Ketegangan AS-Iran Memanas, Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz
Ketegangan AS dan Iran kembali meningkat setelah kapal tanker diserang di Selat Hormuz. Donald Trump mengancam melanjutkan serangan, sementara Iran memperingatkan jalur pelayaran tetap berbahaya.
JAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki fase yang lebih berbahaya. Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia, kembali menjadi titik panas setelah sebuah kapal tanker diserang hingga terbakar. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut.
Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Selain meningkatkan risiko keamanan pelayaran internasional, eskalasi konflik juga berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global yang selama ini bergantung pada Selat Hormuz.
Kapal Tanker Terbakar, Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UK Maritime Trade Operations/UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker mengalami ledakan dan kebakaran setelah terkena proyektil yang belum diketahui asalnya saat melintas di Selat Hormuz.
Insiden terjadi sekitar delapan mil laut di barat laut Kumzar, Oman.
Dalam pembaruan informasi yang disampaikan Senin (20/7/2026), UKMTO memastikan seluruh awak kapal berhasil meninggalkan kapal sebelum api membesar. Mereka kemudian dievakuasi oleh kapal lain yang berada di sekitar lokasi.
"Kapal terkena proyektil yang tidak diketahui. Awak kapal berhasil meninggalkan kapal dan telah diselamatkan. Api masih belum padam dan kapal kini hanyut di laut," demikian keterangan UKMTO.
Hingga laporan terakhir, belum ditemukan indikasi pencemaran lingkungan akibat insiden tersebut.
Iran Klaim Dua Kapal Tanker Lumpuh
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan terdapat dua kapal tanker yang mengalami ledakan ketika melintasi bagian selatan Selat Hormuz.
Menurut IRGC, kedua kapal tersebut memasuki jalur pelayaran yang disebut tidak aman setelah mendapat tekanan dari militer Amerika Serikat.
Iran mengklaim awalnya terdapat empat kapal yang mengabaikan peringatan otoritas setempat. Dua kapal kemudian mengubah rute, sedangkan dua lainnya tetap melanjutkan pelayaran hingga akhirnya mengalami kecelakaan.
IRGC juga memperingatkan bahwa jalur pelayaran di kawasan tersebut akan tetap berisiko selama operasi militer AS masih berlangsung.
Pernyataan tersebut mempertegas sikap Iran yang sejak konflik bersenjata dengan AS dan Israel semakin memperketat pengawasan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Perebutan
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak mentah dan LNG dari kawasan Teluk.
Sebelum konflik terbaru, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati perairan tersebut. Namun, meningkatnya konfrontasi militer membuat aktivitas pelayaran di kawasan ini semakin berisiko.
Dalam beberapa pekan terakhir, Iran disebut meningkatkan tekanan terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi jalur di dekat pantai Oman. Teheran mendorong kapal menggunakan jalur yang berada di wilayah perairan Iran dengan alasan keamanan.
Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran pelaku industri energi terhadap potensi terganggunya rantai pasok minyak dunia apabila konflik terus meluas.
Trump Ancam Lanjutkan Serangan
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus dilanjutkan.
Trump mengatakan serangan terbaru dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada personel militer AS yang gugur dalam beberapa hari terakhir.
"Kita kembali menghantam mereka dengan sangat keras malam ini. Kita melakukannya untuk menghormati para patriot Amerika," ujar Trump kepada wartawan setelah kembali ke Washington DC.
Sementara itu, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi pihaknya telah melancarkan gelombang serangan baru terhadap target-target Iran untuk malam kesembilan secara berturut-turut.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang dinilai digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial dan pelaut sipil di Selat Hormuz.
Ancaman terhadap Stabilitas Kawasan
Eskalasi terbaru menunjukkan bahwa Selat Hormuz kembali menjadi episentrum persaingan geopolitik antara Washington dan Teheran.
Serangan terhadap kapal tanker, operasi militer yang terus berlangsung, serta saling ancam antara kedua negara meningkatkan risiko terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Selain berdampak pada keamanan pelayaran internasional, konflik juga berpotensi memengaruhi harga energi global apabila gangguan distribusi minyak dan gas terus berlanjut.
Di tengah situasi tersebut, berbagai upaya diplomasi yang sebelumnya sempat mengarah pada gencatan senjata kembali menghadapi tantangan besar, sementara dunia terus mencermati perkembangan di salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


