Peduli Lingkungan, Sekretaris Amirul Hajj Ajak Budaya Kurangi Botol Plastik
Sekretaris Amirul Hajj Ilfi Nur Diana mengajak jemaah haji Indonesia mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai dengan memanfaatkan tumbler guna menjaga kebersihan lingkungan selama ibadah haji 2026.
JAKARTA – Persoalan lingkungan dalam penyelenggaraan ibadah haji khususnya bagi jemaah haji Indonesia menjadi persoalan yang penting. Pasalnya sampah plastik yang dihasilkan dari botol minum merupakan persoalan serius jika tidak dicegah.
Indonesia sebagai negara yang paling banyak mengirimkan jemaah hajinya sudah sepatutnya peduli terhadap persoalan lingkungan saat penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M dan dimulai dari pengurangan mengkonsumsi air minum kemasan plastik.
“Kita harus mengupayakan dimana saja pengurangan sampah plastik itu menjadi kampanye kita. Kenapa? Karena menjaga kebersihan lingkungan itu bagian dari ibadah,” ucap Sekretaris amirul hajj yang juga rektor UIN Maliki Malang, Ilfi Nur Diana kepada Media Center Haji di Madinah dikutip pada Jumat (5/6/2026).

Nur Diana mengatakan, keberhasilan haji tidak hanya tentang ritualnya saja tetapi juga membangun dan menjaga sikap dan perilaku kepada sesama manusia, alam dan lingkungan seperti pengunaan tumbler saat minum.
“Ketika Armuzna, jemaah kita itu sudah diberikan tumbler oleh syarikah. Tumbler itu sebenarnya digunakan untuk mengurangi sampah plastik agar mereka mengambil air tidak sekali pakai atau sekali buang. Namun ini belum menjadi budaya karena itu perlu ini dijadikan sebuah budaya yang baik,” katanya.
Nur Diana mengungkapkan, budaya menjaga lingkungan harus mulai digelorakan, diedukasi dan diimplementasikan sebelum jemaah haji Indonesia berangkat ke Arab Saudi. Karenanya, ia meminta agar Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) kedepannya dapat mempertegas hal ini kepada syarikah.
“Syarikah harus mempersiapkan air portable atau dispenser selama di Armuzna, sehingga tumbler yang diberikan itu bisa dipakai untuk mengurangi sampah plastik. Kita bayangkan satu orang dalam satu hari itu butuh 10 botol yang 220 ml. Minimal 10 botol, kalau 10 dikalikan 220 ribu jemaah (Indonesia-red), itu sudah berapa?,” ungkapnya.
Menurutnya, sebagai bangsa Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim terbesar didunia, Indonesia harus menunjukkan kepada dunia bahwa islam mengajarkan untuk menjaga lingkungan. “Saya kira ini yang menjadi catatan perbaikan ke depan dan menjadi konsen Kementerian Haji dan Umrah,” ujarnya.
Ia juga mengimbau agar para jemaah haji Indonesia yang sudah dan masih memiliki tumbler agar dapat digunakan selama berada di Makkah maupun Madinah nantinya.
“Karena sudah dibagikan tumbler, maka kalau di hotel-hotel sudah ada dispenser, hendaknya dikurangi penggunaan plastik sekali pakai. Karena itu perlu adanya budaya. Kalau tidak kita biasakan, tidak kita jadikan pembiasaan, maka akan susah untuk menjadikan sebuah budaya,” ungkapnya.
“Karena itu seharusnya tumbler tidak diberikan ketika di Armuzna, tetapi diberikan ketika baru sampai di hotel, sehingga dari hotel, selama di hotel itu menggunakan tumbler, di Armuzna juga menggunakan tumbler. Paling tidak kita mengurangi penggunaan sampah plastik kalau tidak bisa sama sekali menghindarinya,” tandasnya. (*/MCH)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


