Advertisement
Peristiwa Internasional

Ukraina Perkuat Armada Udara dengan 16 Jet Tempur Gripen E

Ukraina menandatangani kesepakatan pembelian 16 jet tempur Gripen E dari Swedia. Pengiriman dijadwalkan mulai awal 2027 dengan dukungan teknis penuh.

TIMES Indonesia,
Ukraina Perkuat Armada Udara dengan 16 Jet Tempur Gripen E
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky saat mengadakan konferensi pers di Kiev, Ukraina. (Anadolu)
A-AA+

JAKARTA Ukraina kembali memperkuat kemampuan pertahanan udaranya di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Rusia. Pemerintah Ukraina resmi menandatangani kesepakatan pembelian 16 jet tempur Gripen E dari Swedia yang dijadwalkan mulai dikirim pada awal 2027.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengumumkan kesepakatan tersebut melalui akun resminya di platform X. Menurutnya, kerja sama dengan Swedia menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan penerbangan tempur angkatan bersenjata Ukraina.

Advertisement

"Bersama Swedia, kami terus memperkuat kemampuan penerbangan tempur Ukraina. Hari ini, negara kami menandatangani kesepakatan pengadaan 16 jet tempur Gripen E," tulis Zelensky.

Ia menjelaskan, paket pengadaan tidak hanya mencakup pesawat tempur, tetapi juga perlengkapan pendukung, bantuan teknis, serta layanan dukungan operasional agar armada dapat segera digunakan setelah tiba di Ukraina.

Didanai Pinjaman Uni Eropa

Sebelumnya, pada akhir Mei 2026, Pemerintah Swedia mengumumkan rencana untuk memasok hingga 36 jet tempur Gripen kepada Ukraina sebagai bagian dari dukungan militer terhadap negara tersebut.

Dalam skema yang diumumkan Stockholm, pesawat Gripen generasi lama akan disumbangkan kepada Ukraina, sedangkan 16 unit Gripen E yang merupakan varian terbaru akan dibeli menggunakan fasilitas pinjaman dari Uni Eropa senilai 2,5 miliar euro, atau sekitar Rp51,2 triliun.

Tahap pertama pengiriman sebanyak 16 pesawat dijadwalkan berlangsung pada awal 2027.

Advertisement

Rusia Kembali Kritik Bantuan Militer Barat

Di sisi lain, Rusia kembali menegaskan penolakannya terhadap pengiriman persenjataan Barat ke Ukraina. Moskow berulang kali menyatakan bahwa bantuan militer dari negara-negara Barat justru memperpanjang konflik dan meningkatkan keterlibatan negara-negara anggota NATO dalam perang.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan setiap pengiriman yang membawa persenjataan untuk Ukraina akan dianggap sebagai target militer yang sah bagi Rusia.

Pernyataan tersebut mencerminkan masih tingginya tensi geopolitik di kawasan Eropa Timur, di tengah terus mengalirnya dukungan militer dari negara-negara Barat kepada Ukraina.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia