Advertisement
Peristiwa Internasional

Membaca Peradaban (3): Kota Ottawa yang Mengajarkan Cara Membangun Peradaban

Di Ottawa, Fadillah Putra menemukan bahwa kota maju tidak dibangun dalam satu periode pemerintahan. Ruang publik, transportasi, hingga budaya warga menjadi cerminan konsistensi kebijakan selama ratusan tahun.

TIMES Indonesia,
Membaca Peradaban (3): Kota Ottawa yang Mengajarkan Cara Membangun Peradaban
Dokumentasi perjalanaan Fadillah Putra, Pakar Kebijakan Publik Universitas Brawijaya
A-AA+

JAKARTA Setiap kota memiliki cara berbeda untuk memperkenalkan dirinya.

Ada kota yang memilih gedung pencakar langit sebagai simbol kemajuan. Ada pula yang menonjolkan pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, atau destinasi wisata. Ottawa tidak melakukan semuanya secara berlebihan.

Advertisement

Ibu kota Kanada itu justru memperkenalkan dirinya melalui ketenangan.

Di pagi hari, jalanan tidak dipenuhi klakson. Trotoar dipenuhi pejalan kaki dan pesepeda yang berbagi ruang tanpa saling berebut. Bus datang sesuai jadwal. Taman kota menjadi ruang hidup bagi warga, bukan sekadar elemen penghias kawasan perkotaan. Gedung-gedung pemerintahan berdiri megah, tetapi tidak menciptakan jarak dengan masyarakat.

Selama beberapa hari mengikuti International Workshop on Public Policy (IWPP5) di Carleton University, saya menyadari bahwa Ottawa tidak sedang berusaha menunjukkan dirinya sebagai kota yang sempurna.

Kota ini justru memperlihatkan bagaimana sebuah peradaban dibangun melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Sebagai pakar kebijakan publik, saya terbiasa membaca berbagai dokumen perencanaan pembangunan. Namun Ottawa mengajarkan bahwa wajah sebuah kota sesungguhnya tidak dibentuk oleh dokumen. Ia dibentuk oleh konsistensi menjalankan dokumen tersebut.

Advertisement

Kota Berusia Dua Abad yang Tidak Tergesa-Gesa

Pada tahun 2026, Ottawa memasuki usia hampir dua abad sebagai ibu kota Kanada. Dalam ukuran sejarah, usia itu memang belum terlalu panjang jika dibandingkan dengan banyak kota di Eropa atau Asia.

Namun selama berjalan menyusuri pusat kota, saya merasakan satu hal yang menarik.

Ottawa tidak tampak seperti kota yang dibangun secara tergesa-gesa.

Bangunan-bangunan modern hadir berdampingan dengan gedung-gedung bersejarah. Kawasan hijau tetap dipertahankan meskipun tekanan pembangunan terus meningkat. Sungai Ottawa tidak hanya menjadi elemen lanskap, tetapi juga ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat untuk berjalan kaki, bersepeda, hingga sekadar menikmati sore.

Tidak ada kesan bahwa pembangunan dilakukan dengan mengorbankan ruang hidup warga.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri.

Barangkali inilah makna sebenarnya dari pembangunan berkelanjutan.

Bukan sekadar menambah infrastruktur baru, melainkan memastikan setiap pembangunan tetap menjaga kualitas hidup generasi berikutnya.

Ketika Trotoar Menjadi Ukuran Peradaban

Di Indonesia, diskusi mengenai pembangunan sering kali berpusat pada jalan tol, bandara, pelabuhan, atau proyek-proyek strategis nasional.

Semuanya memang penting.

Namun selama berada di Ottawa, perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Trotoar.

Hampir di setiap sudut kota, trotoar terasa nyaman digunakan. Jalurnya lebar, rata, dan terhubung dengan baik antarkawasan. Penyandang disabilitas, lansia, hingga pengguna kursi roda dapat menggunakannya tanpa kesulitan berarti.

Saya melihat banyak warga memilih berjalan kaki meskipun mereka memiliki kendaraan pribadi.

Pilihan itu bukan semata karena kesadaran lingkungan.

Melainkan karena kota menyediakan ruang yang membuat aktivitas berjalan kaki terasa nyaman dan aman.

Dalam kebijakan publik, desain ruang seperti ini sering disebut sebagai walkability, yaitu kemampuan sebuah kota mendukung mobilitas pejalan kaki secara aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Walkability bukan hanya persoalan infrastruktur.

Ia adalah bentuk penghormatan terhadap manusia.

Transportasi yang Membuat Orang Mau Beralih

Pengalaman menggunakan transportasi publik di Ottawa juga memberikan kesan tersendiri.

Bus datang relatif tepat waktu.

Informasi perjalanan tersedia secara digital.

Perpindahan antarmoda berlangsung sederhana.

Yang menarik, masyarakat tidak menggunakan transportasi umum karena dipaksa.

Mereka menggunakannya karena merasa lebih praktis.

Di banyak negara berkembang, pemerintah sering mengampanyekan penggunaan angkutan umum melalui slogan-slogan yang menarik.

Ottawa menunjukkan pendekatan berbeda.

Masyarakat tidak perlu diyakinkan melalui kampanye besar.

Mereka cukup diberi layanan yang dapat diandalkan.

Kepercayaan terhadap transportasi publik akhirnya tumbuh karena pengalaman sehari-hari, bukan karena iklan.

Pelajaran ini terasa relevan bagi banyak kota di Indonesia yang masih berjuang mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Gelandangan Tidak Selalu Berarti Negara Gagal

Di balik keteraturan kota, saya juga melihat sisi lain Ottawa.

