Wamenhaj: Kampung Haji Terinspirasi dari Wakaf Habib Bugak di Makkah
Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut gagasan Kampung Haji Presiden Prabowo terinspirasi dari wakaf Baitul Asyi yang diwariskan Habib Bugak Asyi sejak 1809.
MAKKAH – Inisiatif pembangunan Kampung Haji yang digagas Presiden Prabowo Subianto disebut terinspirasi dari sejarah panjang kontribusi masyarakat Aceh terhadap penyelenggaraan ibadah haji, salah satunya melalui wakaf Baitul Asyi yang diikrarkan Habib Bugak Asyi lebih dari dua abad lalu.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Haji (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak usai mengunjungi hotel jemaah haji Indonesia asal Aceh di Burj Al Wahda Almutamayiz Hotel, sektor 6 Makkah, Jumat (22/5/2026).
Dahnil menjelaskan, wakaf Baitul Asyi diikrarkan oleh Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi atau yang dikenal sebagai Habib Bugak Asyi pada tahun 1224 Hijriah atau 1809 Masehi di hadapan Hakim Mahkamah Syariah Makkah. Menurutnya, warisan tersebut menjadi inspirasi penting bagi lahirnya gagasan Kampung Haji.
"Nah itu sebenarnya apa yang dilakukan Habib Bugak dulu itu adalah inspirasi Kampung Haji. Jadi Pak Prabowo menginisiasi Kampung Haji itu salah satu inspirasinya adalah apa yang dilakukan oleh Habib Bugak," kata Dahnil.
Menurut dia, apa yang dilakukan Habib Bugak menunjukkan bagaimana sebuah wakaf dapat menghadirkan manfaat jangka panjang. Hingga saat ini, manfaat dari wakaf tersebut masih dirasakan oleh jemaah haji asal Aceh.
"Bayangkan itu sudah dilakukan 200 tahun lalu tapi kebermanfaatannya masih sampai dengan hari ini untuk warga Aceh. Jadi ketika ada inisiasi Kampung Haji yang perlu dipahami oleh rakyat Indonesia terutama rakyat Aceh, itu adalah inspirasi dari rakyat Aceh atau Habib Bugak," ujarnya.
Dahnil yang merupakan kelahiran Tamiang, Aceh, juga menyoroti kontribusi lain masyarakat Aceh dalam sejarah haji Indonesia. Salah satunya terkait pesawat Seulawah yang menjadi cikal bakal lahirnya maskapai nasional Garuda Indonesia.
Ia menjelaskan, keberadaan replika pesawat Garuda di Asrama Haji Aceh merupakan simbol pengingat bahwa embrio maskapai tersebut berasal dari hasil gotong royong rakyat Aceh yang mengumpulkan emas dan harta untuk membeli pesawat Seulawah pada Juni 1948.
"Inspirasinya ya dari rakyat Aceh juga, sumbangan pesawat Seulawah itu yang cikal bakal Garuda. Jadi Aceh juga punya sejarah panjang buat perhajian Indonesia dan itulah kenapa secara spesifik saya menyapa para petugas yang melayani jemaah haji Aceh," ungkapnya.
Selain sejarah wakaf dan kontribusi terhadap penerbangan nasional, Dahnil menyebut Aceh juga memiliki posisi strategis dalam sejarah penyelenggaraan haji Indonesia. Letaknya yang paling dekat dengan Arab Saudi menjadikan Aceh sebagai embarkasi haji pertama sekaligus titik transit jemaah Indonesia pada masa lalu.
"Makanya Aceh disebut Serambi Makkah karena terdekat itu adalah dari Aceh. Kita berharap Aceh bisa jadi pusat ekosistem ekonomi haji, baik itu dari sisi pangan misalnya pertaniannya maupun dari sisi-sisi yang lain," katanya.
Menurut Dahnil, ibadah haji memiliki makna yang sangat kuat bagi masyarakat Aceh karena berkaitan dengan identitas, kehormatan, dan nilai keagamaan.
"Jadi sebenarnya dalam konteks haji bagi rakyat Aceh itu seperti kebanggaan, kehormatan, martabat, dan penyempurnaan dalam berislam," tandasnya. (*/MCH 2026)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


