Advertisement
Peristiwa Internasional

Serangan Baru AS ke Iran Peruncing Konflik Timur Tengah, Harga Minyak Kembali Naik

Amerika Serikat kembali menyerang Iran setelah negosiasi damai menemui jalan buntu.

TIMES Indonesia,
Serangan Baru AS ke Iran Peruncing Konflik Timur Tengah, Harga Minyak Kembali Naik
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengajukan banding atas putusan pengadilan yang menyatakan kebijakan tarif impor global sebesar 10 persen tidak sah berdasarkan hukum perdagangan AS.(AFP/POOL/ALEX BRANDON)
A-AA+

JAKARTA Harapan meredanya perang di Timur Tengah kembali menjauh. Amerika Serikat melancarkan gelombang baru serangan terhadap Iran pada Rabu (10/6/2026), menandai semakin dalamnya krisis yang tak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga mulai mengguncang ekonomi global melalui kenaikan harga minyak dan tekanan terhadap pasar keuangan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Menurutnya, Iran terlalu lama mengulur proses negosiasi perdamaian sehingga harus "membayar harga" atas sikap tersebut.

Advertisement

"Kami menghantam mereka dengan keras kemarin. Kami akan menghantam mereka lagi dengan keras hari ini," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Negosiasi Buntu, Serangan Berlanjut

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukan AS melancarkan "serangan pertahanan diri tambahan" terhadap sejumlah target di Iran pada pukul 17.15 waktu Washington.

Washington menyebut operasi tersebut merupakan respons atas apa yang disebut sebagai "agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut".

Media Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah wilayah selatan dekat Selat Hormuz, termasuk Qeshm, Kargan, dan Sirik. Kawasan tersebut sebelumnya juga menjadi sasaran serangan AS yang menghancurkan radar, sistem pertahanan udara, dan sejumlah fasilitas militer Iran.

Trump menuding para negosiator Iran sengaja mempermainkan Amerika Serikat.

Advertisement

"Kami sebenarnya sudah sangat dekat dengan sebuah kesepakatan, tetapi mereka terus mengulur-ulur kami," ujarnya.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan mengisyaratkan operasi militer dapat terus berlanjut.

"Presiden Donald Trump mengatakan kita akan menyerang Iran dengan keras dan kita akan melakukannya," kata Hegseth.

Ia menegaskan tekanan militer diperlukan agar Iran bersedia mencapai kesepakatan damai.

"Jika kita perlu bernegosiasi dengan bom, kita akan bernegosiasi dengan bom, dan kita sangat mahir dalam hal itu," ujarnya.

Iran Tolak Ancaman Amerika

Di tengah ancaman yang semakin terbuka dari Washington, Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan militer.

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, mengatakan perdamaian tidak dapat dicapai melalui intimidasi.

"Tidak ada kesepakatan berkelanjutan yang dapat dicapai melalui ancaman, intimidasi, atau penggunaan kekuatan," tegasnya.

Meski demikian, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Sejumlah sumber diplomatik menyebut Qatar masih berupaya menjembatani perbedaan antara Washington dan Teheran melalui pembicaraan langsung dengan pihak Iran.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Rawan

Konflik yang dimulai sejak akhir Februari 2026 tersebut telah menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling strategis sekaligus paling berisiko di dunia.

Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi jalur tersebut. Ancaman penutupan Selat Hormuz sempat mendorong lonjakan harga energi dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi dunia.

Trump mengklaim Angkatan Laut AS berhasil menjaga jalur pelayaran tersebut tetap terbuka.

"Tidak ada yang bisa lewat kecuali jika kita menginginkannya. Ini adalah tembok baja," tulis Trump melalui Truth Social.

Namun, analis JPMorgan Chase memperkirakan sekitar dua juta barel minyak per hari masih keluar dari Iran melalui kapal tanker yang mematikan sistem pelacak.

Harga Minyak Naik, Pasar Saham Tertekan

Memanasnya konflik langsung tercermin pada pasar keuangan internasional.

Harga minyak mentah Amerika Serikat untuk pengiriman Juli naik hampir dua persen menjadi 89,72 dollar AS per barel. Sementara minyak Brent menguat menjadi 92,74 dollar AS per barel.

Di saat bersamaan, pasar saham global cenderung melemah. Sentimen investor tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik, inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi, serta pelemahan sektor teknologi.

Situasi tersebut menambah kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat kembali memicu tekanan inflasi global seperti yang pernah terjadi pada krisis energi sebelumnya.

Negara-Negara Teluk Bersiaga

Ketegangan juga mulai meluas ke negara-negara sekitar.

Iran mengklaim menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Yordania sebagai balasan atas serangan Washington.

Bahrain menyatakan berhasil mencegat sejumlah serangan udara Iran, sedangkan Yordania mengumumkan telah menembak jatuh lima rudal tanpa menimbulkan korban.

Militer Kuwait juga menyebut sistem pertahanan udaranya sedang menghadapi sejumlah target udara musuh.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak memberikan akses kepada Amerika Serikat maupun Israel untuk menggunakan wilayah mereka sebagai pangkalan serangan.

PBB, Rusia, dan China Serukan Deeskalasi

Meningkatnya eskalasi perang memicu kekhawatiran komunitas internasional.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan agar konflik tidak berkembang menjadi perang berskala penuh.

Rusia dan China, dua sekutu utama Iran, juga menyerukan penghentian eskalasi.

China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan peningkatan konflik dan mencegah situasi semakin memburuk.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Timur Tengah kembali menjadi pusat perhatian dunia. Tidak hanya karena ancaman perang yang semakin luas, tetapi juga karena dampaknya terhadap energi, perdagangan, dan stabilitas ekonomi global yang kini mulai dirasakan berbagai negara.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Widodo Irianto
PenulisWidodo IriantoPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia