Advertisement
Peristiwa Nasional

Beda Sasaran Kelompok Radikalisme zaman Now dan Zaman Old

Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Muhammad AS Hikam mengungkapkan sasaran kelompok radikalisme di zaman sekarang dan zaman dulu sangat berbeda.

TIMES Indonesia,
Beda Sasaran Kelompok Radikalisme zaman Now dan Zaman Old
Mohammad AS Hikam (dua dari kanan). (FOTO: Alfi Dimyati/TIMES Indonesia)
A-AA+

JAKARTA Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Muhammad AS Hikam mengungkapkan sasaran kelompok radikalisme di zaman sekarang dan zaman dulu sangat berbeda.

Hal tersebut sangat terlihat dari ketenangan sikap, Ideologi atau landasan pemikiran para calon martir yang siap menyerang sebuah wilayah.

Advertisement

"Kalo jaman old (yang dipilih) nyari orang yang matang, tenang dan sebagainya, Tapi kalo sekarang sudah beda. Sasaran mereka, mereka nyarinya yang belum matang (pemikiran dan sikapnya)," katanya dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Perhimpunan Pendidikan Pancasila Untuk Demokrasi (P3D) dengan tajuk 'Penanggulangan Penyebaran Paham Radikal pada Remaja Guna Mencegah Terorisme' di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (27/8/2018).

Selain itu, kata dia, gerakan radikal di Indonesia juga sudah sangat berbeda jika dilihat dari basis dan narasinya. Pada zaman old, gerakan radikalisme hanya berkutat di sebuah wilayah yang ujung pangkal atau karakternya masih di Indonesia.

Namun, usai Reformasi 98, gerakan radikalisme karakternya sudah tak lagi di wilayah dan negara, akan tetapi sudah berafiliasi dan bercokol ke internasional.

"Ideologi itu (Radikalisme Trans Nasional) tidak lagi mengenal batas wilayah. ISIS contohnya tidak mengenal wilayah. Tapi ada dicabang-cabang, sperti di Nigeria, Indonesia dan negara lainnya, Gagasan kekhalifahan indonesia ini teritoritalnya lebih luas. Ini berbeda dengan DI TII," katanya.

Ditegaskannya, radikalisme yang dibangun oleh Imperium Trans Nasional sudah tak lagi mengenal batas wilayah, suku, daerah dan lainnya, meskipun pendukungnya banyak yang berasal dari daerah.

Advertisement

"JAT, HTI dan lain-lain itu mulai masuk ke Indonesia pasca reformasi. Gerakan radikalisme ini memiliki karakter internasional, meskipun para pendukungnya adalah tataran indonesia, tetapi narasi dukungannya dari trans nasional," jelasnya.

Meski demikian, soal modus operasi kelompok radikal, kata dia, di Indonesia zaman now dan zaman old masih tetap sama. Sebab, belum ada 'martir atau calon penganten' yang menggunakan modus tabrak dan peledakan ditengah kerumunan masyarakat.

"Modus dengan menabrakan mobil ditengah kerumunan. Saya membayangkan kalo misalnya modus ini dilakukan di Indonesia ini pasti banyak banget korban. Semoga saja ini tak dijadikan riset oleh ISIS," kata Muhammad AS Hikam.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Alfi Dimyati
PenulisAlfi Dimyati Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia