Dunia Sedang "Memburu" Penumpang yang Diduga Terinveksi Hantavirus
Pihak berwenang di seluruh dunia saat ini ramai-ramai "memburu" orang-orang penumpang kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda setelah berlayar dari Argentina ke Tanjung Verde pada bulan April, setelah kapal tersebut dinyatakan terinfeksi hantavirus yan
JAKARTA – Pihak berwenang di seluruh dunia saat ini ramai-ramai "memburu" orang-orang penumpang kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda setelah berlayar dari Argentina ke Tanjung Verde pada bulan April, setelah kapal tersebut dinyatakan terinfeksi hantavirus yang mematikan.
Hantavirus adalah sekelompok virus yang terutama ditemukan pada hewan pengerat, tetapi dapat menginfeksi manusia dan menyebabkan gejala seperti flu, sindrom paru-paru, dan gagal pernapasan. Hantavirus Andes bisa menyebar diantara manusia melalui kontak yang sangat dekat, tetapi kurang menular seperti virus Covid. Belum ada vaksin untuk hantavirus.
Strain yang berbeda ditemukan di berbagai belahan dunia. Virus ini bisa menyebar ke manusia, biasanya melalui inhalasi tetesan atau debu yang terkontaminasi urin, feses, atau air liur dari hewan yang terinfeksi.
Pada manusia, infeksi hantavirus bisa menyebabkan penyakit yang mengancam jiwa. Strain dunia lama, yang ditemukan di Eropa dan Asia, cenderung menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS), penyakit ginjal yang berakibat fatal pada sekitar 10% kasus. Strain dunia baru, yang ditemukan di Amerika, lebih ganas, menyebabkan sindrom paru hantavirus (HPS), yang bisa membunuh lebih dari sepertiga dari mereka yang terinfeksi.
Perburuan kali ini, seperti dilansir The Guardian, dilakukan setelah Kamis kemarin terungkap untuk pertama kalinya, bahwa setidaknya 29 penumpang dari 12 kewarganegaraan meninggalkan kapal MV Hondius pada tanggal 24 April setelah "kecelakaan" fatal pertama, yang memicu upaya untuk mengidentifikasi dan melacak pergerakan mereka sejak saat itu.
"Orang Australia itu kembali ke Australia, yang dari Taiwan kembali ke Taiwan, orang Amerika ke seluruh penjuru Amerika Utara. Orang Inggris kembali ke Inggris, orang Belanda kembali ke rumah mereka," kata seorang penumpang Spanyol, yang masih berada di atas kapal Hondius, kepada El Pais .
Menurut Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA), dua penumpang yang melakukan isolasi mandiri di rumah setelah kembali ke Inggris tidak menunjukkan gejala apa pun. Profesor Robin May, kepala petugas ilmiah badan tersebut, menyatakan bahwa kedua penumpang tersebut dan penumpang lain yang kembali akan diminta untuk melakukan isolasi mandiri selama 45 hari . "Bagi masyarakat luas, yang tidak terlibat langsung dalam kapal pesiar ini, risikonya sangat kecil," kata May.
Dua warga Singapura yang pernah berada di kapal Hondius juga telah diisolasi dan sedang menjalani tes, kata pejabat Singapura. Seorang warga negara Denmark yang pernah berada di kapal pesiar tersebut sedang menjalani karantina mandiri dan tidak menunjukkan gejala apa pun, kata Otoritas Keselamatan Pasien Denmark.
Sejauh ini tiga orang telah meninggal dunia sejak 11 April yang diduga terinfeksi hantavirus. Tiga orang itu terdiri dari pasangan suami istri asal Belanda dan seorang wanita asal Jerman. Hingga Kamis kemarin terdapat delapan kasus, lima diantaranya dikonfirmasi sebagai hantavirus melalui tes laboratorium.
Oceanwide Expeditions, perusahaan kapal pesiar Belanda yang mengoperasikan kapal tersebut, mengatakan, bahwa 29 orang dan jenazah korban pertama telah turun di wilayah Inggris, Saint Helena, pada tanggal 24 April 2026. Perusahaan tersebut menambahkan bahwa kasus hantavirus pertama yang dikonfirmasi baru dilaporkan pada tanggal 4 Mei 2026. Para penumpang yang turun, termasuk enam warga negara AS dan tujuh warga negara Inggris telah dihubungi, kata perusahaan itu. Sebagian besar, jika tidak semua, diyakini telah kembali ke rumah.
Penumpang pertama jatuh sakit di atas kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda itu saat berlayar dari Argentina ke Tanjung Verde pada bulan April. Gejalanya termasuk demam, masalah pencernaan, pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, dan syok.
Jenazah pria asal Belanda yang meninggal di atas kapal tersebut telah diturunkan di Saint Helena, wilayah Inggris. Ia tidak dites untuk virus tersebut. Istrinya kemudian jatuh sakit dan kondisinya memburuk dalam penerbangan ke Johannesburg, Afrika Selatan. Ia meninggal saat tiba di rumah sakit di sana. Tes mengkonfirmasi bahwa ia terinfeksi virus. Pihak berwenang sekarang melacak orang-orang yang berinteraksi dengannya selama perjalanan. Sedangkan jenazah wanita Jerman yang meninggal masih berada di atas kapal.
Seorang pria yang mendatangi dokter kapal dengan gejala-gejala tertentu dievakuasi dari Ascension ke Afrika Selatan, dimana ia dirawat di ruang perawatan intensif tetapi diyakini kondisinya membaik. Ia juga dinyatakan positif terinfeksi virus tersebut.
Seorang pria lain yang turun di Saint Helena telah kembali ke Swiss, tetapi mencari perawatan medis di Zurich setelah mengalami gejala. Ia kini telah dirawat dan dinyatakan positif terinfeksi hantavirus.
Tiga kasus lainnya dievakuasi ke Belanda untuk perawatan. Salah satunya adalah anggota kru berkebangsaan Belanda, dan yang lainnya adalah seorang wanita Jerman yang kemudian terbang ke Düsseldorf. Martin Anstee, seorang pensiunan petugas polisi Inggris berusia 56 tahun yang bekerja di kapal sebagai pemandu ekspedisi, dirawat di rumah sakit di Leiden.
Pada hari Kamis, seorang wanita di Amsterdam, yang dilaporkan sebagai pramugari yang melakukan kontak dengan wanita yang meninggal di Afrika Selatan, muncul dengan gejala yang berpotensi seperti COVID-19.
Dua warga Inggris yang meninggalkan kapal di Saint Helena pada akhir April juga telah kembali ke Inggris dan sedang menjalani isolasi mandiri. Keduanya tidak melaporkan gejala apa pun. Kontak dekat dari mereka yang berada di kapal tersebut juga sedang menjalani isolasi mandiri.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menepis kemungkinan krisis ini sebesar Covid-19. "Ini bukan awal dari epidemi. Ini bukan awal dari pandemi. Ini bukan Covid-19," kata Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi di WHO, Dr. Maria Van Kerkhove kepada wartawan.
Namun Kementerian Kesehatan Belanda mengatakan seorang wanita yang tidak berada di kapal tersebut sedang menjalani tes hantavirus dan dirawat di ruang isolasi di sebuah rumah sakit di Amsterdam setelah menunjukkan gejala. Hasil tes positif dapat menjadikannya orang pertama yang diketahui tidak berada di kapal MV Hondius yang terinfeksi dalam wabah tersebut.
WHO menyatakan bahwa lima dari delapan kasus yang diduga terkait dengan kapal tersebut telah dikonfirmasi dan kasus lainnya mungkin akan teridentifikasi.
"Mengingat masa inkubasi virus Andes, yang bisa mencapai enam minggu, ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan," tambah Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers. "Meskipun ini merupakan insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat rendah," katanya lagi.
Upaya untuk melacak penumpang kapal pesiar MV Hondius yang sudah turun dari kapal itu terjadi ketika kapal dengan 149 orang yang masih berada di dalamnya itu, meninggalkan perairan sekitar Tanjung Verde, tempat kapal tersebut ditolak izin untuk berlabuh, dan saat ini sedang menuju Tenerife, di Kepulauan Canary Spanyol, tempat kapal tersebut diperkirakan akan tiba sekitar tengah hari pada hari Minggu.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

