Advertisement
Peristiwa Internasional

AS Panggil Dubes Malaysia soal Kebijakan Israel, Anwar Ibrahim Tetap Tolak Masuknya Warga Israel

AS panggil Dubes Malaysia terkait kebijakan Israel. Anwar Ibrahim tetap menolak masuknya warga Israel demi dukungan Palestina.

TIMES Indonesia,
AS Panggil Dubes Malaysia soal Kebijakan Israel, Anwar Ibrahim Tetap Tolak Masuknya Warga Israel
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan negaranya tetap mempertahankan kebijakan larangan masuk bagi warga Israel. (Rolex Dela Pena/Pool via Reuters)
A-AA+

KUALA LUMPUR Pemerintah Amerika Serikat memanggil Duta Besar Malaysia untuk AS, Muhammad Shahrul Ikram Yaakob, terkait kebijakan Kuala Lumpur terhadap Israel. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul perdebatan mengenai keputusan Malaysia yang tetap mempertahankan larangan masuk bagi warga negara Israel.

Dilansir dari Al Jazeera, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat meminta penjelasan dari perwakilan diplomatik Malaysia mengenai sikap pemerintah Kuala Lumpur yang selama bertahun-tahun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Advertisement

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan, dalam pertemuan tersebut, Duta Besar Muhammad Shahrul Ikram menjelaskan bahwa kebijakan negaranya terhadap Israel bukanlah keputusan baru, melainkan bagian dari prinsip politik luar negeri yang telah lama diterapkan.

“Ini selalu menjadi kebijakan Malaysia. Kebijakan imigrasi kami tidak mengakui Negara Israel maupun rezim Zionis. Posisi ini sudah berlangsung lama,” ujar Mohamad Hasan seperti diberitakan Bernama.

Menurut Hasan, persoalan terbaru bermula setelah otoritas Malaysia menemukan seorang individu berkewarganegaraan ganda Amerika Serikat dan Israel memasuki negara tersebut menggunakan paspor AS. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, pemerintah mengetahui bahwa orang tersebut juga memiliki kewarganegaraan Israel dan kemudian diminta meninggalkan Malaysia.

Malaysia memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Negara Asia Tenggara itu selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung utama perjuangan Palestina dan secara terbuka mengkritik tindakan militer Israel di Gaza serta wilayah pendudukan Tepi Barat.

Ketegangan terbaru antara Kuala Lumpur dan Washington meningkat setelah komunitas teknologi Network School menjadi perhatian publik. Komunitas yang didirikan investor asal Amerika Serikat, Balaji Srinivasan, tersebut mendapat kritik setelah muncul klaim di media sosial bahwa terdapat peserta asal Israel dalam kegiatan mereka.

Advertisement

Pemerintah Malaysia kemudian melakukan penyelidikan terhadap Network School. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh peserta memiliki dokumen perjalanan yang sah. Namun, pemerintah tetap memutuskan menghentikan operasional komunitas tersebut pada Selasa lalu.

Situasi semakin memanas setelah delapan anggota Kongres Amerika Serikat mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Mereka menyampaikan keberatan terhadap rencana Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim untuk melacak warga negara Israel yang berada di Malaysia dan mendeportasi mereka.

Para anggota Kongres tersebut juga mendesak Departemen Luar Negeri AS melakukan evaluasi terhadap hubungan ekonomi dan keamanan dengan Kuala Lumpur. Mereka bahkan meminta penghentian pendanaan untuk program International Military Education and Training (IMET), sebuah program pelatihan profesional militer AS bagi personel militer Malaysia, apabila kebijakan tersebut tidak berubah dalam waktu 15 hari.

Namun, Anwar Ibrahim menegaskan bahwa Malaysia tidak akan mengubah pendiriannya. Perdana Menteri Malaysia itu menyatakan negaranya tetap akan melarang warga Israel memasuki wilayah Malaysia meskipun mendapat tekanan dari sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat.

“Ancaman tersebut tidak akan menghalangi kami. Saya akan tetap membela hak rakyat Malaysia dan mempertahankan keputusan pemerintah untuk terus melarang masuknya warga negara Israel,” kata Anwar seperti dikutip Bernama.

Anwar menegaskan sikap Malaysia didasarkan pada komitmen terhadap hak-hak rakyat Palestina serta penolakan terhadap tindakan yang dianggap sebagai penindasan dan kekerasan terhadap warga Palestina di Gaza.

Persoalan ini menunjukkan bagaimana isu Israel-Palestina terus memengaruhi hubungan diplomatik antarnegara, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Meski Malaysia dan Amerika Serikat memiliki kerja sama strategis dalam berbagai bidang, perbedaan pandangan mengenai Israel menjadi salah satu isu yang masih sulit dijembatani.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia