Parlemen Iran Tuduh Trump Sebar Klaim Palsu soal Selat Hormuz
Parlemen Iran menuding Donald Trump menyebarkan klaim palsu terkait Selat Hormuz di tengah ketegangan dan negosiasi dengan Amerika Serikat.
JAKARTA – Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Baqer Qalibaf, menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan klaim tidak akurat terkait Selat Hormuz dan kebijakan yang diterapkan Iran.
Qalibaf menyebut pernyataan Trump sebagai bagian dari perang media dan upaya membentuk opini publik. Namun, ia menegaskan bahwa masyarakat Iran tidak akan terpengaruh oleh strategi tersebut.
“Presiden AS membuat tujuh klaim dalam rentang waktu satu jam, dan ketujuh klaim tersebut salah,” tulis Qalibaf melalui akun X.
Ia juga meminta publik merujuk pada keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Iran untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai proses negosiasi yang berlangsung.
Sebelumnya, melalui platform Truth Social, Trump mengklaim bahwa Iran telah “setuju untuk tidak pernah menutup Selat Hormuz lagi.” Ia juga menyatakan bahwa blokade angkatan laut Amerika Serikat akan tetap diberlakukan terhadap Iran hingga seluruh proses transaksi antara kedua negara selesai.
Selain itu, Trump menyebut bahwa negosiasi gencatan senjata akan berlangsung cepat karena sebagian besar poin telah disepakati.
Menanggapi hal tersebut, Qalibaf menegaskan bahwa jika blokade Amerika Serikat tetap berlanjut, maka Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka. Ia juga menyampaikan bahwa pelayaran di selat tersebut akan diatur berdasarkan rute yang telah ditentukan serta izin dari pihak Iran.
“Apakah selat itu tetap terbuka atau tertutup, dan aturan yang mengaturnya, akan ditentukan di medan konflik, bukan di media sosial,” ujarnya.
Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz bagi pihak yang dianggap sebagai musuh dan sekutunya, setelah serangan yang disebut tanpa provokasi dari Amerika Serikat dan Israel pada 8 Februari.
Pada 7 April, Trump mengumumkan jeda serangan selama dua pekan. Kebijakan tersebut diambil setelah penutupan Selat Hormuz memicu gejolak pasar energi global, termasuk kenaikan harga bahan bakar.
Dalam periode tersebut, Iran dilaporkan melancarkan puluhan serangan balasan terhadap target Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Qalibaf menilai penggunaan informasi yang tidak akurat tidak memberikan keuntungan bagi Amerika Serikat, baik dalam konflik maupun proses negosiasi.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Iran tetap berpegang pada proposal 10 poin yang telah diajukan sebelumnya.
Proposal tersebut mencakup penghentian seluruh bentuk agresi terhadap Iran, pencabutan sanksi, serta pemberian kompensasi sebagai bagian dari kesepakatan.
Iran juga mengisyaratkan kemungkinan kembali menutup Selat Hormuz apabila blokade angkatan laut Amerika Serikat terus diberlakukan, meskipun sebelumnya jalur pelayaran tersebut sempat dibuka kembali setelah terganggu akibat konflik regional.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


