AS dan Iran Gagalkan Kesepakatan Nuklir di Forum PBB
Konferensi PBB soal Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir berakhir tanpa kesepakatan akibat perselisihan AS dan Iran terkait program nuklir Teheran.
JAKARTA – Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membahas peninjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) kembali berakhir tanpa kesepakatan. Kegagalan forum internasional tersebut memperlihatkan masih tajamnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu program nuklir Teheran.
Konferensi yang berlangsung selama empat pekan itu resmi ditutup pada Jumat (22/5/2026). Namun, 191 negara peserta gagal mencapai konsensus, termasuk terhadap dokumen akhir yang sebelumnya telah disederhanakan.
Duta Besar Vietnam untuk PBB, Do Hung Viet, selaku pimpinan konferensi menyatakan tidak tercapainya kesepakatan dipengaruhi oleh perbedaan sikap tajam mengenai program nuklir Iran.
Ia menyebut salah satu poin yang menjadi sumber perdebatan adalah ketentuan dalam draf akhir yang menyatakan Iran “tidak boleh mencari, mengembangkan, atau memperoleh senjata nuklir apa pun”.
Iran Tuduh AS Menghambat Kesepakatan
Misi Iran di PBB menilai kegagalan konferensi dipicu oleh tuntutan berlebihan dari Washington dan sekutunya.
“Konferensi Peninjauan NPT gagal untuk ketiga kalinya berturut-turut karena adanya tindakan penghalangan dari Amerika Serikat dan sekutunya,” demikian pernyataan misi Iran yang disampaikan melalui platform X.
Iran juga menilai Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir tidak akan memiliki masa depan tanpa komitmen serius terhadap perlucutan senjata nuklir global.
Perselisihan antara kedua negara memang terus meningkat sejak pembukaan konferensi pada 27 April lalu. Washington menuduh Iran melanggar komitmen dalam perjanjian nonproliferasi, sementara Teheran menyebut serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklirnya sebagai pelanggaran hukum internasional.
PBB Soroti Ancaman Nuklir Global
Melalui juru bicaranya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan penyesalan atas gagalnya konferensi tersebut.
PBB menilai ancaman senjata nuklir saat ini membutuhkan langkah diplomasi yang lebih serius dan mendesak.
“Semua negara diminta memanfaatkan seluruh jalur dialog, diplomasi, dan negosiasi untuk mengurangi ketegangan dan menurunkan risiko nuklir,” ujar Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric.
Krisis Kepercayaan Terhadap NPT
Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir selama ini dianggap sebagai fondasi utama upaya pengendalian senjata nuklir dunia. Namun, kegagalan konferensi tahun ini menjadi kegagalan ketiga secara berturut-turut setelah sebelumnya forum serupa juga gagal mencapai kesepakatan pada 2022.
Saat itu, Rusia memblokir dokumen akhir terkait invasi ke Ukraina dan isu pendudukan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia.
Di tengah meningkatnya konflik global dan ketegangan antarnegara pemilik kekuatan militer besar, kegagalan konferensi NPT dinilai memperlihatkan semakin rapuhnya konsensus internasional terkait pengendalian senjata nuklir.
Situasi tersebut juga memperbesar kekhawatiran dunia terhadap potensi eskalasi perlombaan senjata nuklir di masa mendatang.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


