Advertisement
Peristiwa Internasional

Tajuk Redaksi: Menakar Jangkar Stabilitas Indo-Pasifik Di Antara Pujian Global dan Ujian Otentisitas Geopolitik RI

Pujian Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier terhadap Indonesia sebagai faktor stabilitas penting di kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik merupakan pengakuan atas konsistensi diplomasi bebas-aktif. Namun, di tengah pergeseran relasi kekuasaan global, pos

TIMES Indonesia,
Tajuk Redaksi:  Menakar Jangkar Stabilitas Indo-Pasifik Di Antara Pujian Global dan Ujian Otentisitas Geopolitik RI
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menggelar jamuan santap siang kenegaraan sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier . (BPMI)
A-AA+

JAKARTA Wacana yang berkembang di ruang publik global saat ini kerap menempatkan Asia Tenggara sebagai episentrum perebutan pengaruh antara kekuatan besar Barat dan Timur. Dalam konteks inilah, pernyataan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier saat mengunjungi Istana Merdeka menjadi pemantik diskusi yang krusial.

Steinmeier secara eksplisit menyebut Indonesia sebagai faktor stabilitas penting di kawasan ASEAN serta mengapresiasi peran aktifnya dalam mengembangkan arsitektur keamanan di Asia Tenggara. Bagi publik, pujian ini adalah konfirmasi atas reputasi internasional Indonesia. Namun, dari kacamata jurnalisme positif dan konstruktif, pengakuan ini harus dibaca lebih dalam: sebagai sebuah tanggung jawab sistemik yang besar, bukan sekadar komplementer diplomatik.

Advertisement

Jika kita membingkai ulang isu ini ke dalam dimensi nilai fundamental, stabilitas bukanlah sebuah kondisi statis tanpa dinamika. Stabilitas adalah fondasi dari nilai kemanusiaan, pertumbuhan ekonomi, dan perlindungan lingkungan hidup.

Redaksi TIMES Indonesia berpandangan bahwa konsekuensi jangka panjang dari kegagalan menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik akan berdampak sistemik pada rantai pasok global dan kedaulatan negara-negara berkembang. Oleh karena itu, ketika Eropa—melalui Jerman—memandang Indonesia sebagai jangkar stabilitas, mereka sebenarnya sedang menitipkan harapan agar arsitektur keamanan kawasan tetap inklusif, terbuka, dan berdasarkan pada aturan hukum internasional (rules-based order), bukan berdasarkan dominasi kekuatan militer semata.

Secara historis, Indonesia memiliki rekam jejak yang solid dalam arsitektur ini. Sejak menjadi pelopor Deklarasi Bangkok pada tahun 1967, memfasilitasi perdamaian di Kamboja melalui Jakarta Informal Meetings, hingga menjadi rumah bagi Sekretariat Tetap ASEAN, Jakarta selalu menjadi episentrum diplomasi kawasan.

Pengalaman masa lalu membuktikan bahwa netralitas Indonesia bukanlah sikap acuh tak acuh, melainkan netralitas aktif yang intervensinya terukur demi perdamaian. Keberhasilan memprakarsai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta mempromosikan penegakan hak asasi manusia melalui Komisi Antar-Pemerintah ASEAN (AICHR) adalah bukti bahwa Indonesia memandang keamanan bukan hanya soal ketiadaan perang, melainkan tentang kesejahteraan dan martabat manusia.

Secara teknis dan legal, penguatan arsitektur keamanan regional ini memang mendukung interaksi hukum dagang dan investasi yang aman bagi para pelaku usaha, termasuk kemitraan strategis Indonesia-Jerman. Namun, dari sudut pandang etis dan politik, posisi ini menyimpan risiko asimetri relasi kekuasaan. Ada bahaya laten di mana negara-negara Barat cenderung mendekati ASEAN dan Indonesia hanya ketika mereka membutuhkan penyeimbang (balancing power) terhadap dominasi kekuatan global lainnya di Indo-Pasifik.

Advertisement

Insentif bagi aktor-aktor Eropa jelas: mereka membutuhkan kepastian jalur perdagangan laut yang aman dan akses pasar yang stabil. Redaksi TIMES Indonesia memandang bahwa Indonesia harus jeli melihat pergeseran insentif ini agar tidak terjebak dalam pragmatisme jangka pendek yang mengorbankan prinsip bebas-aktif.

Jalan tengah yang harus diambil Indonesia adalah menerapkan diplomasi yang memiliki syarat tegas dan realistis. Kami menekankan bahwa kemitraan strategis dengan Jerman dan Uni Eropa tidak boleh berhenti pada retorika politik atau sekadar peningkatan volume perdagangan komoditas mentah.

Syarat tegasnya adalah: komitmen investasi Jerman harus diintegrasikan dengan transfer teknologi hijau, perlindungan lingkungan hidup yang berkeadilan, dan penguatan kapasitas industri domestik Indonesia. Stabilitas yang ditawarkan Indonesia tidak gratis; ia harus dibayar dengan komitmen global yang setara dalam mendukung transisi energi yang adil dan penghormatan penuh terhadap kedaulatan ekonomi nasional tanpa diskriminasi dagang.

Pada akhirnya, stabilitas kawasan yang sejati tidak dilahirkan dari paksaan fisik atau ketergantungan ekonomi, melainkan dari konsensus etis untuk tumbuh bersama. Indonesia, dengan segala modal sosial dan historisnya, dipanggil untuk terus menjadi kompas moral di Asia Tenggara—sebuah wilayah yang menolak menjadi panggung perang dingin gaya baru.

Keberhasilan diplomasi suatu bangsa tidak diukur dari seberapa banyak pujian yang diterima dari negara dunia pertama, melainkan dari seberapa besar kepemimpinan tersebut mampu memberikan rasa aman, keadilan, dan kemakmuran bagi rakyatnya sendiri serta kawasan sekitarnya.

Ketika kedaulatan dipertaruhkan di atas papan catur geopolitik, stabilitas sejati bukanlah tentang bagaimana menyenangkan semua kekuatan besar, melainkan tentang bagaimana memastikan bahwa hukum internasional tetap tegak dan kepentingan publik tidak pernah dikorbankan.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia