Advertisement
Peristiwa Internasional

PBB Khawatir Serangan Houthi di Laut Merah Gagalkan Proses Damai Yaman

PBB memperingatkan serangan Houthi di Laut Merah dapat menggagalkan proses perdamaian Yaman dan memicu eskalasi konflik regional.

TIMES Indonesia,
PBB Khawatir Serangan Houthi di Laut Merah Gagalkan Proses Damai Yaman
Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg berbicara pada pertemuan Dewan Keamanan di markas besar PBB di New York, 16 Juni 2026. Xinhua
A-AA+

JAKARTA Harapan menjaga perdamaian di Yaman kembali menghadapi ujian. Meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal niaga di Laut Merah memicu kekhawatiran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa konflik yang sempat mereda dapat kembali membesar dan menyeret kawasan ke dalam ketegangan baru.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menilai eskalasi terbaru bukan sekadar ancaman terhadap jalur pelayaran internasional, tetapi juga berpotensi menghambat proses politik yang selama beberapa tahun terakhir terus diupayakan melalui mediasi PBB.

Advertisement

Dalam pernyataannya yang diunggah melalui platform X pada Kamis (23/7/2026), Grundberg mengaku prihatin atas kembali terjadinya serangan dan gangguan terhadap aktivitas maritim di Laut Merah.

Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah mempertahankan hasil yang telah dicapai melalui gencatan senjata tahun 2022 sekaligus menciptakan ruang bagi dialog politik yang inklusif. Ia mengingatkan bahwa meningkatnya kekerasan hanya akan memperdalam krisis kemanusiaan dan memperluas dampak konflik di kawasan.

"Masih ada peluang untuk mengubah arah keadaan," ujar Grundberg sembari mendorong seluruh pihak kembali menempuh jalur negosiasi guna menyelesaikan persoalan politik, ekonomi, dan keamanan di Yaman.

Serangan Houthi Tingkatkan Risiko Konflik Regional

Peringatan PBB muncul setelah kelompok Houthi meningkatkan tekanan terhadap aktivitas pelayaran di Laut Merah.

Pada 20 Juli 2026, Houthi mengumumkan larangan bagi kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi untuk melintasi wilayah yang mereka kuasai. Kelompok tersebut beralasan kebijakan itu merupakan respons terhadap blokade berkepanjangan yang diterapkan Riyadh terhadap wilayah di bawah kendali mereka.

Advertisement

Tak lama berselang, Houthi mengklaim telah melancarkan operasi militer terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Mereka menuduh kedua kapal tersebut melanggar larangan maritim yang telah diumumkan sebelumnya.

Rangkaian aksi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan internasional di Laut Merah yang selama ini menjadi salah satu koridor pelayaran paling strategis di dunia.

Gencatan Senjata Masih Menjadi Harapan

Konflik Yaman telah berlangsung sejak akhir 2014 ketika kelompok Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara negara itu. Situasi tersebut mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Upaya meredakan konflik sempat menunjukkan perkembangan positif melalui gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022. Meski kesepakatan tersebut hanya berlaku selama enam bulan, gencatan senjata de facto relatif bertahan hingga kini, walaupun bentrokan sporadis masih beberapa kali terjadi.

Namun, meningkatnya kembali aktivitas militer di Laut Merah dinilai dapat mengikis stabilitas yang telah dibangun selama beberapa tahun terakhir. PBB pun menilai momentum perdamaian yang masih tersisa harus segera dimanfaatkan sebelum eskalasi berubah menjadi konflik yang lebih luas.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia