Mantan Penasihat Keamanan AS Susan Rice: Kesepakatan Iran Bencana Strategis Terbesar dalam Dekade Ini
Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS Susan Rice kecam keras nota kesepahaman Trump dengan Iran sebagai 'dokumen penyerahan yang mengerikan'. Sen. Ted Cruz dan Bill Cassidy turut kritik. Menteri Pertahanan AS bela kesepakatan.
JAKARTA – Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, Susan Rice, mengecam keras nota kesepahaman (MOU) 14 poin yang ditandatangani Presiden Donald Trump sebagai awal dari periode negosiasi dua bulan dengan Iran, Kamis (18/6/2026) lalu.
"Ini adalah dokumen penyerahan yang mengerikan dan mencengangkan, lengkap dengan ratusan miliar dolar untuk reparasi," tulis Rice di platform X.
"Ini adalah hasil yang dapat diprediksi dari negosiasi yang tidak kompeten dan bencana strategis yang bodoh karena memulai dan melanjutkan perang yang menghancurkan ini," tambahnya.
Rice, yang sebelumnya menjabat sebagai Duta Besar AS untuk PBB, mengatakan kesepakatan tersebut adalah kesalahan keamanan nasional terbesar dalam beberapa dekade.
Kritiknya bergema dari kalangan Republik dan Demokrat yang mempertanyakan bagian kesepakatan yang memungkinkan Iran mengakses 300 miliar dolar AS untuk upaya rekonstruksi. The Wall Street Journal dan Reuters melaporkan perusahaan internasional telah berkomitmen untuk mendukung lebih dari setengah nilai dana swasta tersebut.
"Sama sekali bukan kepentingan AS untuk membayar membangun kembali kapasitas yang baru saja kita hancurkan," kata Senator Ted Cruz (R-Texas). Senator Bill Cassidy (R-La.) menyebut ini sebagai kesalahan kebijakan luar negeri yang luar biasa.
Mantan Presiden Obama juga mengkritik kesepakatan tersebut, mencatat bahwa konsesi Iran, termasuk komitmen untuk tidak memperoleh senjata nuklir, tidak berbeda dengan ketentuan JCPOA 2015.
Namun, Menteri Pertahanan Pete Hegseth membela upaya pemerintahan Trump. "JCPOA berasal dari permohonan dan pembicaraan. Kesepakatan ini terjadi setelah berbulan-bulan pemboman dan blokade yang tidak bisa ditembus," ujarnya di Brussels.
"Presiden Trump telah jelas sejak awal, dan Departemen Perang jelas, bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Titik. Tidak boleh memiliki senjata nuklir," tegas Hegseth, seraya menambahkan bahwa militer AS siap memulai kembali serangan jika Iran tidak memenuhi kewajibannya dalam pembicaraan ini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


