Advertisement
Peristiwa Internasional

Trump Ubah Nama Selat Hormuz menjadi “Strait of Trump”, Iran Balas dengan Sindiran Sejarah

Pernyataan Donald Trump soal “Strait of Trump” picu respons keras Iran. Pejabat Iran menegaskan sejarah dan identitas kawasan tak bisa diubah.

TIMES Indonesia,
Trump Ubah Nama Selat Hormuz menjadi “Strait of Trump”, Iran Balas dengan Sindiran Sejarah
Presiden AS Donald Trump memposting gambar dari olah kecerdasan buatan yang mengangti nama Strait of Hormuz menjadi “Strait of Trump” di media sosial miliknya.
A-AA+

JAKARTA Kontroversi geopolitik imbas perang Iran kembali mencuat. Kali ini dipicu unggahan simbolik yang berujung respons diplomatik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump membagikan gambar berbasis kecerdasan buatan yang menampilkan Selat Hormuz dengan nama baru: “Strait of Trump” pada 30 April lalu.

Unggahan tersebut langsung mendapat tanggapan keras dari pejabat Iran. Salah satunya datang dari mantan Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Velayati, yang menilai langkah itu sebagai bentuk distorsi sejarah.

Advertisement

Iran: Sejarah Tak Bisa Ditawar

Velayati menyampaikan kritik dengan nada satir, merujuk pada sejarah kolonial dan peta kuno yang telah lama mencatat nama Teluk Persia dan kawasan sekitarnya, termasuk Strait of Hormuz.

Ia menyindir bahwa jauh sebelum Amerika Serikat berdiri, nama-nama geografis di kawasan tersebut sudah memiliki legitimasi historis yang kuat.

“Sejarah tidak untuk dijual,” tegasnya, menegaskan bahwa identitas kawasan tidak bisa diubah melalui narasi sepihak, terlebih lewat medium simbolik seperti gambar AI.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis bagi distribusi energi dunia. Sekitar sepertiga pasokan minyak global melewati jalur ini, menjadikannya titik vital dalam peta geopolitik internasional.

Pernyataan Velayati juga menggarisbawahi posisi Iran bahwa keamanan di kawasan tersebut merupakan tanggung jawab negara-negara regional, bukan kekuatan eksternal.

Advertisement

Ia merujuk pada pesan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang menekankan bahwa stabilitas di Hormuz adalah hak dan tanggung jawab masyarakat kawasan.

Dalam pernyataannya, Velayati menyebut bahwa di tengah “sirkus ancaman dan distorsi”, Iran tetap berpegang pada prinsip kedaulatan dan sejarah.

Ia juga menyinggung konflik internal di negara-negara luar kawasan, sebagai kritik terhadap pihak yang dinilai mencoba mencampuri urusan regional. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia