Advertisement
Peristiwa Internasional

Sikapi Ricuh Geopolitik, Peringatan China: Jangan Kembali ke Hukum Rimba

China selama ini menjadi pemain yang tenang, tetapi penting, disaat aksi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mengacaukan ekonomi global.

TIMES Indonesia,
Sikapi Ricuh Geopolitik, Peringatan China: Jangan Kembali ke Hukum Rimba
Presiden China saat menemui putra mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan di Beijing (FOTO: China Daily)
A-AA+

JAKARTA Presiden China, Xi Jinping yang mendapat tekanan makin besar agar menggunakan pengaruhnya untuk mengakhiri perang di Timur Tengah mengeluarkan peringatan agar jangan kembali ke 'hukum rimba'.

China selama ini menjadi pemain yang tenang, tetapi penting, disaat aksi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mengacaukan ekonomi global.

Advertisement

Namun keadaan telah bergeser setelah Selasa kemarin China mengecam blokade Amerika Serikat  terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai yang 'berbahaya dan tidak bertanggung jawab'.

Ini adalah intervensi publik China yang paling signifikan hingga saat ini, karena China memiliki hubungan dekat dengan Iran.

Blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz itu membuat China khawatir karena lebih dari separo impor minyak mentah untuk energi China dan pasokan minyak serta gas dunia masuknya melalui Selat Hormuz.

"Tindakan seperti itu hanya akan memperintensifkan kontradiksi, memperburuk ketegangan, merusak gencatan senjata yang sudah rapuh, dan semakin membahayakan keamanan navigasi melalui selat tersebut,"  kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.

"Ini adalah perilaku yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab," ucapnya kepada wartawan pada hari Selasa mengenai blokade AS.  

Advertisement

Perilaku para pemimpin Amerika Serikat, terutama Donald Trump yang dinilai tidak waras oleh mantan Direktur CIA, John Brenan itu telah menciptakan kekacauan dan sentimen di kalangan pemimpin negara sekutu nya dan kalangan politikus.

Bahkan terbaru dari kalangan agamis karena menyamakan dirinya seperti Yesus Kristus serta mencaci Pemimpin Umat Katolik se Dunia, Paus Leo XIV.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez dan putra mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan dari  Uni Emirat Arab, Selasa (14/4/2026) kemarin berturut-turut juga telah menemui Presiden China, Xi Jinping di Beijing.

Sebelumnya, Donald Trump juga mengecam Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengecam dan mencaci Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni serta merendahkan harga diri Presiden Prancis, Emanuele Macron.

Dan sampai kini 'pemberontakan' terhadap perilaku Amerika Serikat dibawah pemerintahan Donald Trump itu terus mengalir deras.

Saat bertemu Perdana Menteri Spanyol, Presiden Xi Jinping mengatakan, bahwa Spanyol dan China adalah negara-negara yang 'bermoral tinggi', karenanya harus memperkuat kerja sama.

"China dan Spanyol adalah negara-negara berprinsip yang bertindak dengan moral yang benar, dan keduanya bersedia berdiri di sisi yang benar dalam sejarah," kata Xi kepada Sánchez saat resepsi untuk menghormatinya.

Pemimpin kekuatan Asia itu juga mendesak perdana menteri Spanyol untuk menentang kemunduran dunia menuju hukum rimba, dan bersama-sama menjaga multilateralisme sejati.

"Mari kita bersama-sama mencari cara untuk memperkuat sistem multilateral dan hukum internasional, yang berulang kali dan sangat berbahaya dilemahkan ketika dibutuhkan lebih dari sebelumnya," jawab Sanchez.

Sudah empat kali Sanchez secara resmi berkunjung ke China dalam waktu kurang lebih tiga tahun.

Kedua pemimpin tersebut menunjukkan persatuan ditengah meningkatnya ketegangan antara Spanyol dan Amerika Serikat.

"Tidak seorang pun boleh tersinggung dengan kunjungan ini," tegas Sanchez menanggapi bagaimana pemerintah AS mungkin menafsirkan upayanya untuk menjalin hubungan dengan China.

Dalam kunjungan itu Sanchez sempat menyoroti dimensi geopolitik. "Kita hidup dimasa perubahan. Tatanan internasional yang telah berlaku sejak paruh kedua abad ke-20. Sayangnya, sedang dirusak oleh para pemain penting di panggung internasional," ujarnya.

Sanchez juga mengatakan, bahwa ia berkesempatan membahas "situasi genting" di Lebanon, Gaza, Iran, Selat Hormuz serta Ukraina. Karenanya ia mendesak China untuk terus aktif berkontribusi dalam memperkuat sistem multilateral dan penyelesaian konflik.

"Saya merasa sangat sulit membayangkan mitra lain yang mampu menyelesaikan situasi di Iran dan Selat Hormuz, selain China," katanya lagi.

Saat menerima putra mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Xi juga bertukar pandangan mengenai situasi terkini di Timur Tengah dan kawasan Teluk.

Dalam kesempatan itu Xi menekankan posisi China dalam mempromosikan perdamaian dan dialog, serta menegaskan kembali bahwa China akan terus memainkan peran konstruktif dalam hal ini.

Xi kemudian menyerukan untuk berpegang teguh pada prinsip hidup berdampingan secara damai. Negara-negara di Timur Tengah dan kawasan Teluk saling bergantung dan merupakan tetangga yang tak terpisahkan.

Upaya harus dilakukan untuk mendukung negara-negara ini dalam meningkatkan hubungan mereka, dan sangat penting untuk mempromosikan pembangunan arsitektur keamanan bersama, komprehensif, kooperatif, dan berkelanjutan untuk Timur Tengah dan kawasan Teluk.

Ia mendesak agar prinsip kedaulatan nasional dipatuhi. Kedaulatan berfungsi sebagai fondasi bagi semua negara, terutama negara berkembang, untuk bertahan hidup dan berkembang, dan tidak boleh dilanggar.

Kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah negara-negara di Timur Tengah dan kawasan Teluk harus dihormati sepenuhnya, dan keselamatan personel, fasilitas, dan lembaga semua negara harus dijaga secara efektif.

Mengenai kepatuhan pada prinsip supremasi hukum internasional, Xi mengatakan bahwa otoritas supremasi hukum internasional harus dijunjung tinggi, menolak penerapan selektif untuk mencegah dunia kembali jatuh ke dalam hukum rimba.

Ia menyerukan untuk secara tegas menjunjung tinggi sistem internasional dengan PBB sebagai intinya, tatanan internasional berdasarkan hukum internasional, dan norma-norma dasar hubungan internasional yang didukung oleh tujuan dan prinsip-prinsip Piagam PBB. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Widodo Irianto
PenulisWidodo IriantoPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia