Harga Minyak Dunia Naik, Pelayaran di Selat Hormuz Melambat akibat Konflik AS-Iran
Harga minyak dunia naik mendekati 79 dolar AS per barel setelah konflik AS-Iran memanas. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga turun drastis.
JAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak, sementara aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan akibat meningkatnya risiko keamanan di jalur distribusi energi paling strategis di dunia.
Harga minyak mentah Brent pada Ahad tercatat naik sekitar 3,5 persen hingga mendekati 79 dolar AS per barel. Angka tersebut sekitar 9 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum ketegangan terbaru antara Washington dan Teheran meningkat.
Di saat yang sama, lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga melambat. Berdasarkan data perusahaan pemantau maritim Kpler, hanya 22 kapal yang melintasi selat tersebut pada Kamis. Sebelum konflik memanas, rata-rata lebih dari 130 kapal melintas setiap hari.
Penurunan aktivitas pelayaran menunjukkan meningkatnya kehati-hatian perusahaan logistik dan pelayaran internasional terhadap potensi gangguan keamanan di kawasan yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sekitar 140 sasaran di Iran sebagai respons atas serangan Teheran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz.
Iran kemudian menyatakan telah membalas aksi tersebut dengan menyerang sejumlah posisi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, sehingga memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Kepala Riset Timur Tengah Kpler, Amena Bakr, menilai situasi tersebut kembali mengikis kepercayaan pelaku industri pelayaran terhadap keamanan Selat Hormuz.
"Kepercayaan itu terkikis sangat, sangat cepat. Kami kembali ke titik awal dalam situasi ini," ujar Bakr seperti dikutip The New York Times.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan terbarunya menyebut pasokan minyak global sempat membaik setelah adanya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada bulan lalu. Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa pemulihan pasokan masih sangat bergantung pada meredanya konflik dalam waktu dekat.
Menurut Bakr, pasar energi kini mulai beradaptasi dengan kondisi geopolitik yang semakin tidak menentu di Timur Tengah. Meski demikian, ia menilai harga minyak saat ini belum sepenuhnya mencerminkan tingkat risiko yang sebenarnya.
"Pasar telah menyesuaikan diri dengan kondisi normal baru. Pergerakan harga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya maupun tingkat risiko geopolitik," katanya.
Ketidakpastian di Selat Hormuz diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan. Selama jalur pelayaran tersebut belum kembali sepenuhnya aman, volatilitas pasar energi global diperkirakan tetap tinggi.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


