Advertisement
Peristiwa Nasional

PDM Kota Malang Keluarkan Seruan Keprihatinan Soal Covid-19

Masifnya penyebaran virus Corona (Covid-19), telah mendorong Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Malang (PDM Kota Malang) mengeluarkan seruan keprihatinan.

TIMES Indonesia,
PDM Kota Malang Keluarkan Seruan Keprihatinan Soal Covid-19
Ilustrasi - Bersama Lawan Corona (FOTO: Oky Lukmansyah/antara foto)
A-AA+

MALANG Masifnya penyebaran virus Corona (Covid-19), telah mendorong Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Malang (PDM Kota Malang) mengeluarkan seruan keprihatinan.

Seruan keprihatinan itu disampaikan Ketua PDM Kota Malang, KH DR. Abdul Haris, MA, Selasa (31/3/2020) kepada seluruh Keluarga Besar Muhammadiyah dan kaum Muslimin-Muslimat di Malang Raya.

Advertisement

Ia menulis panjang lebar tentang latar belakang keprihatinannya itu dan mengajak semua pihak untuk berhenti berdebat tentang fatwa. "Sebab itu hanya akan menunjukkan kebodohan kita kalau kita ini bukan ahlinya," katanya.

Saat ini, kata Abdul Haris yang dibutuhkan adalah kecerdasan untuk memilih fatwa yang tepat dan bertindak secara tepat, menumbuhkan kesalehan sosial kita, membangkitkan empati kita kepada mereka yang berhadapan langsung dengan virus ini.

Dikatakan, Covid-19 semakin hari semakin menyebar dan belum menunjukkan gejala penurunan. Kondisi semacam ini, kata dia, tentu memberikan dampak yang sangat besar secara fisik, psikis, sosial, ekonomi, dan kegiatan keberagamaan.

Korban yang terkena virus inipun semakin bertambah, yang meninggalpun semakin bertambah. Secara normal daya mematikan virus ini hanya 3 % namun di Indonesia sudah mendekati 10 %. Dalam arti kalau ada 100 orang yang terkena, kemungkinan 10 orang diantaranya akan meninggal.

"Memang semua ini takdir Allah yang membutuhkan penyikapan yang tepat dan benar agar kita tidak salah cara ber-Islam kita," tandasnya.

Advertisement

Menurutnya, saat ini tidak perlu lagi  berdebat tentang pandangan Islam menyikapi persoalan ini.

Sebab para ulama yang kompeten sudah mengeluarkan fatwanya dengan jelas, MUI pun sudah memberikan fatwa yang jelas, PP Muhammadiyah, PWM Jawa Timur, PDM, Pemerintah Pusat sampai Daerah juga sudah memberikan maklumat dan aturan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.

Mungkin karena kita tidak berhadapan langsung dengan virus ini, sehingga memperdebatkan cara mensikapinya, dan tidak menyadari bahayanya jika tidak segera kita pangkas penyebarannya.

Janganlah kita egois, memikirkan kebaikan diri kita tapi tidak peduli dengan penderitaan orang lain. "Tidak ada artinya kita memiiki kesalehan individu akan tetapi tidak memiliki kesalehan sosial," ungkapnya.

Dikatakan, kita mesti menyadari betapa para tenaga medis sudah kewalahan dan kelelahan membantu pasien yang terkena virus ini sebab meskipun virus ini baru mengenai ratusan orang di Malang, tetapi penanganan satu pasien saja membutuhkan perlakuan yang sangat ekstra.

Para tenaga medis sama dengan kita yang ingin selamat dirinya. Mereka juga memiliki keluarga seperti kita. Tegakah kita menghadapkan mereka dengan bahaya-bahaya ini jika kita tidak membantu memangkas penyebaran virus ini.

"Kita juga harus tahu betapa rumah sakit saat ini sudah tidak lagi bisa menyediakan tempat yang standar untuk para pasien. Sehingga semakin banyak yang terkena, semakin banyak pula yang tidak bisa tertangani dengan baik," katanya.

Belum lagi mereka yang meninggal karena virus ini harus diperlakukan secara khusus dan tentu orang yang tidak siap mengurus jenazahnya, akan takut tertular.

Bayangkan jika itu adalah bapak-bapak atau keluarga bapak-bapak. Mari kita melihat pula orang-orang yang ada di sekitar kita yang tidak lagi bisa memperoleh penghidupan karena kondisi ini.

Mereka gelisah tidak memiliki sumber penghidupan lain. Belum lagi dampak lain seperti proses pembelajaran yang amburadul, kondisi psikis yang dihadapi oleh banyak orang karena kondisi yang tidak menentu ini. Tegakah kita membiarkan kondisi seperti ini berlarut-larut?

Virus ini tidak bisa diselesaikan secara parsial dan diserahkan kepada satu pihak saja misalnya pemerintah. Penangan virus ini membutuhkan kesadaran bersama dan kerja bersama karena penyebarluasan virus ini melalui kontak antar manusia.

"Beragama tidak cukup hanya dengan semangat tetapi membutuhkan fikih (pemahaman) yang berlandaskan ilmu," ujarnya.

Jika kita bukan ahlinya, lanjut Abdul Haris, janganlah kita merasa paling bisa. "Mari kita ikuti saja fatwa para ulama yang kompeten, MUI, imbauan dan maklumat PP Muhamamdiyah, PWM, PDM, imbauan dan aturan pemerintah dengan bersama-sama mengisolir diri dan membatasi kegiatan di luar rumah dengan niatan beramal shaleh membantu pemangkasan penyebaran virus ini demi kemaslahatan bersama," jelasnya.

Insya Allah kalau itu niat kita, lanjut dia, Allah akan tetap memberikan pahala kepada kita saat kita tidak bisa lagi beribadah seperti biasanya karena adanya udzur.

Masifnya penyebaran virus Corona (Covid-19), mendorong PDM Kota Malang untuk mengeluarkan seruan keprihatinan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Widodo Irianto
PenulisWidodo IriantoPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia