Advertisement
Peristiwa Internasional

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Mendunia, Pelacakan Penumpang Lintas Negara Dimulai

Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu pelacakan lintas negara setelah tiga penumpang tewas dan puluhan lainnya sempat turun tanpa pemeriksaan.

TIMES Indonesia,
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Mendunia, Pelacakan Penumpang Lintas Negara Dimulai
Kapal pesiar MV Hondius yang menjadi pusat wabah Hantavirus berlayar menuju Kepulauan Canary di Spanyol untuk proses evakuasi dan penanganan medis lebih lanjut. Kapal pesiar berbendera Belanda ini dijadwalkan tiba pada 9 Mei 2026.
A-AA+

JAKARTA Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan otoritas kesehatan di empat benua kini berpacu dengan waktu melacak para penumpang kapal pesiar MV Hondius yang sempat turun dari kapal sebelum wabah hantavirus terdeteksi secara resmi. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru karena sebagian penumpang telah berpindah lintas negara tanpa pelacakan kontak sejak akhir April 2026.

Kasus ini menjadi perhatian global setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia, terdiri dari pasangan asal Belanda dan seorang warga Jerman. Sementara sejumlah penumpang lain masih menjalani perawatan maupun pemantauan medis di beberapa negara.

Advertisement

WHO menilai risiko bagi masyarakat umum masih rendah. Namun, pelacakan internasional terus diperketat karena virus yang ditemukan merupakan Andes virus, satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia.

Penumpang Turun Sebelum Wabah Dikonfirmasi

Persoalan utama muncul karena pada 24 April 2026, lebih dari dua lusin penumpang dari sedikitnya 12 negara turun di Pulau St. Helena, wilayah Inggris di Atlantik Selatan, sebelum hasil laboratorium memastikan adanya infeksi hantavirus di kapal tersebut.

Operator kapal asal Belanda, Oceanwide Expeditions, menyebut total 30 penumpang meninggalkan kapal saat singgah di St. Helena. Namun Kementerian Luar Negeri Belanda memperkirakan jumlahnya mendekati 40 orang.

Padahal, kasus pertama baru dikonfirmasi pada 2 Mei 2026, ketika seorang pria asal Inggris yang dievakuasi ke Afrika Selatan dinyatakan positif hantavirus dan dirawat intensif.

Kondisi itu membuat sejumlah negara kini harus melakukan penelusuran kontak secara agresif. Singapura, Swiss, Afrika Selatan, Prancis, Belanda hingga wilayah St. Helena mulai mengisolasi dan memantau warga yang memiliki riwayat kontak dengan penumpang kapal.

Advertisement

Dugaan Sumber Wabah Mengarah ke Argentina

Investigasi internasional kini mengarah ke Amerika Selatan, khususnya Argentina. WHO menyebut pasangan Belanda yang menjadi kasus pertama sempat melakukan perjalanan pengamatan burung di Argentina sebelum naik kapal pesiar.

Kementerian Kesehatan Argentina menduga pasangan tersebut kemungkinan terpapar Andes virus di wilayah Ushuaia, kota paling selatan Argentina yang dikenal sebagai pintu gerbang Antartika.
Tim ilmuwan dari Institut Malbrán dilaporkan akan diterjunkan ke Ushuaia untuk memeriksa populasi tikus liar di lokasi pembuangan sampah. Langkah itu dilakukan untuk memastikan apakah hewan pengerat di kawasan tersebut membawa Andes virus.

WHO juga menyatakan pasangan Belanda itu sebelumnya melakukan perjalanan di Argentina, Chile, dan Uruguay, termasuk mengunjungi area habitat tikus pembawa virus.

Andes Virus Jadi Perhatian Dunia

Berbeda dari sebagian besar hantavirus lain yang umumnya menular melalui kotoran atau urin tikus yang terhirup manusia, Andes virus memiliki karakteristik lebih berbahaya karena diduga dapat menyebar antarmanusia.

Virus ini dapat menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS), penyakit paru berat yang sering berujung fatal. Gejalanya dapat muncul dalam rentang satu hingga delapan minggu setelah paparan.
Sedikitnya lima orang di kapal telah dipastikan terinfeksi virus tersebut.

Direktur Kesiapsiagaan dan Respons WHO, Dr. Abdirahman Mahamud, mengatakan wabah diyakini masih bisa dikendalikan jika seluruh negara menjalankan langkah kesehatan masyarakat secara disiplin.
“Kami percaya ini akan menjadi wabah terbatas jika langkah kesehatan publik diterapkan dan solidaritas antarnegara berjalan baik,” ujarnya.

Pelacakan Meluas hingga Awak Pesawat

Kekhawatiran baru muncul setelah seorang pramugari maskapai di Belanda mengalami gejala yang mengarah pada hantavirus. Ia sebelumnya sempat berada dalam penerbangan yang ditumpangi salah satu penumpang kapal yang terinfeksi.

Penumpang tersebut adalah perempuan Belanda yang suaminya meninggal di kapal. Ia sempat naik pesawat di Johannesburg sebelum akhirnya diturunkan karena kondisi kesehatannya memburuk dan kemudian meninggal di Afrika Selatan.

Jika hasil tes pramugari itu positif, maka ia akan menjadi orang pertama di luar kapal MV Hondius yang tertular dalam rangkaian wabah ini.

Sementara itu, kapal MV Hondius kini masih berlayar menuju Kepulauan Canary, Spanyol, dengan lebih dari 140 penumpang dan awak kapal masih berada di atasnya.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan dirinya terus berkomunikasi dengan kapten kapal dan menyebut kondisi psikologis penumpang mulai membaik setelah kapal kembali bergerak.
Angka Kematian Hantavirus di Argentina Naik

Data Kementerian Kesehatan Argentina menunjukkan hantavirus masih menjadi ancaman serius di negara tersebut. Sepanjang 2025, tercatat 28 kematian akibat hantavirus, meningkat dibanding rata-rata 15 kematian per tahun dalam lima tahun sebelumnya. Hampir sepertiga kasus yang tercatat tahun lalu berakhir fatal.

WHO kini mengirimkan 2.500 alat diagnostik dari Argentina ke laboratorium di lima negara untuk mempercepat pemeriksaan dan mendukung pelacakan internasional. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia