Advertisement
Peristiwa Internasional

Gempa Besar Filipina dan Kuba Picu Kekhawatiran Gempa Lebih Dahsyat Akan Menyusul

Gempa magnitudo 7,8 di Filipina dan 6,1 di Kuba terjadi pada hari yang sama. Para ahli menegaskan tidak ada hubungan antara keduanya dan gempa masih belum dapat diprediksi secara akurat.

TIMES Indonesia,
Gempa Besar Filipina dan Kuba Picu Kekhawatiran Gempa Lebih Dahsyat Akan Menyusul
Bangunan di Filipina yang rusak akibat gempa magnitudo 7,8 pada 8 Juni pagi hari waktu setempat.
A-AA+

JAKARTA Dua gempa bumi kuat yang terjadi dalam selang waktu berdekatan pada 8 Juni 2026 kembali memicu kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya gempa yang lebih besar di berbagai belahan dunia. Namun para ahli menegaskan, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan kedua peristiwa tersebut saling berkaitan atau menjadi pertanda akan munculnya gempa yang lebih dahsyat.

Gempa terbesar terjadi di Filipina dengan magnitudo 7,8 pada pagi hari waktu setempat. Bencana tersebut menyebabkan puluhan korban jiwa, melukai banyak orang, memicu peringatan tsunami di sejumlah negara, serta mengakibatkan kerusakan bangunan dan jaringan listrik.

Advertisement

Pada hari yang sama, gempa berkekuatan magnitudo 6,1 juga mengguncang wilayah lepas pantai barat Kuba. Getarannya bahkan dirasakan hingga sebagian wilayah Florida, Amerika Serikat. Meski demikian, otoritas Kuba tidak melaporkan adanya kerusakan besar maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

Profesor seismologi dari Rice University, Brandon Schmandt, mengatakan tidak ada indikasi hubungan antara gempa di Filipina dan Kuba. Menurutnya, kedua gempa tersebut terjadi di sistem tektonik yang berbeda dan terpisah ribuan kilometer.

"Tidak ada tanda hubungan antara gempa di Kuba dan Filipina, serta tidak ada alasan untuk mengharapkan kejadian luar biasa sebagai konsekuensi dari keduanya. Tidak ada seorang pun yang dapat memprediksi gempa bumi," ujarnya, Selasa (9/6/2026).

Pernyataan tersebut kembali menegaskan bahwa hingga kini para ilmuwan belum memiliki teknologi yang mampu memprediksi secara tepat kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi.

Meski demikian, para peneliti dapat mempelajari pola aktivitas sesar dan sejarah kegempaan untuk memperkirakan tingkat risiko suatu wilayah dalam jangka panjang. Dengan cara itu, mereka dapat menilai kemungkinan terjadinya gempa besar di masa depan serta potensi kekuatan guncangannya.

Advertisement

Schmandt menjelaskan bahwa gempa berkekuatan magnitudo 6,0 atau lebih sebenarnya bukan peristiwa yang langka. Secara global, dua hingga tiga gempa dengan magnitudo tersebut terjadi setiap pekan. Sementara gempa berkekuatan lebih dari 7,0 rata-rata terjadi sekitar satu kali setiap bulan di seluruh dunia.

Seismolog California Institute of Technology (Caltech), Lucy Jones, menambahkan bahwa distribusi gempa besar bersifat acak. Dalam beberapa bulan mungkin tidak terjadi gempa besar sama sekali, namun pada periode lain beberapa gempa dapat terjadi dalam waktu yang berdekatan tanpa memiliki hubungan satu sama lain.

Meski satu gempa terkadang dapat memicu gempa lain yang dikenal sebagai gempa susulan (aftershock), para ahli menilai tidak ada indikasi bahwa gempa Filipina dan Kuba memiliki keterkaitan semacam itu.

Jones menjelaskan bahwa setelah suatu gempa terjadi, terdapat sekitar 5 persen kemungkinan muncul gempa lain yang lebih besar di wilayah yang sama dalam beberapa hari berikutnya. Kendati peluang tersebut relatif kecil, angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan risiko normal pada kondisi biasa.

Sebagai contoh, pada Juli 2019, gempa magnitudo 6,4 mengguncang wilayah Ridgecrest, California. Sehari kemudian, wilayah yang sama diguncang gempa magnitudo 7,1 yang menjadi gempa terbesar di California Selatan dalam dua dekade terakhir.

Kasus serupa juga terjadi pada Desember 2025 ketika dua gempa besar dengan magnitudo di atas 7,0 terjadi hanya dalam hitungan hari di Alaska dan Jepang. Namun para ilmuwan menilai kejadian tersebut lebih merupakan kebetulan statistik daripada bukti adanya hubungan langsung antargempa.

Para ahli juga mengingatkan bahwa besarnya magnitudo sangat menentukan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Gempa dengan magnitudo di bawah 2,5 umumnya tidak terasa. Magnitudo 2,5 hingga 5,4 biasanya hanya menyebabkan kerusakan ringan atau bahkan tidak menimbulkan kerusakan sama sekali.

Sementara itu, gempa berkekuatan 5,5 hingga 6,0 dapat menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan. Pada magnitudo 6,1 hingga 6,9, kerusakan serius mulai mungkin terjadi. Gempa berkekuatan 7,0 hingga 7,9 dikategorikan sebagai gempa besar yang dapat menyebabkan kerusakan luas, sedangkan gempa dengan magnitudo 8,0 atau lebih berpotensi menimbulkan kehancuran besar dan merusak seluruh komunitas.

Karena itu, para ahli menekankan bahwa fokus utama masyarakat seharusnya bukan pada upaya memprediksi kapan gempa berikutnya akan terjadi, melainkan meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat bangunan tahan gempa, serta memahami langkah-langkah mitigasi bencana untuk mengurangi risiko korban dan kerusakan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia