Advertisement
Peristiwa Nasional

Instran Beberkan 10 Kekurangan KA Bandara

Pasca genap satu tahun beroperasi pada 2 Januari lalu, Institut Studi Transportasi (Instran) menyampaikan hasil evaluasi terhadap Kereta Api Bandara (KA Bandara) Soekarno-Hatta (Soetta).

TIMES Indonesia,
Instran Beberkan 10 Kekurangan KA Bandara
Kereta bandara atau Railink (Foto: Andrey Gromico/tirto.id)
A-AA+

JAKARTA Pasca genap satu tahun beroperasi pada 2 Januari lalu, Institut Studi Transportasi (Instran) menyampaikan hasil evaluasi terhadap Kereta Api Bandara (KA Bandara) Soekarno-Hatta (Soetta).

Deddy Herlambang selaku Direktur Eksekutif Instran, mengatakan bahwa KA Bandara seharusnya mampu mengangkut total 19.040 penumpang per harinya dari Bekasi-Jakarta-Bandara Soetta pulang pergi (PP).

Advertisement

Namun, merujuk data PT Railink hingga November 2018, okupansi penumpang pada hari biasa 2.700 - 3.000, hari Jumat antara 4.700 - 5.000, serta hari Sabtu dan Minggu sekitar 2.000 - 2.500. Bila diambil angka paling banyak perhari 5.000 penumpang, maka okupansi keterisian masih 26 persen.

"Okupansi 26 persen ini masih jauh dari harapan orang berpindah dari penggunaan kendaraan pribadi kepada transportasi berbasis rel menuju atau dari Bandara Soetta," kata Deddy dalam diskusi bertajuk 'Review 1 Tahun Kereta Api Bandara, Akankah Mampu Menguraikan Kepadatan Lalu Lintas Jalan?' di Hotel Sari Pasific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (9/1/2019) malam.

Selain itu, menurutnya juga ada beberapa kekurangan dari KA Bandara tersebut. Diantaranya:

1. Masih rendahnya tingkat keterisian (load factor) KA Bandara karena lemahnya perencanaan makro dan mikro sehingga kurang terintegrasi dengan moda transportasi lainnya yang dapat memudahkan pengguna untuk berpindah moda.

2. Tidak adanya sinkronisasi kebijakan antar BUMN Transportasi yang dapat saling mendukung untuk berpindahnya dari mobil pribadi ke angkutan KA Bandara. Seperti misalnya adanya perluasan ruang parkir di Bandara Soetta yang sebetulnya justru mendorong masyarakat untuk Iebih banyak menggunakan mobil pribadi daripada menggunakan angkutan umum massal.

Advertisement

3. Lemahnya perencanaan tersebut terlihat dari keberadaan destinasi KA di stasiun Bandara Soetta yang hanya ada di satu titik saja kemudian pengguna dihantarkan dengan feeder skytrain menuju terminal 1, 2 dan 3, menyebabkan publik juga enggan menggunakan KA Bandara karena dianggap terlalu merepotkan dan kurang efisien, terlebih bila membawa bagasi yang banyak.

4. KA Bandara tidak bisa point to point seperti halnya mobil pribadi atau taxi. Bahkan dengan angkutan umum berbasis bus yang dapat mengantarkan penumpang sampai ke depan terminal kebarangkatan maupun menjemput di depan terminal kedatangan. KA Bandara memerlukan waktu yang lebih lama untuk menuju ke terminal pemberangkatan maupun dari terminal pamberangkatan menuju ke stasiun.

5. Minimnya informasi/petunjuk di setiap terminal Bandara Soetta untuk menggunakan KA Bandara di terminal-terminal Bandara Soetta.

6. Diperlukan konsep integrasi satu simpul terminal untuk koneksitas antar moda yang saling menguntungan antara moda perkeretaapian, darat dan udara di dalam Kawasan Bandara Soetta.

7. Adanya rekayasa lalu lintas ganjil genap di Jalan Sudirman dan MH Thamrin pada waktu pagi dan sore dapat mengurangi akses calon pengguna KA Bandara menuju ke Stasiun Sudirman Baru, mengingat pengguna KA Bandara Soetta sendiri paling banyak pada waktu pagi dan sore hari.

8. Rencana Pemprov DKI Jakarta untuk menutup Jalan Blora yang akan dijadikan sebagai area pedestrian/RTH di area stasiun MRT juga dikhawatirkan akan mematikan akses menuju ke Stasiun Sudirman Baru. Calon pengguna KA Bandara yang menggunakan kendaraan pribadi tidak memiliki akses masuk ke kawasan Stasiun Sudirman Baru.

9. Diharapkan, pembangunan infrastruktur transportasi massal yang ada di wilayah DKI Jakarta tidak saling membunuh atau mematikan moda yang lain, tapi justru saling melengkapi dan bersinergi sehingga dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum massal, termasuk KA Bandara pada saat menuju/dari Bandara Soetta.

10. Perlu studi sesuai platform transportasi secara makro dengan mengevaluasi beroperasinya KA Bandara dan aspek lalu lintas di Iini Jabodetabek untuk peranannya mengurangi kepadatan lalu lintas jalan menuju Bandara Soetta.

Itulah 10 kekurangan KA Bandara Soetta berdasarkan hasil evaluasi Instran.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rahmi Yati Abrar
PenulisRahmi Yati Abrar Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia