Rusia dan China Targetkan Volume Kargo Jalur Laut Utara Naik Dua Kali Lipat pada 2030
Rusia dan China menargetkan lalu lintas kargo Jalur Laut Utara meningkat dua kali lipat pada 2030. Jalur Arktik dinilai menjadi alternatif strategis perdagangan global.
JAKARTA – Perubahan dinamika jalur perdagangan global mendorong Rusia dan China mempercepat pengembangan Jalur Laut Utara (Northern Sea Route/NSR) sebagai koridor logistik alternatif. Kedua negara kini menargetkan volume angkutan kargo melalui jalur Arktik tersebut meningkat hingga dua kali lipat paling lambat pada 2030.
Target ambisius itu disampaikan Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, saat melakukan kunjungan kerja ke Beijing, Jumat (24/7/2026). Menurutnya, peningkatan lalu lintas kargo bahkan berpeluang tercapai lebih cepat dari target yang telah ditetapkan.
"Rusia dan China memiliki rencana ambisius untuk setidaknya melipatgandakan total lalu lintas kargo di Jalur Laut Utara pada 2030. Namun, saya rasa kami akan mencapai angka tersebut jauh lebih cepat," ujar Likhachev.
Jalur Arktik Jadi Alternatif Perdagangan Dunia
Likhachev menjelaskan, minat perusahaan pelayaran terhadap Jalur Laut Utara meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut dipicu gangguan keamanan dan ketidakpastian yang masih terjadi di sejumlah jalur pelayaran selatan, termasuk kawasan Timur Tengah.
Situasi itu membuat pelaku industri logistik mulai melirik rute Arktik sebagai alternatif yang lebih efisien untuk menghubungkan Asia dan Eropa.
Selain faktor geopolitik, perubahan iklim yang menyebabkan mencairnya es di kawasan Arktik juga membuat jalur tersebut semakin mudah dilayari dalam periode yang lebih panjang setiap tahunnya.
Rusia dan China Perkuat Industri Kapal Arktik
Tidak hanya meningkatkan volume pengiriman, Rusia dan China juga berencana memperluas kerja sama di sektor industri maritim melalui pengembangan kapal-kapal kelas Arktik yang dirancang mampu beroperasi di perairan bersuhu ekstrem.
"Kami memiliki rencana besar bersama untuk mengembangkan industri galangan kapal Arktik. Ini merupakan bidang kerja sama yang saling menguntungkan, di mana masing-masing pihak akan memperoleh manfaat dari tahap baru dan tingkat hubungan yang lebih tinggi," kata Likhachev.
Kerja sama tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung operasional Jalur Laut Utara, termasuk memperkuat armada kapal yang mampu melintasi kawasan es.
Kerja Sama Saling Menguntungkan
Menurut Likhachev, Rusia memperoleh keuntungan melalui kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan China dalam mengembangkan infrastruktur dan potensi ekonomi Jalur Laut Utara.
Di sisi lain, China mendapatkan akses terhadap rute pelayaran yang dinilai lebih pendek, lebih aman, dan lebih efisien secara ekonomi dibandingkan sejumlah jalur perdagangan konvensional.
Rosatom juga memastikan dukungan penuh melalui armada kapal pemecah es (icebreaker) yang menjadi kunci kelancaran pelayaran di kawasan Arktik.
Apabila target tersebut tercapai, Jalur Laut Utara berpotensi menjadi salah satu koridor perdagangan internasional yang semakin strategis di tengah perubahan peta logistik global dan meningkatnya kebutuhan akan jalur distribusi yang lebih aman serta efisien.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


