Dua Matematikawan China Raih Fields Medal, Cetak Sejarah Baru di Dunia Matematika
Dua matematikawan China Hong Wang dan Yu Deng meraih Fields Medal, penghargaan tertinggi matematika dunia.
CHINA – Dunia matematika mencatat sejarah baru setelah dua akademisi asal China, Hong Wang dan Yu Deng, berhasil meraih Fields Medal, penghargaan paling bergengsi di bidang matematika yang kerap disebut sebagai “Nobel Matematika”. Keduanya menjadi matematikawan China pertama yang memenangkan penghargaan tersebut.
Berdasarkan laporan BBC, Hong Wang dan Yu Deng meraih penghargaan tersebut bersama dua matematikawan lain, yakni John Pardon dari Amerika Serikat dan Jacob Tsimerman dari Kanada. Masing-masing penerima mendapatkan hadiah sebesar 15.000 dolar Kanada atau sekitar 10.500 dolar AS.
Pengumuman kemenangan ini langsung mendapat perhatian besar di China. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan nasional karena selama puluhan tahun komunitas matematika China menantikan lahirnya peraih Fields Medal dari negaranya sendiri.
Tagar terkait Fields Medal dan kemenangan matematikawan China bahkan menjadi perbincangan luas di berbagai platform media sosial China seperti Weibo dan Rednote. Banyak pengguna menyebut pencapaian tersebut sebagai momen bersejarah bagi perkembangan ilmu pengetahuan China.
“Ini adalah kebanggaan seluruh rakyat China,” tulis salah satu pengguna Weibo. Pengguna lain menyebut dunia sedang menyaksikan sebuah sejarah baru dalam bidang matematika.
Fields Medal diberikan setiap empat tahun kepada matematikawan luar biasa yang berusia di bawah 40 tahun. Penghargaan ini pertama kali diberikan pada 1936 dan dianggap sebagai salah satu pengakuan tertinggi bagi para ilmuwan matematika dunia.
Hong Wang, yang kini berusia 35 tahun, mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam menyelesaikan persoalan matematika yang berusia lebih dari 100 tahun. Bersama koleganya, Josh Zahl, ia berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan matematikawan Jepang Soichi Kakeya pada 1917.
Masalah tersebut dikenal sebagai Kakeya problem, sebuah persoalan yang berkaitan dengan luas area yang terbentuk ketika sebuah pensil diputar hingga satu putaran penuh. Wang dan Zahl menganalisis persoalan tersebut dengan pendekatan ruang tiga dimensi, bukan hanya permukaan datar seperti penelitian sebelumnya.
Wang menjelaskan bahwa daya tarik masalah tersebut muncul karena fenomena serupa ternyata muncul secara alami dalam berbagai bidang ilmu yang berbeda.
Selain Wang, Yu Deng juga mendapatkan penghargaan berkat keberhasilannya menyelesaikan persoalan matematika klasik yang berasal dari abad ke-20.
Deng, profesor matematika di University of Chicago, memecahkan bagian penting dari Masalah Keenam Hilbert, sebuah tantangan yang diajukan matematikawan Jerman David Hilbert pada 1900. Persoalan tersebut berusaha memahami bagaimana perilaku suatu sistem besar dapat dijelaskan melalui pergerakan partikel individu.
Dalam penelitiannya, Deng menggunakan pendekatan terhadap perilaku gas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ia menyebut penghargaan Fields Medal sebagai kehormatan besar karena namanya kini tercatat bersama para matematikawan yang sebelumnya ia kagumi.
Prestasi Wang dan Deng juga menarik perhatian karena keduanya memiliki perjalanan akademik yang panjang dari China menuju institusi pendidikan dunia.
Wang lahir pada 1991 di Guilin, wilayah Guangxi, China. Ia dikenal sebagai siswa berprestasi sejak kecil dan berhasil masuk Universitas Peking pada usia 16 tahun. Awalnya mengambil bidang ilmu bumi, ia kemudian beralih ke jurusan matematika.
Setelah menyelesaikan pendidikan di China, Wang melanjutkan studi ke Prancis dan Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan di Paris-Sud University, École Polytechnique, hingga meraih gelar doktor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Saat ini, ia menjadi profesor di New York University serta profesor tetap di Institut des Hautes Études Scientifiques (IHES) Prancis.
Keberhasilannya bahkan mendapat apresiasi langsung dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. Dalam unggahan di media sosial X, Macron menyebut Wang sebagai simbol keunggulan riset dan pendidikan Prancis.
Sementara itu, Yu Deng juga memiliki perjalanan akademik internasional. Ia masuk Universitas Peking pada 2007 sebelum melanjutkan studi ke MIT pada 2009. Ia kemudian meraih gelar doktor dari Princeton University dan mulai mengajar di University of Chicago sejak 2024.
Kemenangan Wang dan Deng menunjukkan semakin kuatnya kontribusi ilmuwan China dalam penelitian matematika dunia. Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mulai menantang kemampuan komputasi manusia, pencapaian mereka menjadi pengingat bahwa pemikiran matematis mendalam masih menjadi fondasi penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


