Advertisement
Peristiwa Internasional

Kebijakan Tarif Trump Dinilai Bikin Ekonomi AS Babak Belur

Ekonom Moody's sebut tarif Liberation Day Trump telah merusak ekonomi AS. Inflasi naik, pertumbuhan pekerjaan stagnan. Kini perang dengan Iran dan lonjakan harga minyak menambah ancaman resesi global.

TIMES Indonesia,
Kebijakan Tarif Trump Dinilai Bikin Ekonomi AS Babak Belur
Presiden AS Donald Trump (FOTO: AP)
A-AA+

JAKARTA Setelah lebih dari satu tahun pemberlakuan tarif Liberation Day, sejumlah ekonom mulai menarik kesimpulan tegas. Mark Zandi, Kepala Ekonom Moody's Analytics, menyatakan bahwa data menunjukkan kebijakan tarif Trump telah menyebabkan kerusakan signifikan terhadap ekonomi Amerika Serikat.

"Sejak hari itu, pertumbuhan pekerjaan terhenti, dengan hanya industri perawatan kesehatan non-perdagangan yang secara berarti menambah jumlah pekerja," kata Zandi dikutip dari laman fortune.com, Sabtu (9/5/2026)

Advertisement

Ia juga mencatat bahwa inflasi telah meningkat. Deflator pengeluaran konsumen naik pada laju 3 persen tahun-ke-tahun, naik dari 2,5 persen sebelum tarif dan jauh di atas target Federal Reserve yaitu 2 persen.

Pandangan ini berseberangan dengan pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang menyebut tarif sebagai "anjing yang tidak menggonggong" dan berpendapat bahwa guncangan sisi penawaran tidak menyebabkan inflasi.

"Kami tidak setuju," tulis Aditya Bhave, Kepala Ekonom AS Bank of America, pekan lalu. "Guncangan pasokan bersifat inflasioner karena menggeser kurva penawaran agregat ke atas. Sejak Liberation Day, belanja konsumen riil melambat, tingkat tabungan menurun, dan inflasi PCE headline telah meningkat lebih dari 40 basis poin."

Pendapatan Tarif Melonjak Meski Kontroversial

Untuk tahun kalender 2025 penuh, Departemen Keamanan AS mengumpulkan 287 miliar dolar AS bea cukai, pajak, dan biaya, naik 192 persen dari tahun sebelumnya. Namun, pada bulan Februari, Mahkamah Agung memutuskan bahwa tarif tersebut inkonstitusional karena landasan hukumnya (IEEPA). Gedung Putih kemudian mengandalkan undang-undang lain untuk mempertahankannya.

Advertisement

Bessent sendiri mengakui bahwa pendapatan yang dikumpulkan di bawah IEEPA kemungkinan akan disalurkan ke pengadilan perdagangan internasional untuk didistribusikan kembali ke bisnis. "Saya rasa itu bisa berlarut-larut selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun," ujarnya.

Perang Iran Memicu Guncangan Pasokan Baru

Kini, krisis baru muncul. Harga minyak meroket akibat perang AS dan Israel dengan Iran.

"Garis trennya tidak terlihat bagus. Harga energi dan komoditas yang lebih tinggi yang disebabkan oleh perang mengancam akan melakukan lebih banyak kerusakan ekonomi daripada tarif," kata Zandi.

Mohamed El-Erian, mantan CEO Pimco, pekan lalu memperingatkan bahwa dunia akan menghindari resesi asalkan Selat Hormak dibuka kembali dalam 4 hingga 8 minggu ke depan. "Jika tidak dibuka kembali, situasinya akan terlihat sangat berbeda," tegasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia