AS Tinjau Ulang Kehadiran Militer di Jerman, Kebijakan Rudal Jarak Jauh Akan Dibatalkan
Presiden AS Donald Trump berencana mengurangi 5.000 tentara di Jerman dan meninjau ulang pengerahan rudal jarak jauh (Tomahawk). Langkah ini menyusul kritik dari Kanselir Friedrich Merz dan peringatan keras dari Vladimir Putin.
JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan meninjau kembali keputusan pengerahan batalion yang dilengkapi senjata jarak jauh sebagai bagian dari rencana pengurangan kehadiran militernya di Jerman. Laporan yang dirilis oleh Financial Times pada Minggu (3/5/2026) menyebutkan bahwa langkah ini diambil seiring dengan kebijakan Pentagon untuk merampingkan jumlah personel di Eropa.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan pada Sabtu (2/5) bahwa dirinya berencana mengurangi jumlah pasukan Amerika di Jerman hingga lebih dari 5.000 tentara. Keputusan ini mencuat setelah Kanselir Jerman, Friedrich Merz, melontarkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan Trump terkait ketegangan dengan Iran.
Rencana pengurangan personel tersebut dilaporkan turut membahayakan upaya pengerahan berbagai senjata strategis jarak jauh, termasuk rudal jelajah Tomahawk. Seorang pejabat Pentagon mengungkapkan bahwa Gedung Putih kemungkinan besar akan membatalkan keputusan mantan Presiden Joe Biden terkait penempatan garnisun jarak jauh di wilayah Jerman.
Sebagai informasi, pada Juli 2024, pemerintahan Joe Biden dan Pemerintah Jerman telah menyepakati penempatan senjata presisi tinggi milik AS di Jerman secara bertahap mulai tahun 2026. Alokasi senjata tersebut mencakup rudal standar SM-6, rudal jelajah subsonik Tomahawk, serta pengembangan rudal hipersonik.
Namun, rencana pengerahan senjata ini terus memicu ketegangan di kawasan. Pada Oktober 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperingatkan bahwa Moskow akan memberikan respons serius jika wilayahnya menjadi sasaran serangan rudal Tomahawk.
Putin juga menegaskan bahwa diskusi mengenai penyediaan rudal Tomahawk, termasuk potensi penggunaannya dalam konflik Ukraina, merupakan bentuk eskalasi yang berbahaya. Menurutnya, respons Rusia bisa menjadi sesuatu yang "serius, bahkan mungkin mengejutkan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


