China Bangun Kanal Besar Sungai-Laut Untuk Mendekatkan ASEAN
China Tengah mengembangkan proyek raksasa, sebuah terusan (kanal) sungai ke laut yang bisa dilalui kapal kelas 5.000 metrik ton, dan saat ini sedang memasukkan fase uji coba.
JAKARTA – China Tengah mengembangkan proyek raksasa, sebuah terusan (kanal) sungai ke laut yang bisa dilalui kapal kelas 5.000 metrik ton, dan saat ini sedang memasukkan fase uji coba.
Kalau pada umumnya kanal itu terhubung antar air sungai atau air laut, maka kali ini China berhasil menggabungkan kanal antara sungai dan laut.
Kemarin uji coba itu dilakukan dengan mengalirkan air sungai melalui pusat navigasi Madao di Kanal Pinglu di wilayah otonom Guangxi Zhuang China Selatan.
Dengan keberhasilan uji coba air pada Rabu (3/6/2026) kemarin, seperti dilansir China Daily, kini China berhasil menyambung air laut dengan sungai yang bisa dilalui kapal-kapal besar berbobot ribuan metrik ton, dan rencananya kanal itu akan dibuka bulan September mendatang.
Sebagai kanal pertama yang dibangun di negara ini untuk menghubungkan sistem sungai langsung ke laut sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, proyek infrastruktur penting ini diharapkan bisa menciptakan jalur yang nyaman dan hemat biaya antara China dengan negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Guangxi adalah satu-satunya wilayah yang menghubungkan China dengan pasar ASEAN baik melalui jalur darat maupun laut. "Terusan ini akan memungkinkan negara-negara anggota ASEAN terhubung secara lebih efisien dan nyaman dengan pasar pedalaman China," kata ketua Guangxi, Wei Tao kepada China Daily dalam sebuah wawancara sebelumnya.
Jalur perairan sepanjang 134,2 kilometer ini, yang membentang dari waduk Xijin di kota Hengzhou hingga pelabuhan Qinzhou di Teluk Beibu, merupakan proyek kunci dari Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru yang menghubungkan wilayah barat China ke pasar global.
Pada Rabu pagi, pusat navigasi Madao dan Qishi di kanal tersebut mulai diisi air, yang memungkinkan tercapainya konektivitas saluran penuh dan peluncuran pengoperasian pasokan air secara komprehensif.
Menurut Pinglu Canal Group, dengan lebih dari 96 persen proyek yang kini telah selesai, jalur air tersebut dijadwalkan akan dibuka untuk lalu lintas selama China-ASEAN Expo yang dijadwalkan pada bulan September di Nanning, ibu kota Guangxi.
Pihak berwenang setempat mengatakan bahwa setelah selesai dibangun, kanal tersebut akan mengurangi jarak pengiriman barang ekspor dari China barat daya hingga lebih dari 560 km, dibandingkan dengan rute sebelumnya melalui pelabuhan Guangzhou, dan menghemat sekitar 5,2 miliar yuan (768 juta dolar AS) setiap tahunnya dalam biaya logistik.
Wu Tao, seorang profesor sejarah di Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, provinsi Guangdong, mengatakan bahwa tanpa akses yang mudah ke jalur laut, sulit untuk mengekspor barang dari China barat ke pasar global melalui pengiriman maritim.
"Dengan membuka jalur penghubung langsung antara sungai dan laut, Terusan Pinglu menghilangkan hambatan pembangunan dan memfasilitasi pergeseran bertahap ekonomi China barat dari model pedalaman yang berorientasi ke dalam negeri menjadi ekonomi maritim yang berorientasi ekspor, yang didorong oleh transportasi darat dan laut yang terintegrasi," katanya.
"Terlepas dari sistem transportasi darat, udara, dan kereta api yang sangat maju, jalur pelayaran perairan pedalaman tetap tak tergantikan. Kapasitas kargo yang besar dan biaya transportasi yang rendah menjadikan jalur tersebut ideal untuk pengiriman massal hasil pertanian dan sumber daya mineral," tambah Wu.
Ni Yuping, wakil rektor Fakultas Humaniora di Universitas Tsinghua Beijing mengatakan, bahwa kanal tersebut akan membantu meningkatkan sistem logistik lintas batas China, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan perdagangan di wilayah pedalaman barat daya.
"Negara-negara anggota ASEAN yang memiliki hubungan ekonomi dengan China bisa memperdalam perdagangan mereka dengan negara tersebut, sehingga menghasilkan hasil yang saling menguntungkan," katanya.
Terusan Pinglu mewarisi kualitas fungsional jalur air kuno untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional domestik secara endogen, sekaligus mengambil inspirasi dari konsep pembangunan di balik Terusan Suez dan Terusan Panama, yang menghubungkan pelayaran maritim global dan membantu memperluas perdagangan lintas batas, tambah Ni.
Menurut data bea cukai, dari Januari hingga April, perdagangan China dengan negara-negara ASEAN mencapai 2,75 triliun yuan, naik 15,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menyumbang 16,9 persen dari total volume perdagangan luar negeri negara tersebut. Diantara negara-negara anggota ASEAN, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia menduduki peringkat tiga besar sebagai mitra dagang China, demikian data tersebut menunjukkan.
China telah menjadi mitra dagang terbesar ASEAN selama 17 tahun berturut-turut, sementara ASEAN telah menjadi mitra dagang terbesar China selama enam tahun.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