Beberapa orang tunawisma tampak duduk di taman kota maupun sudut jalan.

Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa bahkan negara maju pun tidak pernah benar-benar bebas dari persoalan sosial.

Namun yang menarik adalah cara masyarakat memperlakukan mereka.

Saya tidak melihat tindakan mengusir secara kasar.

Saya juga tidak menemukan ekspresi merendahkan.

Sebagian warga tetap menyapa.

Ada yang memberikan makanan.

Ada pula yang sekadar berhenti berbincang.

Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa ukuran keberhasilan sebuah negara bukan terletak pada hilangnya seluruh persoalan.

Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memperlakukan kelompok yang paling rentan.

Negara maju bukan negara tanpa masalah.

Negara maju adalah negara yang memiliki mekanisme untuk menghadapi masalah secara bermartabat.

Seorang Nenek yang Tidak Takut Bertanya

Suatu sore saya sedang berjalan menuju pusat kota ketika seorang perempuan lanjut usia menghampiri.

"Apakah Anda tahu arah menuju Parliament Hill?"

Saya sempat tersenyum.

Di kota asing, justru saya yang ditanya arah oleh warga lokal.

Saya menjelaskan sebisanya berdasarkan peta digital yang saya buka di telepon genggam.

Perempuan itu mengucapkan terima kasih lalu melanjutkan perjalanan.

Peristiwa tersebut tampak sangat biasa.

Namun setelah dipikirkan kembali, saya menyadari ada makna yang lebih dalam.

Perempuan itu tidak ragu menghampiri orang asing.

Ia tidak curiga.

Ia percaya bahwa orang yang ditemuinya akan berusaha membantu.

Kepercayaan sosial ternyata hadir bahkan dalam interaksi sesingkat itu.

Kampus yang Menjadi Laboratorium Kebijakan

Sebagian besar waktu saya di Ottawa dihabiskan di Carleton University, tempat penyelenggaraan International Workshop on Public Policy (IWPP5).

Di kampus inilah ratusan akademisi dari berbagai negara berkumpul untuk mendiskusikan tantangan kebijakan publik dunia.

Yang menarik perhatian saya bukan hanya kualitas diskusinya.

Melainkan suasana kampus itu sendiri.

Mahasiswa, dosen, peneliti, dan masyarakat umum berbagi ruang yang sama.

Tidak ada sekat yang terasa kaku.

Ruang akademik menjadi ruang dialog.

Saya semakin yakin bahwa universitas terbaik bukan hanya menghasilkan lulusan berkualitas.

Ia juga menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan yang memperkaya kehidupan publik.

Kota yang Tidak Dibangun Lima Tahunan

Selama berada di Ottawa, saya terus memikirkan Indonesia.

Mengapa membangun kota yang nyaman terasa begitu sulit?

Mengapa ruang publik sering kalah oleh kepentingan jangka pendek?

Mengapa pergantian pemerintahan kerap diikuti perubahan arah kebijakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya pada satu kesimpulan sederhana.

Kota tidak dibangun dalam satu periode pemerintahan.

Kota dibangun oleh kesinambungan.

Trotoar yang nyaman tidak lahir dalam semalam.

Transportasi publik yang dapat dipercaya juga tidak selesai dalam lima tahun.

Kepercayaan masyarakat terhadap institusi bahkan memerlukan waktu lintas generasi.

Peradaban pada akhirnya merupakan akumulasi dari ribuan keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Membaca Masa Depan dari Sebuah Kota

Ottawa tidak menawarkan kemewahan yang berlebihan.

Ia juga tidak berusaha memamerkan dirinya sebagai kota paling modern di dunia.

Namun justru dalam kesederhanaannya saya menemukan pelajaran yang sangat penting.

Pembangunan bukanlah perlombaan membangun gedung tertinggi.

Bukan pula kompetisi menghadirkan proyek paling spektakuler.

Pembangunan adalah proses panjang membangun kepercayaan masyarakat terhadap ruang hidupnya.

Ketika warga percaya pada transportasi publik, mereka meninggalkan kendaraan pribadi.

Ketika warga percaya trotoar aman, mereka memilih berjalan kaki.

Ketika warga percaya ruang publik nyaman, taman kota pun hidup.

Dan ketika masyarakat percaya pemerintah bekerja secara konsisten, kebijakan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Taipei mengajarkan saya bagaimana sistem membangun kepercayaan.

Kanada memperlihatkan bagaimana kepercayaan hidup dalam perilaku masyarakat.

Sementara Ottawa menunjukkan satu pelajaran yang lebih besar.

Peradaban tidak dibangun oleh satu kebijakan besar.

Peradaban lahir dari ribuan kebijakan kecil yang dijalankan dengan sabar, konsisten, dan melampaui pergantian generasi.

Di kota inilah saya mulai memahami bahwa ruang konferensi bukan satu-satunya tempat belajar kebijakan publik. Kota itu sendiri adalah ruang kelas yang sesungguhnya. Dan pelajaran berikutnya justru menanti di dalam forum akademik internasional, ketika diskusi tentang Indonesia membuka perspektif baru mengenai posisi ilmu pengetahuan kita di mata dunia.

(Bersambung ke Membaca Peradaban (4):Ketika Sebuah Bangsa Harus Percaya pada Pengetahuannya Sendiri)

FEATURE BERSAMBUNG | MEMBACA PERADABAN DARI SEBUAH PERJALANAN (3)
Oleh: Fadillah Putra, MPAff., Ph.D.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Brawijaya

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia