Advertisement
Peristiwa Internasional

Skema “Pecah Hotel” di Madinah, PPIH Pastikan Layanan Jemaah Haji Tetap Standar

PPIH menerapkan skema pecah hotel di Madinah karena keterbatasan kapasitas. Meski terpisah, layanan jemaah haji dipastikan tetap sama dan terstandar.

TIMES Indonesia,
Skema “Pecah Hotel” di Madinah, PPIH Pastikan Layanan Jemaah Haji Tetap Standar
Kamar hotel untuk jemaah haji Indonesia di Madinah. PPIH menyiapkan 118 Hotel di Madinah untuk 200 ribu jemaah haji Indonesia. (foto: Ahmad Nuril Fahmi/TIMES Indonesia)
A-AA+

MADINAH Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menerapkan skema “pecah hotel” dalam penempatan jemaah haji Indonesia di Madinah. Kebijakan ini dilakukan untuk menyesuaikan kapasitas hotel yang tidak selalu sebanding dengan jumlah jemaah dalam satu kloter.

Kasi Akomodasi Daker Madinah, Zaenal Muttaqin, menjelaskan bahwa karakteristik hotel di Madinah berbeda dengan di Makkah, sehingga pembagian jemaah dalam satu kloter ke lebih dari satu hotel menjadi hal yang tidak terhindarkan.

Advertisement

“Pecah hotel terjadi karena kapasitas hotel tidak selalu sesuai dengan jumlah jemaah dalam satu kloter. Jadi sebagian jemaah ditempatkan di hotel lain agar seluruh kapasitas tetap optimal,” ujarnya.

Ia mengilustrasikan, jika satu hotel hanya mampu menampung 1.000 orang sementara jumlah jemaah dalam tiga kloter mencapai 1.200 orang, maka kelebihan jemaah akan dialihkan ke hotel lain.

Meski demikian, PPIH berupaya menempatkan jemaah dalam zona atau wilayah yang sama. Namun dalam praktiknya, penempatan bisa berbeda sektor atau wilayah karena kepemilikan hotel oleh penyedia tidak selalu berada dalam satu lokasi.

“Kami prioritaskan tetap di zona yang sama. Tapi jika tidak memungkinkan, bisa saja jemaah ditempatkan di sektor atau wilayah lain,” katanya.

Zaenal menegaskan, skema pecah hotel tidak memengaruhi kualitas layanan yang diterima jemaah. Seluruh fasilitas telah distandarkan oleh PPIH, mulai dari akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga layanan ibadah seperti ziarah.

Advertisement

“Semua layanan sama, baik konsumsi, transportasi, maupun program ziarah. Perbedaan hanya pada kelas hotel, bukan pada layanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, mayoritas hotel yang digunakan berada pada kategori bintang tiga, namun terdapat pula sejumlah hotel dengan standar lebih tinggi.

Menurutnya, keterbatasan akomodasi di kawasan sekitar Masjid Nabawi menjadi tantangan tersendiri, mengingat seluruh negara pengirim jemaah haji bersaing mendapatkan hotel di lokasi strategis.

“Yang penting seluruh hotel sudah memenuhi standar pelayanan minimal, sehingga jemaah tetap mendapatkan layanan yang layak,” katanya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Nuril Fahmi
PenulisAhmad Nuril FahmiSarjana Ilmu Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Bergabung dengan TIMES Indonesia dan bertugas di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak 2020. Sudah meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia