Gencatan Senjata Israel–Lebanon Tuai Pujian dan Kritik, Dinilai Jadi Momentum Perdamaian
Gencatan senjata Israel-Lebanon menuai pujian dan kritik. AS menyebutnya langkah menuju perdamaian, sementara oposisi Israel menilai belum cukup.
JAKARTA – Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang mulai berlaku sejak tadi malam menuai beragam respons. Sejumlah pihak memuji langkah tersebut sebagai kemajuan menuju perdamaian, sementara pihak lain justru mengkritiknya.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut gencatan senjata itu sebagai perkembangan positif yang berpotensi mempercepat tercapainya kesepakatan damai permanen antara Israel dan Lebanon, yang hingga kini belum memiliki hubungan diplomatik.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyebut momentum tersebut sebagai hari “bersejarah” bagi Lebanon. Ia juga berharap gencatan senjata dapat menjadi jalan menuju perdamaian jangka panjang.
“Saya harap Hizbullah bertindak dengan baik selama periode penting ini. Tidak ada lagi pembunuhan. Harus ada perdamaian,” tulisnya.
Namun, sikap berbeda datang dari kalangan oposisi Israel. Mereka menilai gencatan senjata belum menjadi solusi, bahkan menginginkan operasi militer dilanjutkan hingga ancaman Hizbullah dihilangkan sepenuhnya.
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, mengkritik kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari tersebut. Menurutnya, konflik di Lebanon hanya dapat diakhiri dengan penghapusan ancaman terhadap wilayah utara Israel.
“Konfrontasi di Lebanon hanya dapat berakhir dengan satu cara, yakni penghapusan permanen ancaman terhadap permukiman di utara,” ujarnya dalam pernyataan daring.
Gencatan senjata ini tercapai setelah komunikasi antara Presiden Lebanon Joseph Aoun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, sejumlah kelompok perlawanan di kawasan Timur Tengah menyambut gencatan senjata tersebut sebagai kemenangan bagi Hizbullah. Gerakan Ansarullah Yaman dan beberapa faksi Palestina menyatakan dukungannya terhadap kesepakatan tersebut.
Dalam pernyataannya, Ansarullah menyebut gencatan senjata sebagai hasil dari keteguhan perlawanan yang dinilai mampu menekan Israel hingga menyetujui penghentian konflik.
“Pencapaian ini merupakan hasil keteguhan perlawanan yang pada akhirnya memaksa musuh menerima gencatan senjata,” demikian pernyataan tersebut.
Sementara itu, Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, mengkritik proses negosiasi yang melibatkan pertemuan delegasi Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat di Washington.
Dalam wawancara dengan media setempat, Berri menyatakan bahwa upaya diplomasi seharusnya berfokus pada perdamaian, bukan langkah yang berpotensi memicu konflik baru.
“Mereka pergi untuk membawa perdamaian, tetapi kembali dengan langkah yang berpotensi memicu konflik,” ujarnya.
Berri juga menegaskan penolakannya terhadap negosiasi langsung dengan Israel. Ia menilai prioritas utama saat ini adalah menjaga stabilitas dalam negeri dan memperkuat persatuan nasional Lebanon.
Gencatan senjata ini dinilai sebagai titik awal penting, namun keberlanjutannya masih bergantung pada komitmen para pihak untuk menjaga stabilitas dan melanjutkan proses diplomasi secara konstruktif. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


