Ribuan Pengungsi Asal Kampung Banjar Ampenan Bukan Korban Gempa tapi Korban Isu Tsunami
Ribuan warga Kampung Banjar Ampenan, Mataram, masih mengungsi menyusul gempa bumi 7,0 SR yang berpusat di Lombok, Nusa Tengara Barat. Rumah mereka hingga Selasa (7/8/2018) dinihari tidak berpenghuni.

MATARAM – Ribuan warga Kampung Banjar Ampenan, Mataram, masih mengungsi menyusul gempa bumi 7,0 SR yang berpusat di Lombok, Nusa Tengara Barat. Rumah mereka hingga Selasa (7/8/2018) dinihari tidak berpenghuni.
Saat TIMES Indonesia menengok rumah mereka di kampung tepian Pantai Ampenan, dinihari itu, kondisi tampak lengang.
Tidak seperti malam sebelumnya, yang temaram dengan hembusan sepoi angin pantai.
Dini hari itu, TIMES Indonesia menemui delapan pemuda berkumpul di ujung gang. Mereka jagongan sembari menyeruput kopi hitam panas.

Tampaknya, mereka lagi "siaga satu". Tak satupun selain petugas dadakan yang mereka bentuk boleh masuk.
"Bapak mau kemana? Maaf kampung ini sudah tidak ada penghuninya. Mereka mengungsi pak," jelas seorang pria paruh baya.
Pria inipun meminta rekannya untuk mengantarkan TIMES Indonesia ke tempat penampungan warga.
Lokasinya memang tidak jauh dari pantai. Sekitar setengah kilometer dari jembatan sungai pemisah kampung nelayan dengan kampung warga biasa.
Di tanah lapang milik warga perumahan yang bertetangga dengan warga Kampung Banjar itulah tempat penampungan pengungsi.
Mereka dibangunkan tenda besar dan beberapa tenda ukuran kecil dan sedang. Siang malam mereka berteduh tanpa kakus dan tempat mandi.
Menurut Kepala lingkungan kampug Banjar, Syamsuddin para pengungsi itu meninggalkan rumahnya sehabis shalat isya.
Sekitar 500 jiwa mengungsi karena traumatik. Mereka khawatir ada tsunami dan gempa susulan yang diisukan datang saat tengah malam.
Namun, setelah semua warga Kampung Banjar meninggalkan rumahnya, kata Syamsusdin tidk ada sama sekali gelombang besar yang datang.
"Itu kabar bohong belaka. Hanya isu saja," ujarnya dengan logat Sasak yang kental.

Sampai hari ini, diakuinya tidak ada yang namanya tsunami maupun gempa susulan yang lebih besar.
"Karena itu, mereka ini bukan korban gempa pak, tapi korban isu tsunami," jelas pria 47 tahun itu.
Kendati bukan korban gempa, Syamsuddin berharap ada perhatian pemerintah maupun pihak yang terkait.
Ia khawatir keresahan sosial yang mulai timbul akan berlarut. Terutama untuk hajat kelangsungan hidup kesehariannya.
"Baru relawan dari PMI yang kemari. Itupun hanya memeriksa kesehatan pengungsi," jelas Syamsuddin. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


