Dampak Blokade Selat Hormuz, Ratusan Penerbangan Dibatalkan
Dampak blokade Selat Hormuz mulai terasa dan maskapai penerbangan di Dunia mulai memberlakukan pembatalan ratusan penerbangan.
JAKARTA – Dampak blokade Selat Hormuz mulai terasa dan maskapai penerbangan di Dunia mulai memberlakukan pembatalan ratusan penerbangan.
Dua maskapai penerbangan terbesar Eropa misalnya, telah membatalkan ratusan penerbangan karena melonjaknya biaya bahan bakar yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.
Lufthansa hari ini mengumumkan, bahwa anak perusahaan regionalnya, Lufthansa CityLine, akan menangguhkan operasional mulai Sabtu besok ditengah tingginya harga bahan bakar dan perselisihan tenaga kerja.
Begitu juga dengan maskapai penerbangan KLM telah membatalkan 160 penerbangan hingga sebulan mendatang karena kenaikan biaya bahan bakar.
Harga bahan bakar jet telah meningkat hampir dua kali lipat sejak dimulainya Amerika Serikat dan Israel secara tiba-tiba memerangi Iran, kenaikan harga yang bahkan lebih tajam daripada lonjakan harga bensin dan solar.
Sebagai respons, maskapai penerbangan di seluruh dunia mulai ada yanh mengurangi rute , menaikkan tarif, menambahkan biaya tambahan bahan bakar serta menaikkan biaya bagasi .
Sehari sebelumnya, Badan Energi Internasional (IEA) telah memperingatkan bahwa benua Eropa diperkirakan hanya akan memiliki persediaan bahan bakar jet selama 'enam minggu' lagi.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol memberi gambaran yang mengerikan tentang dampak global dari apa yang ia sebut sebagai 'krisis energi terbesar yang pernah kita hadapi' dalam sebuah wawancara dengan AP, yang berakar dari terhambatnya pasokan minyak, gas, dan pasokan vital lainnya melalui Selat Hormuz.
"Dahulu ada sebuah kelompok bernama 'Dire Straits' (situasi genting). Sekarang situasinya memang genting, dan ini akan berdampak besar pada perekonomian global. Dan semakin lama berlanjut, semakin buruk dampaknya bagi pertumbuhan ekonomi dan inflasi di seluruh dunia," katanya.
"Dampaknya akan berupa kenaikan harga bensin , kenaikan harga gas, dan kenaikan harga listrik," tambah Birol. Beberapa bagian dunia lainnya juga akan 'terkena dampak lebih buruk lagi.
"Garis depan adalah negara-negara Asia yang selama ini bergantung pada energi dari Timur Tengah," katanya, dan ia menyebut Jepang , Korea, India , China , Pakistan , dan Bangladesh.
"Kemudian akan sampai ke Eropa dan Amerika," tambahnya saat berbicara dari kantornya di Paris sambil memandang Menara Eiffel.
Jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali, lanjutnya, untuk Eropa, ia katakan segera akan tetdengar berita bahwa beberapa penerbangan dari kota A ke kota B mungkin dibatalkan akibat kekurangan bahan bakar jet.
BLokade Selama Diperlukan
Sementara itu Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan, blokade AS di Selat Hormuz yang menargetkan pelabuhan Iran akan berlangsung 'selama diperlukan'.
Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran itu diberlakukan sejak hari Senin, dan Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa kapal-kapal penyerang akan "dilenyapkan" jika mereka mencoba menerobos blokade tersebut.
"Amerika Serikat akan mencegah semua pengiriman barang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran di Selat Hormuz "selama diperlukan," kata Pete Hegseth, Kamis kemarin.
AS memperluas upayanya memblokir pelabuhan Iran di Selat Hormuz yang penting. Pemerintahan Trump berupaya menunjukkan bahwa kehebatan militernya telah menyebabkan kehancuran pada kemampuan Iran. Namun, para pejabatnya telah memberikan pesan yang saling bertentangan tentang seberapa parah kehancuran tersebut.
Laporan NBC News awal pekan ini menyebutkan, bahwa laporan intelijen AS menunjukkan bahwa China berencana untuk menyediakan persenjataan pertahanan udara baru kepada Iran dalam beberapa minggu mendatang. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


