Luncurkan Buku The Brave Lady, Megawati Kenang Kabinet Gotong Royong
Launching buku

JAKARTA – Launching buku "The Brave Lady - Megawati dalam Catatan Kabinet Gotong Royong" di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (23/1/2019) menjadi ajang nostalgia Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri.
Peluncuran buku ini merupakan rangkaian peringatan HUT ke-72 Megawati yang juga Ketum PDI Perjuangan, itu. Tiga mantan Wakil Presiden yakni Try Sutrisno, Hamzah Haz, dan Boediono hadir dalam launching buku bersampul warna putih ini.
Sejumlah menteri di Kabinet Gotong Royong juga hadir. Antara lain Hatta Rajasa, Pernomo Yusgiantoro, Boediono, Rokhmin Dahuri, Faisal Tamin, Hasan Wirajuda, Yusril Ihza Mahendra, Kwik Kian Kian Gie, dan Malik Fajar.
Hadir pula mantan Kapolri Dai Bachtiar. Ada juga Menteri Kabinet Indonesia Kerja seperti Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Kepala BIN Budi Gunawan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Seskab Pramono Anung, serta Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Megawati bercerita saat menutup rapat terakhir Kabinet Gotong Royong, para istri menteri ingin menemuinya. Putri Proklamator Kemerdekaan RI, Ir Soekarno itu memberikan waktu bertemu. Lantas, para istri menteri menyatakan tidak ingin berpisah dari Megawati, meskipun tak lagi menjabat presiden.
"Mereka menyuarakan suara hati bahwa jangan berpisah. Saya tanya memang mau ke mana? Ternyata maksudnya pisah berkumpul," kata Megawati yang saat acara itu mengenakan baju putih tersebut.
Megawati dan para istri menteri itu kemudian membuat sebuah perkumpulan arisan yang dinamakan Paguyuban Nusantara. Jadi, terang Megawati, sudah sekitar 15 tahun berlalu, mereka tetap rutin bertemu dua bulan sekali.
Nah, dia mengaku gaya bossy-nya keluar saat itu. Ketika arisan, para suami yang tak lain adalah menteri Kabinet Gotong Royong mengerumuninya. "Saya bilang, rapat kabinet dimulai," kata Megawati bercanda yang disambut tepuk tangan dan tawa hadirin.
Sekarang yang menjadi ketua Paguyuban Nusantara adalah istrinya Poernomo Yusgiantoro. Menurut Megawati, kadang-kadang ketua paguyuban bercerita betapa sulitnya mengumpulkan peserta arisan.
"Saya bilang pokoknya tetap dua bulan sekali. Tidak bisa tiga bulan. Kasihan nanti yang menunggu dapat arisan. Itulah keakraban kami," ucap dia.
Megawati kemudian bercerita ketika pertama kali menjabat wapres mendamping Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Saat itu, ia tengah mencari sosok yang tepat untuk menjadi sekretaris wapres. "Saya ingat Bambang Kesowo," kata Mega.
Namun, Bambang tidak hadir dalam launching buku itu. Nah, Mega pun menceritakan bagaimana bisa Bambang Kesowo dipilihnya menjadi sekretaris Wapres RI kala itu. Megawati meminta masukan dari Moerdiono. Nah, Moerdiono inilah yang kemudian merekomendasikan nama Bambang Kesowo.
"Pak Moer bilang orangnya gayanya hampir ke tingkat eksentrik. Loh, kok eksentrik diberikan ke saya. Tapi, Pak Moer bilang, lihat dulu, kenalan, bicara, kalau cocok jalan," tutur Megawati panjang lebar.
Suatu hari, Bambang yang baru pulang dari luar negeri menghadap Megawati di kediaman wapres. Bambang datang mengenakan setelan jas lengkap. Megawati mengatakan, Bambang kala itu terkenal sering membawa buku catatan dan pulpen.
"Dia datang lalu duduk kakinya disilang, bukunya disimpan di atas pahanya. Pakai pulpen tek tok tek tok itu. Saya bilang tengil juga nih orang," tutur Megawati Soekarnoputri.
Dalam pertemuan itu Megawati mengajak Bambang menjadi Seswapres. Namun, dia tidak membutuhkan jawaban hari itu juga. Melainkan tiga hari. Kalau mau, langsung datang ke kantor, tanpa harus melapor. Benar saja, Bambang pun kemudian datang ke kantor wapres. Dia menghampiri Mega yang baru turun dari mobil. "Saya bilang, kena deh kamu," candanya.
Nah, Megawati membutuhkan Bambang untuk memperbaiki keadaan di Kantor Wapres. Kala itu, kata Megawati, kondisinya tidak terlalu bagus. Sembari berjalan, Bambang dan Megawati terlibat percakapan. "Kalau saya panggil mas, itu berarti urusan pribadi. Kalau misalnya saya panggil ses berarti urusan Republik," ucap dia menirukan dialognya dengan Bambang saat itu.
Lantas Bambang membuat surat yang ditujukan kepada Presiden Gus Dur kala itu. Megawati pun kagum dengan surat yang dibuat Bambang. "Saya teken. Saya bilang keren juga ini orang," ungkapnya.
Hari terus berjalan. Megawati naik menjadi presiden. Dia pun menawarkan Bambang untuk ikut lagi bersamanya sebagai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) dan Menteri Sekretaris Kabinet (Menseskab).
Dalam kesempatan launching itu, Megawati juga bercerita tentang menteri lainnya. Salah satunya mantan Menkumham Yusril Ihza Mahendra. "Saya panggil Yusril ini dek. Saya bilang kamu ketua umum PBB, dek jangan bawa urusan partai ke saya. Saya urusan tata negara sama kamu," katanya.
Tidak hanya Yusril. Mantan Menkeu Boediono juga dibacain Megawati. Dia bilang, banyak menteri-menteri mengadu kepadanya soal Boediono kala itu. "Bu, pak Boed susah banget. Ya memang saya bilang menteri harus pelit. Dalam rapat kabinet saya katakan tidak boleh ada menteri saya bilang Republik tidak ada uang. Kan pak Boed tertolong oleh saya," kata Megawati tersenyum sembari melirik Boediono yang duduk di samping Poernomo Yusgiantoro.
Selain Yusril dan Boediono, Megawati Soekarnoputri juga mengenang permintaannya kepada Menteri Pendidikan Malik Fajar kala itu. "Saya bilang kalau bisa IP (indeks prestasi) naikkan menjadi lima," tandas Megawati Soekarnoputri, dalam acara Launching buku "The Brave Lady - Megawati dalam Catatan Kabinet Gotong Royong" tersebut. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

