleh Iran dan yang kemudian oleh Trump disebut sebagai "dasar yang bisa diterapkan untuk bernegosiasi dan kerangka utama untuk pembicaraan ini," secara eksplisit mensyaratkan gencatan senjata dengan penghentian agresi di semua lini, termasuk terhadap Lebanon.
Tetapi sejak Trump mengumumkan proposal 10 poin itu, Israel terus menerus dan secara signifikan meningkatkan serangannya terhadap Lebanon, bahkan pada Rabu lalu Israel telah membunuh lebih dari 203 orang yang sebagian besar anak-anak dan wanita Lebanon serta melukai 1000 orang lebih.
Karena itu Qalibaf sebelumnya menekankan bahwa gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang diblokir adalah prasyarat yang harus dipenuhi sebelum dimulainya negosiasi dengan Amerika Serikat.
Qalibaf kemudian mengingatkan Iran tentang pengalaman masa lalu mereka yang selalu dikhianati oleh Amerika Serikat, termasuk dua kali selama prosedur diplomatik.
"Dua kali dalam waktu kurang dari setahun, ditengah negosiasi, dan meskipun pihak Iran memiliki itikad baik, mereka menyerang kami dan melakukan berbagai kejahatan perang," katanya.
Baik agresi terbaru maupun perang yang dipaksakan oleh Amerika-Israel terhadap Republik Islam Iran pada bulan Juni lalu itupun terjadi ketika Amerika Serikat mulai terlibat dalam proses diplomatik dengan Iran.
"Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak memiliki kepercayaan pada lawan," tambah anggota parlemen senior itu.
"Kini Amerika hanya akan melihat kesediaan dari Republik Islam Iran untuk mencapai kesepakatan, jika mereka siap untuk kesepakatan yang tulus dan untuk memberikan hak-hak bangsa Iran," tegasnya
"Namun, jika Amerika Serikat berupaya menggunakan negosiasi ini sebagai "pertunjukan yang sia-sia" dan "operasi penipuan," maka Iran siap untuk mengamankan hak-hak bangsa Iran dengan mengandalkan kemampuan sendiri," tegas Qalibaf lagi.
Ia menyebutkan keberhasilan dan ketegasan serangan defensif dan pembalasan negaranya sepanjang agresi terbaru sebagai bukti kesiapannya untuk secara tegas mengamankan kepentingan nasionalnya dan melindungi kedaulatannya.
Mohammad-Bagher Qalibaf kali ini memimpin delegasi tingkat tinggi Iran tersebut. Ia didampingi pejabat Iran lainnya diantaranya Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional Tertinggi Ali-Akbar Ahmadian, Gubernur Bank Sentral Abdolnasser Hemmati, serta beberapa anggota parlemen Iran.
Delegasi Iran itu terdiri dari komite keamanan, politik, militer, ekonomi, dan hukum.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, utusan regional Washington Steve Witkoff, dan penasihat sekaligus menantu Trump yang didapuk jadi penasihat nya juga telah tiba di Islamabad.
Dan kali ini Iran telah memberitahu mediator Pakistan dengan catatan, bahwa Iran tidak berminat menghadiri pembicaraan damai dengan Amerika Serikat sebelum gencatan senjata di Lebanon terlaksana. "Kami tidak mau ditipu lagi oleh Amerika," kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Qalibaf.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


